
Ibu Adrian berusaha menenangkan Bila. Lagi pula memang benar apa yang Bila katakan.
"Kalau bukan untukku. Setidaknya kau bersikap baiklah untuk Via, Mas. Dia masih kecil, sedikitpun tidak tahu menahu tentang apa yang terjadi di antara kita berdua. Namun sayangnya dia harus ikut menerima perlakuan burukmu, Mas. Kau mengbaikan kami, seakan akan kami tidak pernah ada diantara dirimu. Terkadang raga kita begitu dekat, Mas. Tapi selalu saja aku merasa jauh darimu, bahkan teramat jauh. "
"Karna pada dasarnya kita memang jauh, Bila. "
"Kau yang menjauh, Mas. Selangkah aku maju, dua langkah kau mundur. Kau selalu menjauh. Tanpa pernah memikirkan apa yang sudah ku lakukan untukmu. Kurang baik apa aku selama ini padamu. Kau sering meninggalkan kami, ku biarkan. Kau sering berlaku seenakmu, ku biarkan. Kau sering mabuk mabukan, ku biarkan. Bahkan kau sering ku mandikan karna keadaanmu sedang mabuk berat sampai muntah dimana mana. Dimana hati nuranimu, hah. Kau pun tak jarang bermain dengan jalang jalangmu tetap ku biarkan. Kau tahu Mas, dengan harapan kelak kau akan berubah. Berubah menjadi suami serta Ayah yang layak. "
Hati Bila seakan hancur berkeping keping. Ternyata selama ini perjuangannya sia sia. Tak membekas sedikitpun dihati Adrian.
Hati Adrian sedikit menghangat saat mendengar ungkapan hati wanita yang selama ini sudah dia abaikan. Benar kata Nabila, dia tidak boleh egois dengan menceraikan Bila.
"Bila, untuk itu aku meminta maaf. Maaf atas semua perlakuanku selama ini. Mari kita hidup selayaknya suami istri pada dasarnya. Aku tidak akan menceraikanmu ataupun Nabila. Tolong bantu aku untuk menjadi lebih baik lagi. " Ucap Adrian dengan tulus.
__ADS_1
Perkataan Adrian sungguh diluar dugaan Bila. "Apa kau pikir aku mau di madu, Mas. Setelah bertahun tahun kau memperlakukan ku semaumu, kau pikir kali ini bisa kembali melakukan hal yang serupa. Tidak, sampai kapan pun aku tidak akan sudi di madu. " Balas Bila dengan menggebu gebu.
"Bila, kau jangan membuatku berada di posisi yang sulit. " Adrian bicara degan setengah membentak.
Apa maumu, Mas. Baru saja kau minta maaf, sekarang sudah kembali meninggikan suaramu.
"Kau sendiri yang membuat dirimu berada diposisi yang sulit. Andai saja-. " Ucapan Bila terjeda. Menghembuskan nafas kasar. "Semua sudah terjadi. Tinggal kamu pilih Mas. Bertahan denganku dan Via atau bersama istri barumu itu. "
Pilihan yang Bila berikan sedikit membuatnya bingung. Sedangkan Bila sudah terlalu yakin kalau Adrian akan memilih bersamanya. Sebab Adrian selama ini selalu patuh terhadap Ibunya. Sudah dapat Bila pastikan kalau Adrian memilih Istri barunya sang Mertua akan turun untuk membelanya.
Jawaban Adrian membuat Ibu dan Bila terdiam sejenak.
"Kamu sudah tidak waras Adrian. Bagaimana dengan Via. Selama ini dia sudah tidak mendapatkan kasih sayangmu. Apa kau ingin membuatnya lebih menderita lagi. " Cecer sang Ibu.
__ADS_1
"Akupun tidak bisa meninggalkan Nabila, Bu. Apa nanti penilaian orang kalau kami berpisah, bahkan baru dua minggu yang lalu kami menikah. Tidak hanya itu, Bu. Aku pun amat mencintainya. Dia segalanya bagiku setelah Ibu. "
"Kalau Ibu adalah segalanya bagimu. Tolong turuti perkataan Ibu Adrian. Ceraikan dia, mulailah hidup baru kalian bertiaga dengan layak. Anggap saja ini kamu lakukan untu Via. " Ibu Adrian melemah.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Teman teman, kasih aku like donk. Aku udah bela belain bangun jam 03.19 dini hari lo buat ngetik biar gak di gangguin sama anak anak.