Ternyata Aku Istri Kedua

Ternyata Aku Istri Kedua
Bab 35


__ADS_3

"Mas Adrian. Aku tidak akan membiarkan kalian berseneng senang di atas penderitaan ku. Aku akan membuatnya membencimu Mas. Agar kita sama sama tidak bisa berbahagia. "


"Kau taukan kalau aku tidak pernah menginginkan mu. Sedari awal kau sudah mengetahuinya. Kenapa kau masih mau bertahan sejauh ini. "


"Dan kau pun tau, Mas. Kalau sedari dulu aku hanya menginginkan mu. "


"Hentikan obsesi gilamu itu, Bila. Sampai kapan pun itu tidak akan pernah terjadi. "


"Kalau aku tidak bisa memilikimu, maka dia pun juga tidak akan bisa memilikimu. Adil bukan, Mas "


"Kamu sudah tidak waras. Jangan pernah kamu berani berani mengusik kehidupanku. "


Terdengar suara tawa yang bercampur isak tangis.


"Kalian tidak akan bisa berbahagia, Mas. Karna aku akan membuat kalian menderita. "


"Jangan bermimpi. "


Adrian langsung terbangun dari tidurnya. Mengamati keadaan disekitarnya. Nafasnya terengah engah, dadanya bergemuruh.


Ternyata hanya mimpi.


Ternyata sedari tadi Adrian terlelap dipangkuan Nabila. Tanpa memindahkan kepala Adrian Nabila menyandarkan tubuhnya di sandaran sofa dan menuju ke alam mimpinya sendiri.


Tiba tiba Adrian dihantui perasaan was was. Semoga saja apa yang dia pikirkan tidak akan menjadi kenyataan.

__ADS_1


Sambil mengusap pipi Nabila Adrian memikirkan apa yang harus ia lakukan untuk kedepannya. Tidak akan memungkinkan jika selamanya dia akan merahasiakan hal besar ini dari Nabila. Tetapi, untuk mengatakan kebenarannya pun terasa berat bagi Adrian.


Adrian takut. Kebahagiaan yang baru dia rasakan akan lenyap seketika tatkala Adrian mengatakan kebenarannya kepada Nabila. Sudah dapat Adrian pastikan, kalau Nabila pasti sangat kecewa padanya.


"Nabila. " Sambil memencet mencet hidung Nabila yang pesek.


Nabila menepis tangan Adrian karna merasa tidurnya terganggu. "Ayo bangun, kita tidur dikamar. " Ajak Adrian.


Nabila mulai menggeliat. "Tidak ada romantis romantis nya. Harusnya tu ya aku itu Kakak gendong sampai kamar. Gak perlu dibangunin juga kali. Dasar gak peka. " Gerutu Nabila.


Sedangkan Adrian hanya terkekeh mendengar gerutuan Nabila. "Maaf, aku gak kepikiran sampai kesana. "


Nabila mendengus sambil berjalan terlebih dahulu ke arah kamar meninggalkan Adrian yang masih berada diruang keluarga.


Baru saja Adrian ingin menyusul Nabila terdengar suara ketukan pintu yang ternyata diketuk oleh Andini.


Adrian langsung membukakn pintu untuk Andini. "Maaf ya, Adrian. Mama ganggu waktu tidur kamu. "


"Gak kok, Ma. Adrian sekalian dari kamar mandi tadi. " Dustanya.


"Oh. "


"Adrian pamit ke kamar ya, Ma. "


"Iya. "

__ADS_1


Adrian meninggalkan Andini yang sedang menuntun sang Adik ipar ke kamarnya.


Ceklek.


Adrian membuka pintu kamar mereka. Pandangannya langsung mengarah ke tempat tidur, di mana Nabila terbaring. Adrian mengunci pintu kamar dan bergabung dengan Nabila di tempat tidur. Nabila tidur dengan posisi membelakangi Adrian. Adrian memeluknya dari belakang dengan tangan yang diletakkannya di dada Nabila. Adrian mulai memainkan benda yang sedang berada digenggaman tangannya. Hal itu tentu saja begitu mengganggu Nabila.


Ditepisnya tangan Adrian. "Berhenti, Kak. Aku sangat mengantuk. "


"Kalau ngantuk ya tidur sana. Aku gak ngelang kok. " Gelak Adrian.


"Gimana mau tidur kalau tangan Kakak gak bisa diam. " Sembari manarik tangan Adrian keluar dari balik bajunya.


Yang disuruh diamkan tanganku.


"Iya iya, tanganku diam. " Baru saja Nabila memejamkan matanya kembali. Rasa geli kembali muncul karena bibir Adrian mengecup lehernya dibagian belakang.


"Kakak!!!


.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2