Ternyata Aku Istri Kedua

Ternyata Aku Istri Kedua
Numpang Promo 2


__ADS_3


.


.


.



Kenangan



.


.


.


Sesampainya Mentari di apartemennya, dia langsung memutuskan untuk merelekskan tubuhnya dengan cara berendam.


Sembari memejamkan matanya Mentari menyelami kenangan yang dulunya terasa begitu indah.


Flashback.


"Mari kita sambut juara umum kita, Mentari Almira Sebastian. Silahkan maju kedepan dengan di dampingi orang tuanya. " Seru seorang pemamdu acara di sebuah acara kelulusan sekolah dasar.


Terlihat seorang anak kecil dengan raut bahagianya berjalan di apit oleh dua orang, laki laki dan perempuan yang amat mencintainya menuju keberadaan si pemandu acara.


"Selamat, sayang. " Ucap Almira dan Sebastian bersamaan. "Daddy bangga sama Dede. " Lanjut Sebastian.


"Terima kasih, Dad. " Seru Mentari sembari memeluk Pinggang Sebastian.


Tampak kepala sekolah memberikan sebuah hadiah untuk mengapresiasi kepandaian yang Mentari miliki. "Terima kasih, Pak. " Mencium tangan Bapak Kepala Sekolah yang sudah memberikannya hadiah.


"Pak Sebastian, selamat. Anda memiliki Putri yang hebat. Dia baru kelas empat, tapi sudah dapat meraih juara umum. " Bersalaman dengan Sebastian lalu dengan Almira. "Bapak ini, jangan terlalu memuji. " Sahut Sebastian.


Mentari, Almira, serta Sebastian kembali ke tempat duduknya, yang tadi mereka tinggalkan. "Anak Mommy hebat. " Mengusap kepala Mentari kemudian mendaratkan sebuah ciuman singkat di pipinya.


"Anak siapa dulu dong. Anak Mommy sama Daddy gitu loh. " Bicara dengan penuh kebanggaan sambil menepuk dadanya.


Sebastian terkekeh. Anak bungsunya ini ada ada saja. Entah dari mana kepandaiannya berasal. Bahkan kepandaian yang Sebastian dan Almira miliki dapat di katakan paspasan, sangat berbeda dengan Mentari. Sedangkan Daniel, Kakak Mentari tak jauh berbeda dengan Sebastian yang memiliki kepandaian paspasan. 


Mereka semua menikmati serangkaian acara yang disiapkan oleh pihak sekolah hingga selesai, acara ditutup dengan kegiatan foto bersama. 


 


"Hari ini adalah 'Mentari day', jadi sayang. Mari kita bersenang senang. " Seru Sebastian.


"Jemput Kakak dulu, Dad. Tadi Mommy sudah telpon kalau hari ini kita akan merayakan keberhasilan Mentari. " Sambil menggandeng lengan Sebastian di sebelah kanannya dan menggandeng tangan Mentari di sebelah kirinya. 

__ADS_1


"Siap, Mommy. "


Mereka mengarahkan mobilnya ke apartemen Daniel terlebih dahulu. Semenjak kuliah Daniel memutuskan untuk tinggal terpisah dari orang tuanya, dengan alasan ingin belajar hidup mandiri. Tapi tetap saja biaya hidupnya masih di tanggung oleh Sebastian. 


Jika Mentari memiliki sifat yang hangat, friendly, banyak bicara, juga cerewet. Maka Daniel adalah kebalikannya, sosok laki laki yang dingin, tertutup, irit bicara, juga tidak mudah bergaul. Mereka bagai dua sisi yang berlawanan. Bahkan Almira bingung, dari mana sifat Daniel berasal. Sedangkan Sebastian dan Almira sama sama memiliki sifat yang sama dengan Mentari.


"Kakak, Mommy dan Daddy di luar. " Menelpon Daniel, mengatakan kalau mereka sudah di area apartemen. 


"Yes, Mom. " Tanpa menunggu jawaban dari Almira, Daniel langsung menutup sambungan telponnya.


Almira mendengus. " Benar benar berbeda, Dad. " Keluh Almira kepada Sebastian.


