Ternyata Aku Istri Kedua

Ternyata Aku Istri Kedua
Bab 46


__ADS_3

Dengan rasa harap harap cemas Nabila menanti kepulangan Adrian. Terakhir memberi kabar kalau pagi ini dia akan kembali. Tapi ini sudah hampir sore, Adrian belum juga kembali.


Cemas, tentu saja Nabila cemas. Bukan karna tak ingin Adrian pulang terlalu lama. Tapi dia bingung, kalau kalau nanti dia ditanya oleh Hendra dan Andini, apa yang harus dia katakan. Sudah empat hari Adrian tiada, sedangkan biasanya Adrian pulang hanya sekitar tiga harian.


Sedangkan di rumah Ibu Adrian, ternyata sang Ibulah yang membuatnya pulang terlambat. Dengan alasan masih merindukan Adrian sang Ibu menahannya. Adrian memberikan waktu sang Ibu untuk mengobati rindunya. Seharian ini Adrian hanya menemani Ibunya.


Sedangkan Adrian memang sengaja tidak memberi kabar kepada Nabila kalau kepulangannya tertunda. Sengaja, karna ingin merasa di khawatirkan.


Kakak ini jadi pulang gak sih. Nabila menggerutu.


Saat malam hari, seusai makan malam barulah Adrian menghubungi Nabila. Pada sambungan pertama tenyata tidak di angkat. Kemudian pada panggilan kedua barulah terdengar suara Nabila.


"Kakak jadi pulang gak sih. "


Terdengar kekehan Adrian.


"Jadi, tapi besok pagi. Gak jadi hari ini. Kamu udah kangen ya. "


Nabila mendengus.

__ADS_1


"Bukannya merindukan Kakak, tapi nanti kalau ditanyain Mama sama Papa aku bingung harus jawab apa. " Menghela nafas berat. "Maafkan aku ya, Kak. Karna aku Kakak jadi gak bisa menghabiskan waktu panjang dengan keluarga Kakak di sana. " Dengan netra yang sudah mulai berkaca kaca.


"Jangan bicara seperti itu. Sejak awal sudah ku katakan. Ini salahku. Setelah ini aku tidak ingin mendengar kamu menyalahkan dirimu lagi. Ini adalah yang terakhir. "


Tentu saja Adrian merasa bersalah karna sudah menempatkan Nabila diposisi yang sulit. Begitu pun Nabila, merasa bersalah sebab menerima suami wanita lain.


Kata kata Adrian justru membuat air mata Nabila mengalir. Begitu besar cintamu padaku, Kak. Apa Istrimu juga mendapatkan cinta yang begitu besar. Ah, rasanya tidak. Kalau kau mencintainya kau tidak akan pernah memintaku menjadi Istrimu. Kenapa hubungan kalian begitu rumit, Kak. Kalian memiliki anak. Tapi Kakak mengatakan kalau hubungan kalian bahkan tidak layak untuk dikatakan sebagai hubungan rumah tangga.


"Apa aku terlalu egois, Kak. "


"Bukan kamu, tapi aku yang egois. Demi kebahagiaanku aku harus menyakiti Bila. "


Hingga akhirnya mereka mencari pembahasan yang lain untuk mengalihkan perhatian mereka tentang Bila.


.


.


.

__ADS_1


Keesokan harinya Adrian berpamitan dengan Ibunya. "Adrian pamit, Bu, Yah. Nanti Adrian kembali dengan Nabila. "


Ekspresi Ibu Adrian langsung berubah saat mendengar nama yang sama, namun dengan orang yang berbeda.


Terdapat perasaan benci pada sosok Nabila yang belum dikenalnya. Baginya Nabila bukan wanita baik baik seperti yang Adrian jelaskan.


Entah Nabila yang terlalu bodoh, atau Adrian yang terlalu pandai sampai sampai mereka dapat menikah secara sembunyi sembunyi.


Ibu Adrian masih memendam ketidak sukaan akan Istri anaknya tersebut.


"Sudahlah, Adrian. Ibu tidak ingin mendengar namanya disebutkan. "


"Jangan seperti itu, Bu. Nanti Ibu akan ku kenalkan dengannya. Nabila pasti senang bertemu Ibu. " Bujuk Adrian.


Tanpa mendengar jawaban Ibunya Adrian langsung naik keatas motor dan melajukannya secara perlahan.


Ditengah perjalanan Adrian bertemu dengan teman lamanya.


Sang teman mendekati motor Adrian, memintanya untuk berhenti disebuah rumah makan sederhana.

__ADS_1


__ADS_2