
.
.
.
Masih Tentang Kenangan
.
.
.
Daniel mengambil alat tulis itu, lalu meminta pegawai toko untuk membungkusnya dengan bungkusan bergambar strawberry pula. Usai di bungkus Daniel langsung membayarnya, lalu melangkah ke arah toko yang menjual alat lukis untuk menyusul Sebastian, Almira, juga Mentari.
"Ini hadiah untuk Dedeku yang paling pandai memaksa. " Sembari mengarahkan hadiah yang tadi dibelinya.
Mentari menerimanya dengan pandangan yang berbinar. " Terima kasih, Kakak. " Memberikan pelukan untuk laki laki cinta keduanya setelah Sebastian. Dibalas Daniel dengan usapan lembut di pucuk kepala Mentari. Meskipun Daniel terlihat cuek kepada Mentari, tapi Daniel sangat menyayangi Mentari, bagi Daniel Mentari sama berharganya seperti Almira.
Pemandangan di depan Sebastian membuatnya menghangat. Sebastian meraih tubuh Almira dan memeluknya. "Terima kasih, Mom. Mommy sudah memberi Daddy anak anak yang hebat. " Tak lupa Almira pun membalas pelukan yang Sebastian berikan.
"Terima kasih juga, Dad. Daddy sudah menjadi Suami serta Ayah yang hebat juga pekerja keras. " Balas Almira. Selama ini Sebastian memang selalu bekerja keras demi membahagiakan keluarga kecil mereka. Bahkan dulu setelah mereka menikah mereka tidak memiliki apa pun. Sebastian benar benar membangun kehidupannya dari nol dengan di temani Almira.
"Sudah selesai bukan belanjanya. Jadi, ayo kita makan malam sebelum pulang. " Ajak Sebastian kepada keluarga kecilnya.
Mereka makan di sebuah gerai makanan cepat saji. Semuanya makan dengan lahap.
Baru saja Mentari mendaratkan pantatnya di dalam mobil, dia langsung memejamkan matanya. Ternyata hari ini cukup melelahkan bagi Mentari.
"Dede tertidur, Dad. Sepertinya Dede capek. "
"Biarkan Dede tidur sebentar, Mom. Perjalanan kita pulang memakan waktu satu jam. Jadi Daddy rasa waktu itu cukup untuk Dede istirahat sejenak. " Almira hanya mengangguk.
__ADS_1
"Besok Kakak liburkan. " Tanya Almira kepada Daniel.
"Iya, Mom. "
" Kakak pulang ke rumah ya. Sudah lamakan Kakak gak nginap di rumah. " Pinta Almira. Daniel mengangguk.
Perjalanan satu jam terasa singkat bagi Mentari karna dia gunakan untuk tidur. Dengan langkah gontai Mentari berjalan menuju kamarnya.
Almira mengantar semua barang yang Mentari beli ke kamarnya. Saat melihat Mentari sudah kembali terlelap di tempat tidurnya. Almira menggeleng.
"Dede, bangun. " Sembari mengusap lengan Mentari. " Mandi sebentar. Habis itu baru tidur lagi. Nanti Dede tidurnya gak enak. "
"Dede ngantuk banget, Mom. " Masih enggan untuk membuka matanya.
"Ayo, bangun. " Almira tidak menyerah. Kini dia mulai mendudukkan tubuh Mentari yang masih memejamkan matanya. "Baiklah, Mom. Dede bangun. " Dengan terpaksa Mentari melangkah ke arah kamar mandi.
Usai mandi Mentari berniat melanjutkan tidurnya yang terjeda. Namun seketika dia merubah niatnya karna teringat dengan hadian yang Daniel berikan untuknya. Mentari langsung mencarinya diantara belanjaannya yang lain. "Nah, dapat. Kira kira isinya apa ya. "
Dengan semangat empat lima Mentari membuka kotak hadiah yang bergambar strawberry itu. Saat dia melihat isinya dia langsung melompat turun dari tempat tidur dan keluar kamar sambil berteriak menuju kamar Daniel. "Kakak Kakak. "
Brakkk.
