
Author POV
Hanya perlu menunggu lima belas menit kini Adrian sudah rapi. "Kita nganter Via dulu, baru ke pasar. " Pinta Nabila. Nabila mendekati Via dan mengulurkan tangannya kepada Via. "Ayo Via, kita berangkat sekarang. " Via menyambut uluran tangan Nabila dengan senang. Mereka mengendarai motor yang sama, hal yang selama ini belum pernah Via rasakan saat dia masih tinggal bersama Mamanya.
Sepanjang jalan Via terus bercerita hingga membuat Nabila tidak berhenti tersenyum mendengar cerita Via yang lucu. Adrian pun ikut tersenyum melihat kedekatan Nabila dengan putrinya yang melebihi dirinya sendiri.
Hingga tidak terasa kini mereka sudah sampai di area sekolah Via. "Mama, antar Via sampai di kelas, ya. " Pinta Via. Saat di rumah Adrian sudah mengatakan kepada Via. 'Kalau ada yang nanya siapa, Via jawab saja Mama. ' Maka dari itu kini Via memanggil Nabila dengan sebutan Mama.
Nabila turut senang mendengarnya. "Ayo Kak, kita antar Via. "
"Kamu aja sana, aku nunggu di sini aja. " Tolak Adrian.
"Aku malu sendiri. Temenin ya, biar orang tau aku ini siapa. " Memelas kepada Adrian.
"Baiklah. " Dengan cepat Adrian merangkul Nabila. Agar semua orang tahu kalau dia sudah menikah, dan wanita di sampingnya kini adalah Ibu sambung putrinya.
Sesampainya di kelas Via, Via langsung meletakkan tasnya. "Mama sama Papa pergi dulu ya, nanti di jemput lagi. "
"Iya, Ma. "
__ADS_1
Nabila dan Adrian meninggalkan sekolah Via dan melanjutkan perjalan ke pasar untuk membeli sayur serta ikan untuk di masak hari ini.
Saat kelas sudah di mulai, Via mendekati Guru yang biasanya mengantarnya pulang. "Bu Guru, hari ini Via pulangnya di jemput Mama sama Papa. "
"Yang benar. " Seru Si Ibu Guru.
.
.
.
"Kita pulang dulu ke rumah, Kak. Nanti kita jemput Via jam sepuluh. " Adrian melajukan motornya pulang. Sesampainya dirumah Nabila langsung membersihkan ikan yang tadi dia beli, dan mulai memasak.
Sedangkan Adrian kembali duduk di pos ronda sambil bermain ponsel. Kini Adrian sudah tidak sendiri, dia di temani Damar, suami Rika yang kebetulan dapat shift kerja malam.
"Istrimu asli mana Ad. " Tanya Damar.
"Asli Kabupaten XX. " Jawab Adrian santai.
__ADS_1
"Wah, pedalaman dong. " Canda Damar.
"Gak dalam dalam amat, kok. "
"Sekarang masih main bola gak. " Kembali tanya Damar.
"Masih, tapi udah jarang latihan, capek. Pagi gue mesti nyadap karet. " Jawab Adrian.
Hingga sebuah pesan masuk di handphone Adrian. Sudah jam sepuluh, Kak. Ayo kita jemput Via dulu. Setelah ituaku mau lanjutin masak lagi.
Ternyata pesan itu berasal dari Nabila. Nabila malu kalau harus mengganggu secara langsung obrolan Adrian dengan temannya itu.
"Gue mau jemput Via dulu bentar, ya. " Pamit Adrian kepada Damar.
"Tumben loe. " Gelak Damar.
"Emang gue kaya elo gak pernah jemput anak sekolah. " Balas Adrian. Padahal kalau tidak di suruh Nabila mana mungkin Adrian sampai seperti ini.
"Gue emang gak pernah jemput anak pulang sekolah, tapi gue gak kaya elo juga kali tega ninggalin anak sampai berbulan bulan. " Damar semakin tidak mau kalah dari Adrian.
__ADS_1
Adrian yang sadar diri pun lebih memilih pergi menjemput Shavia dari pada terus berdebat dengan Damar, sudah dapat di pastikan kalau akhirnya Adrianlah yang akan terpojok.