
Waktu sudah menunjukkan jam tujuh malam. Bila pun tiba di rumah orang tua Adrian bersama dengan sang putri, Via. Seperti biasa, Via akan selalu mencari sang Nenek terlebih dahulu.
"Ughh, cucu Nenek sudah besar. " Sambil menggendong anak berusia lima tahun itu masuk kedalam rumahnya.
"Main sama Kakek dulu, ya. Nenek sama Mama mau nyiapin makan malam dulu. " Pinta Ibu Adrian. Dengan sigap sang Kakek langsung mengajak cucunya bermain.
Ibu Adrian dan Bila menyiapkan makan malam sambil bicara mengenai Adrian. "Bu, Ibu tau gak Mas Adrian itu merantaunya ke mana. " Tanya Bila.
"Kata Adrian sih ke Desa XXXX di kabupaten XXXX. " Jawab Ibu Adrian.
Bila terdiam. Kalau kabupatennya sih aku tahu, tapi kalau desanya aku tidak tahu. Satu kabupatenkan sangat luas.
"Adrian udah jarang banget, Bu pulang ke rumah. Via selalu bertanya kenapa Adrian tidak tinggal bersama kami seperti orang tua teman temannya yang lain. " Keluh, Bila.
"Nanti Ibu akan coba bicara sama Adrian, ya. "
Ketika makanan sudah terhidang di meja makan. Seluruh anggota keluarga langsung dipanggil.
"Si Ibu mah kalau ada Kak Adrian baru masak banyak macamannya. " Ucap Verry, Adik Adrian.
__ADS_1
"Verry, jangan seperti itu. Adriankan sudah jarang tinggal disini, jadi tidak ada salahnya Ibu memperlakukan Adrian seperti ini. " Adnan berusaha memberi pengertian kepada Adik bungsunya tersebut.
"Baiklah, Kak. Yang terpenting kita makan enak malam ini. " Sambil menuangkan nasi beserta lauk pauknya kedalam piring yang berada di hadapannya.
"Kamu mau yang mana, Mas. " Bila berusaha menjalankan perannya sebagai seorang istri yakni melayani suaminya.
Adrian langsung mengambil piring dari tangan Bila. "Aku bisa mengambilnya sendiri. " Bicara dengan ekspresi datarnya.
Mata Bila memanas, Adrian menolak perhatiannya secara terang terangan.
Semuanya makan malam dengan lahap, kecuali Bila. Bila masih memikirkan sikap Adrian yang semakin hari semakin mengabaikannya.
Netra Adrian mengedar. Meneliti setiap ekspresi orang terdekatnya.
Beberapa kali Adrian menarik nafas panjang dan menghembuskannya dengan perlahan, demi mengurangi rasa gugup yang tengah melandanya.
"Yah, Bu. Aku memiliki istri selain Bila. " Ungkap Adrian dengan pandangan yang mengarah kepada sang Ibu.
Syok. Itulah reaksi pertama yang diperlihatkan oleh Ibu Adrian.
__ADS_1
"Bicara apa kamu, Adrian. Jangan mengada ngada. "Sang Ibu setengah membentak. Langsung saja sang Suami menenangkan.
"Ini kenyataan, Bu. Dua minggu yang lalu kami menikah. "
"Kamu membuat Ibu kecewa, Adrian. Jadi untuk itu kamu bekerja keras. Untuk menikah kembali. Jalang mana yang kamu nikahi Adrian. " Tuding sang Ibu.
"Jangan pernah menyebutnya jalang, Bu. Dia wanita baik baik-
"Tidak ada wanita baik yang mau menikahi suami orang lain, Adrian. Kamu jangan membelanya. " Pungkas sang Ibu.
Sedari tadi Bila hanya membisu. Membiarkan Ibu Adrian meluapkan emosinya terlebih dahulu.
Adrian melemah. Selama ini dia selalu bicara tenang kepada sang Ibu. Tapi kali ini Adrian bicara dengan nada yang tinggi lantaran merasa tidak terima karna Nabila dikatakan seorang jalang.
"Duduklah, Bu. Biar Adrian jelaskan. "
Dengan perasaan yang masih berkecamuk sang Ibu duduk kembali.
"Aku mengenalnya sudah lumayan lama, Bu. Dia wanita yang baik. Namanya Nabila-
__ADS_1
"Adrian, sudah Ibu katakan. Tidak ada wanita baik baik yang mau menikah dengan suami orang lain. Nabila, Nabila siapa. Yang Ibu tahu hanya Nabila yang berada di sini. " Mengarahkan netranya ke arah Bila.