Ceklek.
Pintu kamar mandi terbuka. Daniel keluar dari sana masih dengan sebuah handuk yang melilit tubuhnya. Terlihat Mentari berlari sembari merentangkan tangannya ke arah Daniel. Bughh, Mentari langsung memeluk Daniel dan menempelkan kepalanya di pusar Daniel.
"I love you, i miss you, and i really love you, Kak. Terima kasih, Dede suka banget sama hadiah yang Kakak berikan. "
"Gak usah berlebihan. " Jawab Daniel dengan santai.
"Kakak ih, Dedekan seneng. " Mentari memanyunkan bibirnya. "Sudah sana tidur. " Mengarahkan tubuh Mentari ke luar dari kamarnya.
Sebenarnya Daniel senang akan respon yang Mentari berikan. Hanya saja dia tidak ingin menjukkannya. Meskipun sikap Daniel agak menyebalkan, Mentari tetap menyayanginya. Akhirnya Mentari memutuskan untuk kembali ke kamarnya dan melanjutkan tidurnya.
Keesokan paginya Mentari terbangun dari tidurnya karna cahaya yang masuk ke dalam kamarnya dan mengenai wajahnya. Setiap pagi ketika hari masih gelap Almira selalu membuka semua gorden yang berada di di kamar Mentari, Daniel, maupun kamarnya sendiri. Tidak tahu untuk apa, mungkin karna terbiasa.
Mentari melirik jam kecil di samping tempat tidurnya. "Baru pukul tujuh. " Mentari meregangkan tubuhnya sambil menguap. Duduk sejenak, mengusap ngusap matanya, barulah beranjak ke kamar mandi.
Semua orang kini sudah terkumpul di meja makan dan memulai aktifitas makannya. Sebastian, Almira dan Mentari sesekali menyelipkan obrolan ringan di sela sela kegiatan makan mereka. Sedangkan Daniel, seperti biasa. Mendengarkan dengan muka temboknya.
__ADS_1
"Apa Kakak sakit gigi, sedari tadi tidak mengeluarkan sepatah kata pun. " Tanya Sebastian. Langsung di jawab oleh Daniel. "Tidak, Dad. " Terdengar Mereka tertawa.
Apa sih yang mereka tertawakan. Sebenarnya sama sekali tidak lucu. Daniel Membatin.
Hari ini adalah weekend, sekaligus libur panjang untuk Mentari dan Daniel. Seperti biasa, moment weekend selalu menjadi family time bagi mereka, dimana Sebastian selalu meluangkan waktunya untuk keluarga tercinta.
Saat ini Almira sedang bersantai bersama Sebastian, terlihat sepasang anak laki laki dan perempuan seusia Mentari berjalan beriringan ke arahnya. "Hay Bibi, di mana Mentari. Tadi dia menelpon, meminta kami untuk datang. "
"Hai Stevia, hai Willi, Mentari ada di dalam. Tunggulah biar Bibi panggilkan. Duduklah dulu. " Meninggalkan dua anak itu bersama Sebastian.
Tak berselang lama tampak Mentari datang dengan membawa alat lukisnya. "Stevia, Willi, ayo kita ke taman belakang. " Ajak Mentari. Stevia dan William pun mengekori langkah Mentari menuju sebuah taman kecil yang terletak di belakang rumah Mentari.
Sesampainya di taman belakang, Stevia dan Mentari mulai menyiapkan alat lukis mereka. Hari ini Mentari ingin mulai belajar melukis bersama Stevia, sedangkan William yang akan Mentari lukis, dengan arahan dari Stevia tentunya.
"Mentari, nanti kamu ikut kelas melukis juga kan. "
"Iya, donk. Aku kan ingin sepertimu yang pandai melukis. Ayo, sana duduk di samping Willi. Biar aku melukis kalian berdua. " Sembari mendorong tubuh Stevia ke arah William.
