
Nabila sedang menanti hari kelahiran bayi yang sedang di kandungnya, karna kini usia kehamilannya sudah memasuki usia sembilan bulan.
Tanpa terasa semuanya berlalu begitu saja. Hingga kini Nabila sudah melahirkan seorang anak laki laki dengan proses persalinan secara normal. Hendra sangat senang karna Nabila memberinya cucu laki laki, begitu pula dengan Adrian.
Tuhan begitu baik pada mereka, mereka semua tak henti hentinya mengucapkan syukur kepada semesta akan semua yang semesta berikan kepada mereka.
Setelah satu malam menginap di rumah sakit kini Nabila sudah di perbolehkan pulang oleh dokter. "Apa tidak sebaiknya kamu menginap di rumah Mama saja untuk sementara waktu. " Tawar Andini saat di perjalanan pulang.
"Tidak usah, Ma. Nanti malah merepotkan Mama. " Tolak Nabila.
"Tidak merepotkan, Mama justru senang kalau kamu mau tinggal sama Mama lagi. "
"Tidak, Ma. Rumah kitakan dekat, Mama bisa setiap saat ke rumah Nabila, kan tinggal nyeberang jalan saja. " Nabila tidak ingin merepotkan Andini. Kalau Nabila tinggal satu rumah dengan Andini sudah dapat Nabila pastikan kalau tidur Andini pasti akan terganggu karna tangisan bayinya.
"Ya, sudah. Nanti biar Mama yang sering sering ke sana. " Andini yang mengalah.
__ADS_1
Setibanya mereka di rumah, kedatangan mereka sudah di sambut oleh para tetangga serta anggota keluarga yang lain. "Sini sama Nenek yaa. " Bibi Hanani langsung mengambil bayi laki laki yang masih tertidur pulas di dekapan Nabila.
"Ini kok gak ada mirip miripnya sih sama kalian berdua. " Tanya Bibi Hanani sambil menelisik wajah bayinya Nabila yang sudah mulai terganggu dari tidurnya.
Nabila dan Adrian tersenyum. "Mirip siapa ini. " Lanjut Bibi Hanani.
Tidak terasa kini hari sudah mulai beranjak gelap. Para tetangga serta keluarga yang lain sudah mulai berpamitan untuk pulang, tinggallah Nabila serta Adrian bersama bayi kecil mereka di rumah.
"Kak, aku mau mandi dulu. Tolong jagain adik ya, dia masih tidur. " Rasanya tubuh Nabila sudah sangat lengket mulai kemarin belum ada terguyur air. Selama hampir dua hari di rumah sakit tubuh Nabila hanya dilap dengan handuk basah.
Arrayan Fa'iz, nama yang Hendra berikan untuk cucu pertamanya itu. Sebenarnya Adrian dan Nabila ingin memberikan nama sendiri untuk putra pertama mereka. Namun Hendra sudah lebih dulu mengatakan kalau dia ingin memberinya nama Arrayan Fa'iz, sehingga mau tidak mau Nabila dan Adrian mengiyakan.
Kini Adrian sedang belajar menjalankan perannya sebagai seorang ayah serta suami. Karna Nabila masih belum bisa bekerja terlalu berat, Adrianlah yang mengerjakan hampir semua pekerjaan Nabila kecuali dalam hal memasak.
Biasanya setiap pagi Nabilalah yang membeli sarapan, kini semuanya sudah berubah. Adrian bangun sebelum adzan subuh berkumandang. Di mulai dari mencuci pakaian, lalu menjemurnya, setelah itu Adrian pergi ke warung untuk membeli nasi bungkus beserta beberapa gorengan. Setelah itu barulah dia pergi ke kebun karet untuk menyadap karet.
__ADS_1
Sedangkan Nabila bangun tidur dia langsung mandi dan sarapan, barulah dia duduk di teras rumah untuk menjemur Fa'iz di temani Andini.
Begitulah hari hari mereka berlalu, Adrian tidak pernah sedikit pun mengeluh karna pekerjaannya yang bertambah. Sepulang dari kebun karet rasa lelah Adrian langsung lenyap tatkala kedatangannya di sambut dengan senyuman Nabila serta Fa'iz yang berada di gendongan Nabila.
Jangan lupa tinggalkan jejak.
.
.
.
.
.
__ADS_1