
Ini adalah kali pertama Adrian membawa Shavia jalan jalan. Selama ini Adrian selalu meninggalkan Shavia dan Bila tanpa perduli Shavia yang memang sering menangisinya.
Ada sedikit perasaan senang yang menghinggapi hati Ibu Adrian tatkala sia menyaksikan pemandangan di depan matanya. Dimana selama ini tidak ada yang berhasil mendekatkan Adrian dan Shavia, namun Nabila mendekatkan mereka dengan mudah. Namun dengan cepat Ibu Adrian menepis perasaan yang hinggap tersebut. Tetap pada penilaian awal, tidak ada wanita baik baik yang mau menikahi suami orang lain. Itulah yang selalu Ibu Adrian tanamkan di hatinya.
Nabila merasa Adrian benar benar keterlaluan. Tidak pernah terpikirkan oleh Nabila sisi Adrian yang seperti ini. Sungguh, ini merupakan pemandangan yang amat menyedihkan. Di mana seorang anak yang menangis keras karna ingin ikut sang Papa, tapi sang Papa malah dengan sengaja ingin meninggalkannya.
Tiba tiba pikiran Nabila berterbangan, apa kelak jika mereka memiliki anak Adrian akan memperlakukannya sama seperti perlakuannya kepada Shavia. Dengan cepat Nabila menggelengkan kepalanya. Tidak, tidak akan ku biarkan kau seperti ini pada anak kita kelak, Kak. Melihat Shavia saja aku kasihan, apa lagi kalau anakku sendiri yang berada di posisi Shavia. Kak Bila, sungguh besar pengorbananmu untuk bersama Kak Adrian. Bahkan ini baru hal kecil, bukti yang Tuhan perlihatkan padaku perjuanganmu selama ini.
__ADS_1
Sepanjang perjalan Nabila bungkam. Tak perduli Adrian yang sudah berkali kali mengudarakan namanya. Nabila masih kecewa dengan sikap Adrian terhadap Shavia. Mungkin setelah ini Nabila akan memberikan nasehat kepada Adrian untuk merubah sikapnya kepada Shavia. Apa lagi yang Nabila lihat Shavia anak yang manis juga penurut.
Kini tibalah mereka di sebuah taman, Adrian memarkirkan motornya dan menggenggam tangan Nabila."Ayo kita jalan. " Nabila tersenyum, perlahan melepaskan tangan Adrian yang menggenggamnya. "Aku bisa jalan sendiri, Kak. Yang harusnya Kakak gandeng itu Via. " Seraya menyatukan tangan seorang Ayah kepada anaknya. Adrian tersenyum kecut, mengajak serta Shavia untuk jalan jalan saja ini yang pertama, begitu pula menggandengnya.
Akhirnya Adrian memutuskan untuk menggandeng kedua wanita yang di bawanya. Dengan Shavia di sebelah kanan, dan Nabila di sebelah kiri. "Nah, kalau begini kan enak, Kak. " Di balas oleh Adrian dengan membuang mukanya ke arah lain. "Via, mainnya jangan jauh jauh, ya. " Pinta Nabila saat Shavia meminta ijin ingin bermain bersama anak anak seusianya yang lain.
"Tentu saja. "
__ADS_1
"Kalau dia putrimu kenapa kau memperlakukannya layaknya dia orang lain, Kak. " Tanya Nabila.
Adrian bungkam untuk beberapa saat. Menghela nafas panjang, barulah bicara. "Aku masih belum terbiasa dengan kehadirannya. "
"Kalau begitu biasakanlah, Kak. Jika Kakak ingin memiliki anak denganku, maka buktikan terlebih dahulu kalau Kakak bisa menjadi seorang Ayah yang layak. "
Bukan tanpa alasan Nabila berkata seperti itu. Nabila begitu miris melihat hubungan antara anak dan ayah yang satu ini. Untuk hal ini Adrian memang pantas di salahkan. Karna Nabila tumbuh dengan berlimpah kasih sayang dari orang tuanya membuatnya iba pada Shavia yang sekalipun tak pernah mendapat cinta kasih dari Adrian.
__ADS_1
"Baiklah, aku akan membiasakannya. " Menggenggam erat tangan wanita yang membawa banyak perubahan di dalam hidupnya ini.