Dengan serius Mentari mulai melukis di atas kanvas. "Gayanmu sudah seperti pelukis handal saja. " Seru William. "Willi, diamlah. Atau kau mau ku lukis dengan mulut terbuka. " Seru Mentari pula. Sudah dua puluh menit berlalu, Stevia dan Willian pun mulai merasa bosan karna mereka tidak di perbolebkan Mentari untuk merubah posisi duduknya.
"Sudah belum Mentari. Aku sudah capek tau. ". "Iya, nih. " Balas William. Mentari tersenyum. "Sudah selesai. " Jawab Mentari. "Mana, coba ku lihat. " Pinta Stevia sambil mengulurkan tangannya. Mentari menyerahkan kanvasnya ke tangan Stevia.
Mata Stevia terbelalak saat melihat lukisan Mentari. "Mentari. " Ternyata Mentari sudah lebih dulu berlari meninggalkan mereka dengan gelak tawa yang keras. Stevia yang geram pun mengejar Mentari hingga masuk ke dalam rumah. "Awas kau, Mentari. " Sambil terus berlari mengejar Mentari yang masih saja mengudarakan tawanya karna berhasil memperdayai kedua temannya.
Sedangkan William terlihat bingung dengan kelakuan Stevia dan Mentari, hingga William mengambil kanvas yang tadi di lemparkan oleh Stevia, barulah dia mengerti dengan apa yang terjadi. William melihat sebuah lukisan matahari yang memang tidak terlalu rapi. Mungkin karna Mentari masih dalam tahap belajar. Pantas saja Stevia sampai berlarian mengejarnya. Bukannya melukis kami Mentari malah melukis yang lain. Lalu untuk apa kami duduk berlama lama dengan pose yang sama.
Mentari terus berlari hingga sampai ke dapur tempat Almira sedang memasak. "Ada apa, sayang. " Tanya Almira saat melihat Mentari berlarian ke dapur sambil tertawa. "Tidak apa apa, Mom. " Jawab Mentari sambil mengatur nafasnya yang ngos ngosan. "Mentari, kau akan ku kejar sampai dapat. " Teriak Stevia. "Berhenti, Stevia. Aku sudah lelah. Oke, aku minta maaf. " Sambil menunjukkan ekspresi memelas.
"Ada apa, Stevia. " Tanya Almira. Merasa tidak puas dengan jawaban dari Mentari. "Bibi, Mentari menyuruhku dan Willi duduk dengan pose yang sama selama hampir tiga puluh menit dengan alasan ingin melukis kami. Tapi dia menipu kami, Bibi. Mentari bukan melukis kami. Melainkan melukis matahari yang nyatanya indah, namun terlihat jelek karna bakat melukisnya yang masih nol. " Adu Stevia kepada Almira.
Almira tergelak. Wajar saja matahari yang Mentari lukis itu jelek, karna ini adalah pertama kalinya Mentari memainka kuas dan kanvas. "Ayo, Mentari. Minta maaf pada Stevia dan Willi. " Pinta Almira.
"Stevia, aku minta maaf. Nanti ajari aku melukis ya, agar aku bisa pandai sepertimu. " Mentari mengulurkan tangannya dan berkata dengan tulus. "Iya, lain kali jangan di ulangi, ya. " Pinta Stevia yang di balas dengan sebuah anggukan oleh Mentari. "Ayo, kita kembali ke taman, aku juga ingin minta maaf dengan Willi. " Stevia dan Mentari berjalan bergandengan tangan kembali ke taman belakang menemui William.
"Wili, maafkan aku ya. " Kembali mengulurkan tangannya, kali ini bukan untuk Stevia. Melainkan untuk William. William menyambut uluran tangannya dan tersenyum sembari mengangguk. "Tidak apa apa. "
Flashback Off.
Mentari mendesah. Menghembuskan nafasnya kasar ke udara. Rasanya kejadian itu baru terjadi kemarin. Ternyata waktu berlalu dengan cepat tanpa dia sadari. Mentari mulai merasakan hawa dingin menusuk tulangnya. Netranya langsung mengarah ke sebuah jam yang menggantung di dinding. Sudah satu jam rupanya aku berendam, pantas saja dingin. Batin Mentari.
__ADS_1