"Mommy seperti baru mengenal Kakak saja. " Sambil mengusap lengan Almira. 


Benar benar keluarga yang harmonis. Semuanya saling menyayangi. Seakan hidup mereka terasa amat sempurna. Memiliki materi yang berkecukupan, anak anak yang baik, serta komunikasi yang terjalin dengan baik. Sungguh, ini impian hidup setiap keluarga.


Sebastian kembali melajukan mobilnya dengan kecepatan standar menuju ke restoran terlebih dahulu untuk mereka makan siang. 


"Kita makan siang di mana, Mom. " Tanya Sebastian. 


Justru Mentari yang menjawabnya terlebih dahulu. "Di restoran Jepang, Dad. Dede sudah lama tidak makan disana. "


"No, Dad. Di tempat biasa saja. " Tolak Daniel. Karna restoran jepang memang agak lumayan jauh dari posisi mereka saat ini. Itu akan memakan banyak waktu. Makanya Daniel menyarankan agar makan di restoran biasa saja untuk menghemat waktu. Time is money, begitulah pikir Daniel.


"Bagaimana, De . " Tanya Sebastian kepada Mentari. Dede adalah panggilan mereka untuk Mentari. Sedangkan panggilan Kakak untuk si sulung, Daniel.


"No, Dad. Dede tetap ingin makan di restoran Jepang. " Tetap pada keinginannya.


"Kakak, jangan seperti itu. Hari ini kita memang ingin memanjakan Dede yang satu ini. Oke, karna hari ini Mentari day. Jadi hari ini semuanya mengikuti keinginan Mentari. " Memang hari ini dikhususkan untuk Mentari sebagai rasa bangga Sebastian dan Almira atas prestasi yang Mentari berikan.


"Jangan terlalu memanjakannya, Mom, Dad. " Sambil melirik ke arah Mentari yang duduk di sampingnya. Sedangkan Sebastian dan Almira hanya mengudarakan kekehan.


"Kakak ini, sekali kalikan gak apa apa Mommy sama Daddy memanjakan Dede. Nanti kalau Dede sudah dewasakan Dede udah gak bisa lagi manja manjaan sama Mommy dan Daddy. " Almira mencoba memberikan nasehat kepada Daniel. Bahwa Mentari masih kecil. Jadi wajar wajar saja. Itupun tidak setiap hari. Sewaktu Daniel kecil pun dia juga pernah merasakan di posisi Mentari. hanya saja saat itu perekonomian keluarga tidak sebaik ini. Jadi mereka hanya merayakan prestasi yang Daniel raih secara kecil kecilan. 


Daniel hanya membisu. Memang benar apa yang Almira katakan. Ya, hanya sesekali.


"Kakak, bagaimana dengan kuliahmu. " Tanya Sebastian.


"Biasa saja, Dad. " Jawab Daniel pendek.


"Biasa, maksud, Kakak. " Sebastian merasa itu bukan jawaban.


Daniel tampak menghembuskan nafasnya ke udara. "Ya, biasa, Dad. Tidak ada yang spesial. "


"Kalau materinya, Kak. " Lanjut Sebastian.


"Sejauh ini Kakak ngerti, Dad. " Jawab Daniel malas.


Kini giliran Sebastian yang menghembuskan nafas kasar ke udara. Almira mengusap ngusap lengan Sebastian. Memang begitulah obrolan singkat mereka dengan Daniel.


Melihat itu justru membuat Daniel tersenyum. "Maaf, Dad. "

__ADS_1


"Untuk. " Tanya Sebastian ambigu.


"Tidak jadi. " Daniel merasa Sebastian akan memojonkkannya jika dia meminta maaf.


Sebastian tertawa. "Sebenarnya Daddy bingung, Kak. Kakak itu anak kami bukan sih. " Ini bukan pertama kalinya Sebastian bertanya demikian. Wajar saja dia mempertanyakan hal itu. Baik Sebastian, Almira, juga Mentari mereka semua suka bercanda, juga banyak bicara. Tapi Daniel.


"Entahlah, Dad. " Kini giliran Daniel yang memberikan jawaban ambigu.


"Apa kamu bayi yang tertukar, Kak. " Seru Almira sambil terkekeh.


