
Kini sudah tiba waktunya untuk Adrian menemui Hendra.
Enam bulan sudah berlalu. Adrian benar benar menepati janjinya.
Sepanjang perjalanan Adrian hanya tersenyum. Pikirannya sudah mengarah kemana mana. Rasanya, Adrian sudah tidak sabar ingin segera menikahi Nabila.
Dari seminggu yang lalu Adrian sudah tidak lagi menghubungi Nabila, karena Adrian berencana ingin memberi Nabila kejutan akan kedatangannya.
.
.
.
.
.
Sesampainya di Kediaman Hendra, Adrian langsung mengetuk pintu sambil mengucapkan salam.
Tok Tok Tok
"Assalamualaikum. "
Tok Tok Tok
Ceklek. Pintu terbuka.
"Waalaikum salam. " Ucap Andini, Ibunya Nabila.
Andini terkejut karena kedatangan Adrian secara tiba tiba. Tapi, cepat cepat Andini kembali menetralkan rasa terkejutnya itu.
Ibu pasti tidak menyangkakan kalau saya datang menepati janji saya.
__ADS_1
"Ayo, masuklah, Adrian. " Sambil membuka pintu rumah.
"Terimakasih, Bu. "
Setibanya diruang tamu.
"Sebentar, Ibu panggilkan Nabila dulu ya, Adrian. " Kata Andini.
Andini berlalu meninggalkan Adrian sendirian diruang tamu.
Ceklek. Pintu kamar Nabila terbuka. Nabila menoleh kearah pintu dan menemukan sosok sang Mama.
"Nabila, tolong buatkan teh empat cangkir. diluar ada tamu. " Kata Andini.
"Kenapa tidak Mama saja yang membuatkan tamunya teh. Biasanya juga kalau bukan tamu Nabila ya Mamalah yang menjamu. "
"Justru itu tamu kamu yang datang. Makanya Mama nyuruh kamu buatin teh. Setelah itu baru menemui tamu kamu. " Jelas Andini tanpa mengatakan kalau yang datang adalah Adrian.
"Siapa juga sih teman Nabila yang bertamu siang siang begini. " Gerutu Nabila sambil berjalan kearah dapur tanpa lebih dulu melihat siapa tamu yang dimaksud sang Mama.
Nabila berjalan keruang tamu sambil membawa nampan yang berisi empat cangkir teh, persis seperti kata Mamanya.
Saat netranya menemukan sosok yang membuat moodnya rusak sedang bicara dengan Mamanya, rasanya Nabila ingin sekali memeluk Adrian.
Nabila meletakkan teh dengan senyuman yang merekah.
Bisa bisa nanti aku diabetes kalau setiap hari disuguhkan yang manis manis seperti ini. batin Adrian sambil memandang Nabila yang sedang tersenyum manis.
"Duduklah, Nabila. Temani Adrian sebentar, Mama akan panggilkan Papamu dulu. " Ucap Andini.
Langsung saja Nabila menempatkan dirinya disamping Adrian. Saat Andini sudah tidak terlihat lagi, Adrian langsung memeluk Nabila untuk melepas rasa rindu karna enam bulan ini mereka sama sekali tidak pernah beremu.
"Kak Adrian jahat ih, kesini kok gak ngabarin Nabila. Nabila pikir Kak Adrian lupa sama janji Kakak. " Ucap Nabila sambil mengerucutkan bibirnya.
__ADS_1
"Hei, mana mungkin aku melupakanmu. Orang kamu tiap malam gangguin tidurku mulu. " Jawab Adrian sambil tersenyum.
"Ganguin apanya. " Tanya Nabila bingung.
"Tiap malam kamu itu datang terus dalam mimpiku. Bagaimana mungkin aku melupakanmu. Kamukan segalanya bagiku. "
"Udah mulai deh kayanya acara gombal gombalanya. " Kata Nabila.
Obrolan mereka langsung terputus karna kehadiran Hendra ditengah tengah mereka.
Sial, ternyata Adrian menepati janjinya. Kalau begini, mau tidak mau aku harus menerima keputusan Nabila. Batin Hendra.
"Selamat siang, Pak. " Adrian menyapa Hendra sambil mencium punggung tangan Hendra.
"Siang. " Jawab Hendra singkat.
Adrian tersenyum kepada Hendra. Berusaha menyusun kata yang akan dia ucapkan kepada Hendra.
Yakinlah, Adrian. Kamu pasti bisa. Batin Adrian.
.
.
.
.
.
**Hari ini udah 3 bab ya. Nanti dilanjutin lagi pas waktu sahur.
Maaf kalau babnya pendek pendek. Ngetik 500 kata itu bagi saya susah banget. Perlu waktu satu jam lebih buat ngerangkai kata biar mudah dibaca sama dipahami.
__ADS_1
Doakan saja kedepannya semoga karya saya bisa lebih baik lagi, biar bisa memuaskan para pembaca setia Ternyata Aku Istri Kedua.
Sudah dulu ya. Selamat beristirahat Readers**.