Ternyata Aku Istri Kedua

Ternyata Aku Istri Kedua
Numpang Promo


__ADS_3

Luka Untuk Mentari



Sinopsis.


.


.


.


"Kau tahu, kenapa kamu diberi nama Mentari. "


Mentari kecil menggeleng dengan wajah polosnya.


"Karna kami ingin kamu selalu bersinar seperti matahari, sama seperti namamu. "


Mentari selalu teringat dengan kata kata sang Daddy.


Dad, tahukah Daddy. Kalau Daddylah yang membuat sinar mentari itu meredup.


Perpisahan orang tuanya meninggalkan luka yang dalam untuk Mentari yang saat itu baru berusia dua belas tahun.


Sang Daddy terlalu sibuk dengan dunia barunya. Sedangkan sang Mommy terlalu tenggelam dalam dukanya atas penghianatan sang Suami. Sehingga tanpa mereka sadari, mereka sudah mengabaikan Putri kecil mereka yang sejatinya masih memerlukan figur orang tua yang utuh di sisinya.


Tidak hanya sampai disana, Mentari kembali mendapatkan luka disaat usianya mulai dewasa.


Mampukah Mentari menerima setiap luka yang dia dapatkan.


Akankah waktu bisa mengobati luka Mentari.


Atau akan adakah sosok yang membuat Mentari melupakan luka yang sudah dia dapatkan.


.


.


.


Chapter 1 "Mentari"


Di sebuah universitas ternama di ibu kota, tampak seorang gadis berjalan dengan langkah terburu buru. Tanpa peduli dengan keadaan disekitarnya dia tetap melangkah dengan cepat menuju kelasnya. Baru saja Mentari mendaratkan pantatnya disebuah kursi, sang dosen sudah tampak memasuki ruangan untuk mulai mengajar.


"Kau hampir terlambat, Mentari. " Sapa Indri, si gadis culun yang menggunakan kacamata tebal.


Mentari hanya mendengus. Tu anak gak ada bosan bosannya apa tiap hari gue acuhin. Masih juga nyapa. Batin Mentari.


Ya, begitulah Mentari. Jangankan membalas sapaan orang lain. Tersenyum pun Mentari enggan. Mentari di kenal sebagai mahasiswi yang sombong, bukan sombong dengan apa yang dia miliki. Melainkan karna Mentari memiliki sifat acuh dan cenderung mengabaikan orang orang seusianya yang berada disekitarnya.


Sama seperti tadi. Ketika ada mahasiswa atau mahasiswi lain yang menyapanya. Mentari hanya diam dengan tatapan datarnya. Dia selalu membatasi diri untuk tidak berkomunikasi dengan orang sembarangan.


Saat jam kuliah berakhir, Mentari langsung kembali ke apartemennya. Hanya begitu begitu saja kesehariannya, terbilang monoton.

__ADS_1


"Ngapain ya enaknya. Capek jugakan kalau tiap hari kaya ini ini saja. " Keluh Mentari.


Terdengar ponsel Mentari berdering menunjukkan id pemanggil, Stevia.


"Iyaa, Stev. " Jawab Mentari malas.


"Kita jalan yuk, udah lama juga kan kita gak pernah jalan bareng lagi. Kita bisa ngemoll-


"Iya. Bicaramu ini banyak sekali. " Potong Mentari.


"Loe itu selalu saja begitu. Ya udah ah. Gue mau siap siap dulu. " Pamit Stevia. Tanpa menunggu jawaban Mentari, Stevia langsung menutup sambungan telpon mereka.


Stevialah satu satunya teman yang Mentari miliki. Mereka sudah berteman dekat semenjak duduk dibangku sekolah dasar. Jadi Stevia sudah benar benar paham dengan perangai Mentari yang cenderung tertutup.


Mereka dulu tinggal di kompleks perumahan yang sama, bahkan rumah mereka hanya terpisah oleh satu rumah. Mentari pun dulu memiliki sifat yang sama sepertinya. Selalu banyak bicara dan begitu cerewet. Namun, semenjak perpisahan orang tuanya, dia mulai berubah. Mulai menjadi pendiam, irit bicara, juga pemarah. Sikap ramahnya berangsur berubah menjadi sikap acuh cenderung tidak perduli.


Saat dulu di tanya oleh Stevia kenapa Mentari jadi berubah. Mentari hanya menjawab sekenannya 'hanya ingin saja', jawaban yang sama sekali tidak memuaskan Stevia. Setelah itu Stevia tidak pernah lagi mempertanyakan perubahan sikap Mentari. Bagaimana pun Mentari, dia tetaplah temannya. Stevia sadar, tidak semua hal bisa diutarakan dengan mudah.