"Bisa saja, Mom. " Meladeni orang tuanya memang tidak ada habisnya batin Daniel.


"Kalau begitu kita harus kerumah sakit terlebih dahulu, Mom. " Gelak Sebastian masih menjalankan drama tentang bayi yang tertukar.


"Untuk apa, Dad. Bukan kah kita akan makan di restoran Jepang. Apa tidak jadi. " Tanya Mentari.


"Tentu saja untuk memastikan ini Kakak kamu atau bukan. " Gelak Almira dengan Sebastian bersamaan. Rupanya sedari tadi Mentari kurang menyimak pembahasan mereka.


"Ada ada saja. " Seru Daniel di saat semua orang mentertawakan hal yang baginya sama sekali tidak lucu itu.


Hingga tidak terasa kini mereka sudah sampai disebuah restoran yang bernama Okuzono Japanese Dining sesuai dengan permintaan Mentari.


Terlihat Daniel mengunyah makannya dengan setengah hati. "Kenapa, Kak. " Tanya Almira.


"Tidak apa apa, Mom. " Daniel tidak ingin membuat Almira merasa tidak enak karna sudah mengajaknya makan di restoran yang sangat tidak Daniel sukai hidangannya. Bukan karna restorannya. Melainkan Daniel membenci semua hal yang berbau Jepang.


Makanan ini dulu terasa begitu nikmat, kenapa sekarang terasa hambar. Bahkan dulu aku sering mengajaknya makan disini. Shitt, kenapa aku harus mengingatnya. Dia hanya masa lalu, sama sekali tidak penting untuk di ingat. Daniel merutuki dirinya sendiri.


Usai makan siang mereka kembali melanjutkan perjalan ke tempat hiburan anak anak seusia Mentari. Setelah mendatangi restoran Daniel menjadi uring uringan karna teringat dengan sosok yang dulu pernah mengisi hatinya. Bisa dikatakan sebagai first love.


Setelah puas bermain Mentari kembali mengajak Almira,Sebastian, serta Daniel ke Mall untuk berbelanja. Mereka menyetujui keinginan Mentari dan melajukan mobil ke arah Mall.


"Gak capak, De. " Tanya Daniel.


"Ih, Kakak tumben ngajak bicara duluan. " Hal yang cukup langka bagi Mentari. "Ya enggaklah, Kak. Kalau capek Dede gak bakalan ngajak ke Mall. " Lanjut Mentari.


"Dad, aku ingin ikut kelas melukis. Jadi bantu aku untuk membeli alat lukis yang bagus. " Sudah lama Mentari ingin bisa melukis seperti Stevia temannya. Tapi baru ini dia mau mewujudkan keinginannya itu. Biasanya dialah yang akan Stevia lukis, tapi kini Mentari juga ingin melukis temannya tersebut.


"Oke sayang. " 


"Kakak nunggu dimobil aja. " Setu Daniel.


"Gak boleh, Kakak mesti beliin Dede hadiah. " Sembari menghunuskan tatapan tajamnya kearah Daniel.


"Banyak banget sih maunya. " Gerutu Daniel.


"Ayolah, Kak. " Bujuk Mentari sambil menampakkan wajah yang di imut imutkan.


"Baiklah. " Menyerah, karna kalau tidak dituruti akan memakan waktu lebih lama lagi pikir Daniel.


Mentari diapit oleh Amira dan Sebastian menuju toko yang menjual alat alat lukis. Sedangkan Daniel berpisah untuk memilih hadiah yang akan dia berikan untuk Mentari.

__ADS_1


Daniel memasuki toko yang menjual aksesoris wanita dari anak hingga dewasa. Dengan perlahan Daniel melihat barang barang yang dijual disana. Hingga dia menemukan sebuah alat tulis serba strawberry. Mulai dari pena yang berwarna seperti strawberry yang dihiasi dengan imitasi strawberry kecil di bagian penutup pena, juga sebuah buku yang berbentuk seperti strawberry. Sangat lucu, dia yakin Mentari pasti menyukainya. Daniel ingat betul kalau Mentari menyukai segala hal yang berhubungan dengan si buah cantik yang satu ini.


__ADS_2