Ternyata Aku Istri Kedua

Ternyata Aku Istri Kedua
Bab 36


__ADS_3

Tidak terasa seminggu sudah berlalu usia pernikahan Adrian dan Nabila. Bahagia. Mungkin kata itulah yang mewakili perasaan mereka. Nabila terlihat nyaman menjalani perannya sebagai seorang istri. Sedangkan Adrian pun merasa nyaman dilayani oleh Nabila sedari membuka mata sampai menutup mata kembali.


Meskipun demikian Adrian tetap dirundung perasaan was was tak karuan. Adrian sedang mencari moment yang tepat untuk menyampaikan apa yang selama ini dia sembunyikan. Adrian sudah memperkirakan kemungkinan kemungkinan dari yang terbaik, hingga yang terburuk.


Semoga saja semuanya masih dapat Adrian kendalikan. Karena Adrian tidak akan dapat menyembunyikan hal yang teramat besar ini terlalu lama.


Sepertinya semestapun memberikan kesempatan untuk Adrian menyampaikan kebenaran itu kepada Nabila.


Hari ini Andini dan Hendra akan pergi kerumah saudara Andini untuk menghadiri acara Aqiqah sang keponakan.


Adrian pun merasa inilah moment yang tepat. Karna ketiadaan Andini dan Hendra akan lebih memudahkan untuknya. Kalau Nabila mengamuk sekalipun Adrian tidak perlu takut, dikarenakan hanya ada mereka di rumah. Persetan dengan tetangga yang akan mendengar amukan Nabila kelak.


Usai membelikan sarapan seperti biasa, