
Adrian POV
Biasanya Ibu selalu menyambut ku dengan sebuah pelukan, namun tidak untuk kali ini. Tidak apa apa, asalkan Ibu tidak melebihi batasannya aku bisa mengerti. "Masuklah. " Ibu bicara dengan ketus. Seandainya tidak ada Nabila aku ingin sekali menggoda Ibu. Ku perhatikan Nabila mulai merasa tidak nyaman. Aku mempercepat gerakan ku memasukkan semua barang barang yang kami bawa ke dalam rumah.
Aku masuk kedalam rumah, "Duduklah. " Pintaku padanya. Dia patuh duduk lesehan sambil melihat sekelilingnya. Ku tinggalkan dia dan menemui Ibu di dapur. Ku buka Tidung saji yang terletak di tengah tengah meja makan. Ternyata sudah banyak masakan yang Ibu masak. Ibu memang begitu, sedikit lebih mengunggulkan ku di banding Kak Adnan atau Verry. Mungkin karna aku lebih jarang tinggal dengannya, jadi ketika aku pulang Ibu selalu menganggap itu moment yang berharga.
"Bu. " Ku usap punggung Ibu yang sedang membelakangiku. " Ibu tidak bergeming. "Ibu marah. " Tanyaku lagi. Tapi Ibu tetap diam.
Kudengar suara Via mengudara. Sudah ku pastikan Nabila pasti mengenalinya saat melihat wajahnya.
Via menyesulku ke dapur. Lalu dia ku ajak keluar untuk berkenalan dengan Nabila. Belum selesai aku bicara kepada Nabila, Nabila sudah memotong ucapan ku. Dan langsung di seru oleh Via dengan kalimat yang lumayan membuatku tidak nyaman. " Namanya sama kaya Mamaku ya. " Apa apaan anak ini, batinku. Kulihat Nabila tersenyum kecut mendengar ucapan Via. Semoga saja Nabila tidak mengambil hati ucapan Via, itu yang kuharapkan. Aku mengangguk, membenarkan apa yang Via katakan. Ternyata Nabila juga mengangguk.
__ADS_1
Author POV
Adrian masuk ke sebuah ruangan yang semula di kira Nabila kamar. Keluar dari sana dengan membawa dua bantal di tangannya.
Benar, itu kamar. Batin Nabila.
"Istirahatlah, kamu pasti lelah. " Memberikan satu bantal kepada Nabila, dan satu lagi untuknya. Nabila membaringkan tubuhnya di lantai yang terbuat dari kayu yang di alasi dengan tiker plastik yang tipis. "Mau pakai kasur. " Tanya Adrian. "Eh, gak kok. " Gelagapan Nabila menjawab. Takut Adrian merasa tersinggung.
Nabila berinisiatif pergi ke dapur, barang kali ada yang bisa di bantunya. Terlihat Ibu Adrian sedang menggoreng ikan. Nabila mendekatinya.
"Ada yang bisa ku bantu, Bu. " Tanya Nabila sambil di bumbui dengan senyuman. "Ini. " Hanya itu yabg di ucapkan oleh Ibu Adrian sambil mengulurkan sebuah spatula kepada Nabila. Nabila menyambut spatula dari tangan Ibu Adrian, sedangkan Ibu Adrian langsung berjalan ke arah meja makan sambil menyusun piring.
__ADS_1
Nabila terkejut, saat tiba tiba Ayah Adrian keluar dari balik salah satu tirai yang berada di dekatnya. Ternyata itu adalah kamar mandi, Ayah Adrian tersenyum membalas keterkejutan Nabila melihatnya. "Ini kamar mandi. " Menunjuk ruangan kecil yang di tutup dengan tirai. "kalau ini wc. " Kembali menunjuk sebuah ruangan yang luasnya sekitar satu setengah meter yang sama luasnya dengan kamar mandi. Masih sama pula hanya bagian pintunya diletakkan tirai menggantung.
Nabila hanya mengangguk. Bagaimana caraku mandi kalau tidak ada pintunya. Hanya tirai sebagai penutupnya. Kalau kena angin pasti melayangkan. Sepanjang menggoreng ikan hanya itu yang Nabila pikirkan. Karna Nabila tidak biasa mandi menggunakan pakaian, seperti tidak bersih menurutnya karna tidak bisa menggosok tubuhnya secara leluasa.
.
.
.
.
__ADS_1
.