
sedikit lega. Itulah yang saat ini Nabila rasakan. Kesalah pahaman antara dia dan Ibu mertuanya kini sudah berakhir. Hanya tinggal masalahnya dengan Andini dan Hendra saja yang belum terselesaikan.
Sepulangnya Adrian dan Nabila, mereka langsung mempersiapkan kepindahan mereka yang jaraknya sangatlah dekat, hanya menyeberang jalan.
"Kak, nanti kita ke pasar ya, banyak yang harus di beli. "
"Uang tabungan kita cuma ada sepuluh juta, semoga saja cukup untuk membeli perabotan rumah tangga. "
"Mau bagaimana lagi, penghasilan investasi mulai menurun. Itupun harus di bagi dua untuk Via dan kita. "
"Sepertinya aku harus lebih giat menyadap. "
Sudah dua bulan ini investasi yang Adrian miliki penghasilannya berkurang hampir lima puluh persen. Jika biasanya perbulan dia akan mendapatkan uang dua sampai tiga juta, kini hanya sekitar satu juta lebih, bahkan tidak sampai dua juta.
Kepulangan Adrian kemarin sekalian untuk mengecek keadaan, bagaiman mungkin hal itu bisa terjadi.
"Kita beli yang lebih dibutuhkan saja, Kak. Pasti cukup kok. "
"Bagaimanapun juga kita tidak boleh menghabiskannya, Kak. "
"Tabungan itu sangat penting untuk suatu hal yang kedepannya tidak terduga. "
"Sudah, jangan terlalu di pikirkan. Pasti ada rezekinya, kok. " Seru Adrian. "Apa masih belum ada tanda tanda. " Lanjut Adrian sembari mengusap perut Nabila yang tengah berbaring di sisinya.
Nabila tersenyum dan menggenggam tangan Adrian. "Bersabarlah, Kak. Bukankah baru tiga bulan lalu aku berhenti meminum obat kontrasepsinya. Semuanya perlu proses, Kak. "
__ADS_1
"Tapi dulu aku melakukannya dengan Bila cuma sekali malah langsung jadi. " Ucap Adrian secara spontan.
Nabila yang merasa di bandingkan langsung melepaskan genggaman tangan mereka dan membelakangi Adrian. "Jangan membandingkan kami, Kak. Karna kami berbeda. " Rajuknya.
Astaga, ternyata aku salah bicara. Adrian.
"Bukan maksudku seperti itu, aku tidak membandingkan kalian. Maafkan aku ya. " Bujuk Adrian sambil memeluk Nabila dari belakang serta memberikan kecupan bertubi tubi di pucuk kepala Nabila.
"Sayang. Serius, aku minta maaf. " Adrian masih berusaha membujuk Nabila.
"Ketahuilah, Kak. Memiliki anak tidak semudah membeli permen di warung. "
"Aku tidak mengatakan seperti itu. "
"Iya, aku yang salah. "
Nabila hanya mengangguk. Dengan perlahan Adrian membalikkan tubuh Nabila agar kembali menghadap padanya. Adrian tersenyum sembari mengusap pipi Nabila yang masih menunjukkan wajah kesalnya.
"Aku hanya tidak sabar, sekali lagi maafkan aku jika kata kataku menyakitimu. " Kini Nabila tersenyum.
"Kita akan memilikinya, Kak. Bersabarlah, buah kesabaran itu kata orang amatlah manis, Kak. "
"Mungkin kita masih belum di beri Tuhan sebuah kepercayaan untuk memiliki anak. "
"Ya, semoga saja dalam waktu dekat kita bisa memilikinya. "
__ADS_1
"Aku hanya ingin mencegah kemungkinan terburuk yang akan terjadi kedepannya ketika Papa dan Mama mengetahui kebohonganku. "
"Maafkan aku, aku menempatkan mu di posisi yang sulit. "
"Aku takut kehilanganmu. "
Kembali Adrian memeluk Nabila, Nabila mengusap kepala Adrian. Berusaha menenangkannya, walau sebenarnya iapun merasakan ketakutan yang sama seperti apa yang dirasakan Adrian.
"Kita berdoa saja, Kak. Semoga semuanya baik baik saja. Tidak perlu menceritakan semuanya kepada Papa dan Mama, Kak. "
"Kita hanya perlu mengatakan kalau Kakak sebenarnya masih memiliki orang tua dan memiliki satu orang anak. Cukup katakan kalau Kakak adalah seorang duda. "
"Aku tidak ingin Mama dan Papa mengetahui kalau aku sempat di madu, Kak. "
"Mereka pasti akan semakin kecewa nantinya. "
Boleh minta likenyakan😄
.
.
.
.
__ADS_1
.