Waktu sudah menunjukkan pukul empat sore. Terdengar suara bell mengudara di apartemen Mentari. "Itu pasti Stevia. " Sembari melangkah ke arah pintu untuk membukakannya.


"Masih belum siap. " Tanya Stevia saat melihat Mentari masih menggunakan baju rumahannya.


"Ini baru mau mandi, tunggu dua puluh menit. " Meninggalkan Stevia yang sudah mendaratkan pantatnya disebuah sofa.


Stevia melangkahkan kakinya ke arah dapur untuk mengambil minuman yang Mentari simpan di kulkas. Stevia sudah terbiasa di apartemen Mentari, seakan akan berada dirumahnya sendiri.


Tepat setelah dua puluh menit Mentari keluar dari kamarnya. Mentari tetep terlihat cantik meski dengan penampilannya yang sederhana, menggunakan jaket hodie warna hitam yang di padu padakan dengan celana jeans berwarna hitam, sepatu kets putih, serta tak lupa tas punggung berwarna hitam.


Tanpa bicara sepatah katapun Mentari langsung melangkah keluar dari apartemennya. "Mentari, tungguin gue. Lo ih, main pergi gitu aja. Kan gue yang ngajak jalan. Kok malah gue yang di tinggal. " Stevia bicara panjang lebar sambil menyusul Mentari yang sudah lebih dulu meninggalkannya.


Mentari tersenyum kecil saat Stevia sudah berada disisisnya. "Woy, Mentari. Elo senyum. Beneran senyumkan tadi itu. Widih, ternyata kalo lo senyum lo makin keliatan cantik. " Puji Stevia. Mentari memang gadis yang cantik, bahkan tanpa polesan make up pun Mentari sudah terlihat cantik.


"Udah ah, buruan. " Desak Mentari.


"Sabar filmnya masih satu jam lagi baru tayang. " Mereka masuk kedalam mobil Stevia dan mulai melajukannya. Hanya butuh waktu tiga puluh menit mereka sudah sampai di salah mall yang berada di ibu kota.


"Mentari, lo tunggu disana ya, " Sambil menunjuk kursi panjang yang berada dekat bioskop. "Biar gue yang ngantri. " Lanjut Stevia.


Usai membeli tiket Stevia langsung membeli makanan ringan serta minuman untuk menjadi pelengkap mereka menikmati film yang akan ditayangkan. Barulah dia bergabung dengan Mentari. "Ayo, masuk. Lima menit lagi filmnya mulai. " Ajak Mentari sambil mengambil sebagian makanan yang Stevia bawa.


"Kok komedi sih. " Protes Mentari.


"Kan gue yang traktir, jadi suka suka gue dong milih film apa. " Balas Stevia.


Mentari hanya mendengus. Memutar bola matanya jengah. Stevia tersenyum melihat tingkah Mentari.


Mentari, lo tau gak kenapa gue milih film ini, gue tu udah kangen banget sama senyum juga tawa lo. Lo udah kaya orang lain tau gak. Gue ingin kita kaya dulu lagi, ketawa bareng bareng tanpa beban. Ingin rasanya Stevia mengucapkan itu langsung pada Mentari. Tapi Stevia takut, takut Mentari juga akan menjauhinya, seperti Mentari menjauhi teman temannya yang lain.


Gue tau Stev, maksud elo ngajakin gue nonton kaya ginian tu apa. Lo pasti ingin ngajak gue ketawakan. Gue juga pengen kali ketawa bareng bareng lagi. Tapi rasanya kaya beda aja sekarang. Ni mulut kaya susah banget buat di ajak ketawa. Mereka sama sama membatin.


Setiap kali ada adegan lucu Stevia langsung mengarahkan netranya ke arah Mentari, berharap Mentari tertawa, atau paling tidak tersenyum. Tapi sayangnya dia tidak mendapatkannya. Mentari hanya diam dengan muka temboknya. Kadang netranya fokus ke layar, tak jarang pula terlihat tatapan matanya yang kosong.


Disaat banyak orang mengudarakan gelak tawanya. Namun tidak untuk dua orang yang sudah lama bersahabat ini. Mereka seakan akan tenggelam dengan pikiran mereka masing masing.

__ADS_1


Hingga tak terasa film yang ditayangkan pun berakhir. Mereka langsung keluar dari bioskop dan berniat ingin mencari restoran untuk mereka makan malam.


