
Ibu dan Ayah Adrian masuk kedalam rumah, sedangkan Adrian lebih dulu mengantar barang bawaan keluarganya untuk di masukkan kedalam rumah mereka. Setelah itu barulah Adrian menyusul orang tuanya di rumah Hendra.
Teryata orang tuanya serta orang tua Istrinya sedang mengobrol hangat. Tidak ada kecanggungan sama sekali. Hendra dan Andini sadar, kalau orang tua Adrian tidak ada sangkut pautnya dengan kebohongan Adrian.
Seakan akan tidak ada masalah, mereka menjalin hubungan layaknya besan pada umumnya.
Andini mengarahkan netranya kepada Shavia yang tidak ingin jauh dari Nabila. "Dia mirip sekali dengan Adrian. "
"Iya, sedikitpun gen Ibunya tidak menurun padanya. " Jawab Ibu Adrian.
Andini tersenyum melihat kedekatan putrinya dengan putri sambungnya. Meskipun di dalam hatinya terdapat perasaan tidak rela Nabila memiliki suami seorang duda beranak. Tapi Andini dengan cepat membuang perasaannya itu, sebab baginya kebahagiaan Nabila adalah yang paling penting.
Mereka berpamitan untuk beristirahat di rumah Nabila, dan akan makan malam bersama lagi di rumah Hendra.
Ibu Adrian berjalan mengelilingi rumah yang di tinggali Adrian. Dari luarnya saja tampak lebih besar dari kediaman orang tua Adrian.
"Istirahatlah, Bu. Apa Ibu tidak lelah. " Tanya Adrian.
Ibu Adrian langsung membaringkan tubuhnya di ruang tamu bersama dengan Adnan dan Ayah Adrian. Sedangkan Verry dan Shavia masih berada di rumah Hendra bermain dengan Yuda adik Nabila.
"Rumah ini kalian bangun sendiri atau di bangunkan mertuamu. " Tanya Ibu Adrian sambil melihat ke sekeliling.
__ADS_1
"Di bangunkan sama mertua Adrian, Bu. Kami hanya membeli perabotannya saja. "
"Adrian mana bisa bangun rumah secepat ini. "
"Baik ya mertuamu itu. Kalian di kasih rumah. " Gumam Ibu Adrian.
Ibu tidak tahu saja, alasan Papa membangun rumah ini agar Nabila tidak jauh jauh darinya. Adrian.
Padahal Adrian sudah memiliki rencana untuk menyewa rumah yang letaknya agak jauh dari kediaman Hendra.
.........
Malam hari tiba. "Ayah, Ibu, ayo semuanya kita ke rumah sebelah buat makan malam. " Nabila baru saja selesai menyiapkan makan malam bersama Andini di rumah.
"Saya sudah bertunangan, Pak. Tahun depan baru menikah. " Jawab Adnan seraya mengangkat tangan kirinya yang berisi cincin di jari manis.
"Kamu baru mau menikah, sedangkan Adrian sudah mau memiliki dua anak. "
"Keduluan Adrian kamu. " Lanjut Hendra.
"Jodoh saya baru sampai, Pak. Mau bagaimana lagi. " Adnan tersenyum.
__ADS_1
Usai makan malam mereka masih melanjutkan obrolan mereka di ruang keluarga hingga jam sepuluh malam barulah mereka kembali ke rumah Nabila.
"Kak, bawakan kasur untuk tidur. "
"Minta bantuan Kak Adnan juga. " Nabila langsung masuk kedalam kamar yang dulu mereka tempati, kini kamar itu sudah kosong.
Adrian membawa kasur yang berukuran besar, sedangkan Adnan membawa yang berukuran lebih kecil.
Kasur langsung di letakkan di ruang tamu di rumah Nabila, karena Nabila belum membeli sofa makanya ruang tamu itu masih luas.
Ayah, Ibu, serta Adnan tidur di ruang tamu, sedangkan Adrian, Nabila, dan Shavia tidur di kamar. Kalau Verry justru menginap di rumah Hendra dan tidur bersama Yuda karna mereka sudah akrab mulai tadi sore.
Semua orang mulai memejamkan matanya untuk menyelami mimpinya masing masing.
Jangan lupa kasih like nya yaa...
.
.
.
__ADS_1
.
.