
Baru beberapa langkah Adrian berjalan, Ibu Adrian langsung terbangun karna mendengar suara lantai yang berdecit. Ibu Adrian mengarahkan pandangannya ke arah Adrian. Sedangkan Adrian dengan santai nya terus bejalan melalui sang Ibu setelah memberikan senyuman singkat kepada Ibu yang menatapnya.
Untung saja aku tadi tidak jadi menyusul Kak Adrian keluar, kalau tidak aku pasti akan membangunkan Ibu yang sedang tidur. Batin Nabila.
Adrian membaringkan tubuhnya di samping Nabila. Sekarang Nabila berada di tengah, dengan sebelah kanan di isi oleh Shavia, dan di sebelah kiri di isi oleh Papa Shavia, Adrian.
__ADS_1
Adrian mengusap kepala Nabila. "Tidurlah, kau terbiasa tidur siangkan. Kalau tidak tidur nanti kepalamu sakit. "
Nabila tersenyum dan mengangguk. Mencoba memejamkan matanya walaupun terasa agak sulit. Tanpa mereka sadari Ibu Adrian sedari tadi memandangi mereka sambil tersenyum masam melihat perhatian yang Adrian berikan kepada Nabila.
Setelah hampir satu jam Nabila memejamkan matanya barulah Nabila bisa menyelami alam mimpinya. Perasaan Nabila baru sekejap dia tertidur kini suara Adzan sudah berkumandang membangunkannya dari tidur siangnya yang teramat singkat. Lebih lama memejamkan mata ketimbang tidurnya.
__ADS_1
Tiba tiba suara Adrian mengagetkannya. "Cuci muka sana, baru setelah itu kita jalan jalan. " Nabila mengusap dadanya. Lalu bergegas ke arah dapur dengan membawa sabun mukanya untuk membersihkan wajahnya. Nabila memasuki ruangan kecil yang tadi siang di katakan kamar mandi oleh Ayah Adrian. Benar seperti dugaan awal Nabila, luasnya hanya satu koma lima meter persegi. Di dalamnya terletak satu buah kran, satu buah baskom besar sebagai tempat penampungan air dan satu buah teko kecil bekas terbuat dari bahan plastik untuk mengguyur air ketubuh.
Yang masih Nabila pikirkan ialah bagaimana caranya untuk dia mandi atau buang air kecil kalau kamar mandinya hanya di tutupi tirai saja di bagian pintunya. Bagaimana kalau tiba tiba tirai di terpa angin. Bisa bisa orang lain melihatnya sedang mandi yang tidak menggunakan apa pun.
Dengan cepat Nabila membersihkan wajahnya, lalu kembali ke luar untuk merias wajahnya sedikit. Adrian sudah menunggu Nabila di teras rumah. Saat mereka sudah menaiki motor dan ingin menjalankannya, tiba tiba saja Shavia berlari sambil berteriak. "Papa, Via ikut. " Nabila turun, menyuruh Adrian mematikan motor yang tadi telah di starter Adrian.
__ADS_1
Adrian tak menuruti perintah Nabila. Justru Adrian menyuruh Nabila kembali naik ke atas motor. "Sudahlah, cepat naik. Nanti ada Ibu yang bujuk Via. Ini sudah biasa. " Ucap Adrian. "Gak enak, Kak. Diliatin orang banyak, kasian jugakan Via mau ikut malah di tinggal. Udah ah, bawa aja. " Bujuk Nabila. Nabila merasa kasihan saat Adrian mengatakan ini sudah biasa. Berarti Adrian sering melakukan hal serupa. Meninggalkan Shavia yang menangis karna ingin ikut dengannya.
Dengan terpaksa Adrian mengizinkan Shavia ikut. "Cuci muka sana, sama ingus juga tu di bersihkan sekalian. " Seru Adrian kepada Shavia. Nabila mengikuti Shavia berjalan ke arah samping rumah di mana di sana terletak satu buah kran. Shavia mencuci mukanya untuk membersihkannya dari sisa air mata yang tadi mengalir, tak lupa Shavia juga mengeluarkan ingus yang berada di hidungnya. Barulah mereka berdua menaiki motor dengan posisi Shavia yang berdiri di depan Adrian.