
Bila POV
Sudah lama aku tidak bertemu dengan putriku. Tidak perlu ditanya, apa aku merindukannya atau tidak. Mana ada seorang Ibu yang tidak merindukan putri yang selama lima tahun ini selalu ada di pandangan matanya.
Akan tetapi rasa sakit hati yang kurasakan jauh lebih besar di bandingkan rasa rinduku kepada putriku sendiri.
Masih jelas di ingatanku bagaimana aku membesarkan Via selama lima tahun ini. Semua ku lewati sendiri, benar benar sendiri. Semua keluargaku menentang pernikahan ku dengan Adrian, tentu saja karna mereka semua mengenal betul bagaimana perangai Adrian.
__ADS_1
Semenjak aku menikahinya, aku dan keluargaku mulai memiliki batasan. Ibu dan Ayahku membiarkanku berjuang sendirian. Bukan karna mereka tidak menyayangi ku, tapi mereka menjauhiku agar aku meninggalkan Adrian. Tapi usaha mereka tak kunjung membuahkan hasil.
Bahkan masih dapat ku ingat dengan jelas detik detik menjelang persalinan ku, aku sendirian. Adrian seperti biasa, pergi merantau entah ke mana. Beruntungnya rumahku bersebelahan dengan rumah seorang Bidan, sehingga hal itu memudahkan ku.
Saat aku merasakan kontraksi untuk pertama kalinya, aku berusaha untuk tenang. Semakin lama rasa sakitnya semakin menjadi, setelah hampir dua jam merasakan kontraksi aku merasa sebuah cairan hangat keluar dari area kewanitaanku. Saat itu aku tengah berbaring, dengan perlahan aku bangkit, mengganti pakaianku yang basah karna terkena air ketuban. Dengan hati hati aku berjalan kerumah Bidan yang jaraknya hanya empat meter dari rumahku. Untunglah jam sudah menunjukkan pukul sebelas malam, sehingga tidak ada satu orang pun yang melihatku berjalan tertatih tatih dengan keadaan yang sangat menyedihkan.
"Air ketubannya sudah pecah lima belas menit yang lalu. " Ucapku kepada Bidan. Bidan mengangguk, mulai memeriksa detak jantung anakku. Setelah itu barulah Bidan memasangkan infus ditanganku.
__ADS_1
Bidan menyuruhku untuk berbaring menghadap ke sebelah kiri, agar si bayi cepat turun ke bawah. Kontraksi demi kontraksi ku rasakan, sakit yang semakin lama semakin menjadi. setelah cukup lama barulah aku mulai di suruh mengejan.
Tidak ada tangan yang bisa ku genggam, tidak ada yang mencium wajahku dengan penuh kasih sayang, yang kudengar hanya suara dari Bidan yang terus memberiku semangat untuk mengejan.
Dengan kekuatan penuh aku mengejan dengan kuat, terdengar suara bidan mengucapkan syukur sembari mengangkat bayi yang langsung di letakkan di atas perutku yang sudah mengecil. Dengan cepat Ibu bidan memotong tali pusarnya, Lalu melakukan IMD.
Setelah tubuhku beserta tubuh anakku di bersihkan, Ibu bidan memberikanku sepiring nasi dengan telur bebek rebus yang di lumuri dengan kecap manis, juga secangkir teh panas. Tidak ada sosok suami yang menyuapiku makan di saat tangan kananku dengan di infus. Dengan pelan aku makan menggunakan tangan kiriku, akan sangat memalukan kalau aku minta suapi oleh si Ibu.
__ADS_1
Satu botol infus sudah habis. Bidan kini tengah melepas jarum infus yang bersemayam di tangan kananku. Kini selesai sudah tanggung jawab Ibu bidan. Dia mengantar ku pulang hingga aku sampai di kamarku. "Bu, bila. Saya pulang dulu. Besok pagi saya datang lagi untuk memandikan si kecil. " Aku tersenyum. "Semuanya berapa, Bu. "