Ternyata Aku Istri Kedua

Ternyata Aku Istri Kedua
Bab 98


__ADS_3

Adrian kini menatap nanar ke arah Nabila yang kini sudah mengandung kembali saat Fa'iz sudah berusia lima tahun.


Waktu berlalu begitu cepat. Kandungan Nabila sudah memasuki usia sembilan bulan. Kehamilannya kali ini terbilang cukup sulit.


"Kak, tolong bantu bangun. Aku mau ke toilet. " Pinta Nabila yang sedang berbaring.


Ya, sudah satu minggu ini Nabila tidak bisa bangun dan berbaring sendiri. Semua itu harus di bantu oleh Adrian. Jika tubuhnya sudah di bangunkan dari posisi berbaring, barulah Nabila bisa berangkat berdiri sendiri.


Bagi Adrian itu tidaklah masalah. Toh hanya membaringkan serta membangunkan saja. Sedangkan yang lain Nabila masih bisa mengerjakannya sendiri.


"Ini sudah sore loh, Kak. "


"Jemput Fa'iz. "


Sekarang Fa'iz sudah bisa bermain sendiri sambil sesekali di awasi Adrian. Perlu waktu berhari hari untuk mengajari Fa'iz nyeberang jalan agar tidak membahayakannya juga pengendara yang sedang berlalu lintas.


Fa'iz pun hanya bermain di sekitaran rumah bersama teman teman sebayanya yang lain.


"Fa'iz mana, anak kok di biarin keluyuran sendirian. "


"Kalau nyeberang gak liat liat gimana. "


Gerutu Andini setibanya di kediaman Nabila. Andini merasa was was jika Fa'iz di biarkan bermain tanpa pengawasan.

__ADS_1


"Mama ih. Fa'iz sudah besar, Ma. Sudah sewajarnya jika dia bermain dengan teman teman sebayanya. "


"Lagian sekarang Fa'iz sudah pandai nyeberang jalan. "


"Jadi Mama gak perlu terlalu khawatir. "


"Nabila dan Kak Adrian juga tidak bisa terus terusan mengikuti kemana pun Fa'iz bermain. "


Jelas Nabila panjang lebar kepada Andini yang selalu saja agak cerewet jika menyangkut urusan anak.


"Tetap saja Mama khawatir. " Kekeuh Andini.


"Ma, kok Nabila keluar darah ya kaya menstruasi gitu. Tapi gak sakit sama sekali. " Sedari pagi darah yang keluar tidak juga berhenti.


"Kamu sudah periksa ke bidan. "


"Ya sudah, kamu bersiap siap aja. Nanti habis maghrib kita periksa lagi. "


Sepulangnya Andini Nabila langsung bergegas mandi.


"Kak, ini kok darahnya makin banyak. " Teriak Nabila yang masih berada di kamar mandi.


Setelah Nabila mandi darah yang keluar semakin banyak. Jika tadi hanya berupa tetesan seperti menstruasi, kini darah yang keluar sudah semakin deras.

__ADS_1


Dengan setengah berlari Adrian menyusul Nabila. Adrian terkejut saat melihat lantai yang sudah banyak menampung cairan berwarna merah.


"Apa darahnya tidak bisa di tahan. " Tanya Adrian secara spontan.


"Tidak bisa, Kak. "


"Sakit gak. " Tanya Adrian seraya mengguyur lantai yang memerah.


"Kamu pakai baju dulu. Aku mau ngabarin Mama sama Papa sebentar. "


Nabila langsung berpakaian, baru selesai dia berpakaian kini darah yang keluar sudah tak mampu di bendung oleh pembalut hingga kini darahnya merembes keluar dan menodai celana yang Nabila kenakan.


Hal itu tentu saja membuat Hendra dan Andini tak kalah panik.


Hendra langsung mengambil mobil dan bersiap membawa Nabila ke rumah sakit. Selama di perjalan ke rumah sakit darah itu terus mengalir. Kini wajah Nabila sudah mulai memucat lantaran dia kehilangan darah begitu banyak. Andini terus bertanya. "Beneran tidak sakit ini. "


"Tidak, Ma. " Jawab Nabila.


.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2