"Hay Stevia. " Sapa seorang laki laki.


"Hay, Josh. " Joshua teman Stevia yang satu universitas dengannya. Terlihat Joshua tidak sendiri, melainkan bersama teman temannya yang lain.


"Lagi nonton juga, ini siapa. " Sambil menatap ke arah Mentari yang sedari tadi hanya diam.


"Oh ini sahabat gue. " Joshua langsung mengulurkan tangannya ke arah Mentari. "Gue Joshua. " Cukup lama Joshua mengulurkan tangannya. Namun sama sekali tak mendapat sambutan dari Mentari.


"Namanya Mentari. Dia orangnya memang gitu. " Ucap Stevia hingga Joshua menarik uluran tangannya.


"Kalian mau kemana. " Tanya Joshua.


"Mau cari makan, kalau kalian. " Tanya Stevia kembali.


"Sama, kita ikut gabung gak masalahkan. "


"Gak masalah kok. " Ucap Stevia, Mentari langsung menyikut perut Stevia sambil berbisik pelan. "Gue gak mau. " Sambil menekuk mukanya.


"Udahlah, siapa tau kita ditraktir, kan lumayan. " Mencoba memberikan alasan sederhana.


"Gue masih sanggup kali bayar makan malam kita. " Muka Mentari semakin ditekuk.


"Ayolah Mentari, kali ini aja, ya. Please. " Stevia memohon dengan wajah sok imutnya.


"Menggelikan. " Jawaban Mentari justru membuat Stevia tertawa.


Mereka sampai disebuah restoran dan mulai memilih menu. Saat semua orang sudah selesai memilih menunya, Stevia bertanya. "Lo pilih yang mana. ". "Samain aja sama elo. " Stevia menggeleng sambil berdecak. "Benar benar irit bicara. " Sambar Josh. Mentari langsung mengarahkan tatapan galaknya ke arah Josh, sedangkan Josh malah tersenyum.


Sembari menunggu makanan mereka dihidangkan, Stevia, Josh, dan teman temannya Josh sibuk membicarakan banyak hal. Hingga Josh mengenalkan teman temannya kepada Stevia dan Mentari. " Stevia, kenalin. Ini Rangga, Divan, dan ini yang paling bocil Bayu, adiknya Rangga. " Memperkenalkan temannya satu persatu. " Dan Ini Stevia teman gue, kita satu universitas. Oh ya, Stevia. Mereka ini teman teman gue sewaktu SMU. Kita semua kuliah di tempat yang berbeda, sedangkan Bayu masih menduduki bangku SMU. " Lanjut Joshua.


"Kenalin juga, ini sahabat gue, namanya Mentari. " Stevia berinisiatif memperkenalkan Mentari kepada teman teman Joshua. Sangat mustahil kalau Mentari mau memperkenalkan dirinya kepada orang orang yang menurutnya asing.


"Loe kuliah di mana, Mentari. " Tanya Divan.


Bukannya menjawab Mentari justru malah membuang mukanya saat pandangannya dengan pandangan Divan bertemu. Seakan akan tidak mendengar apa yang Divan katakan. Stevia yang merasa tidak enak langsung menyenggol kaki Mentari dikolong meja, memberi kode kepada Mentari untuk menjawab pertanyaan dari Divan. Tapi sayangnya setelah Stevia menyenggol kaki Mentari, Mentari justru memelototkan matanya ke arah Stevia.


Stevia langsung tersenyum kikuk ke arah Mentari juga Divan. Mentari memilih menyibukkan diri dengan ponselnya. Sedangkan Stevia tetap saja membicarakan banyak hal dengan Joshua dan teman temannya. Secara tiba tiba sebuah chat masuk di ponsel Joshua. "Josh, jangan diambil hati atas sikap yang Mentari tunjukkan ya. Dia orangnya memang begitu. Tapi sebebenarnya baik kok. Katakan sama temen lo ya. Gue jadi gak enak. " Chat itu berasal dari Stevia yang duduk dihadapannya.


"Santai aja, gue ngerti. Gak usah pakai acara gak enak segala. " Sambil melemparkan senyum kearah Stevia, yang di balas Stevia dengan anggukan.


Saat makanan Mentari sudah habis, Mentari langsung mengajak Stevia pulang karna hari sudah mulai larut. Diperjalanan pulang Mentari hanya membisu sambil mengarahkan wajahnya ke arah jendela mobil.


.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2