
Terlihat Andini berjalan mendekati Adrian. "Cepat, Adrian. Sekarang giliranmu buat ganti baju. "
Adrian dan Andini berjalan bersama sama menuju kamar yang sudah disiapkan untuk mempelai bersiap.
Tak butuh waktu lama Adrian sudah siap dengan pakaian pengantinnya. Adrian tampak gagah menggunakan pakaian senada berwarna gold.
.
.
.
.
.
.
Di pelaminan Nabila sudah duduk manis menanti kedatangan Adrian.
Nabila terlihat begitu cantik menggunakan gaun pengantin berwarna merah muda. Terpancar raut bahagia dari wajahnya.
Adrian berjalan dengan gagah menuju pelaminan. Setelah kedua mempelai sudah siap, barulah sesi foto dimulai.
Tidak hanya berfoto, mereka jua menerima ucapan selamat dari tamu undangan. Begitu banyak tamu yang hadir. Baik dari teman teman Nabila, teman teman Hendra, juga teman teman Adrian. Keluarga besar Nabila turut hadir untuk bergabung dalam suasana bahagia ini. Seluruh sanak saudara menikmati acara yang meriah ini dengan hati gembira.
__ADS_1
Sungguh, bagi Nabila dan juga Adrian hari ini benar benar spesial. Ini semua adalah pernikahan impian Nabila. Semuanya Nabila yang memilihnya. Mulai dari dekorasi Ijab Qobul, pakaian Ijab Qobul, barang hantaran, cincin, lemari pakaian, meja rias, tempat tidur, dekorasi resepsi, pakaian resepsi, juga tak ketinggalan orkes beserta para biduannya pun adalah pilihan Nabila. Fix, Andrian, Hendra, dan Andini benar benar memberikan Nabila kebebasan untuk menentukan pilihan dihari bahagianya.
Sejenak Adrian termenung. Memikirkan sedang apa Ayah dan Ibunya saat ini. Adrian sangat ingin berbagi moment bahagia ini. Tapi sayangnya ini tidak mungkin.
Acara terus berlanjut.
.
.
.
.
.
Saatku dengar melodi cinta yang menggema
Terasa kembali gelora jiwa mudaku
Karna tersentuh alunan lagu semerdu kopi dangdut
Api asmara yang dahulu pernah membara
Semakin hangat bagai ciuman yang pertama
Detak jantungku seakan ikut irama
__ADS_1
Karna terlena oleh pesona alunan kopi dangdut
Irama kopi dangdut yang ceria
Membuat hati menjadi gairah
Membuat aku lupa akan cintaku yang telalu lalu
Api asmara yang dahulu pernah membara
Semakin hangat bagai ciuman yang pertama
Detak jantungku seakan ikut irama
Karna terlena oleh pesona alunan kopi dangdut
Terdengar suara seorang biduan sedang melantunkan lagu yang banayak digemari oleh masyarakat disana. Terlihat para pemuda ikut larut dalam lagu yang tengah dinyanyikan sang biduan. Bahkan kini terlihat para biduan sudah turun dari panggung bersiap ingin berbaur bersama warga setempat. Para pemuda juga Bapak Bapak langsung mengerumuni para biduan yang meliak liukkan tubuhnya, mereka mulai menyawer para biduan dengan hati gembira. Mulai dari uang receh dua ribuan mereka berikan, hingga ada yang tak tanghung tanggung memberika uang sebesar seratus ribu.
Kala situkang sawer sedang asik berjoget bersama biduan, tiba tiba datang seorang Ibu Ibu yang menggendong anak perempuan yang berusia sekitar tiga tahun. Ibu itu ternyata adalah istri dari Bapak yang tadi memberikan uang seratus ribu kepada biduan.
Tanpa basa basi, si Ibu langsung memberikan anaknya kepada sang Suami yang sudah tertangkap basah sedang berjoget ria bersama biduanita. Hal itu dilakukan si Ibu untuk meluapkan kekesalannya. Karna tidak ingin marah marah didepan orang banyak, si Ibu lebih memilih cara seperti itu untuk menunjukkan kepada si Suami kalau dia sedang marah.
Enak saja, aku disuruh jaga anak. Eh dia malah seneng seneng joget joget gak karuan. Malah pakai acara sok sokan banyak duit juga. Emangnya dia pikir uang seratus ribu itu sedikit apa. Batin si Ibu.
.
.
.
__ADS_1
.
.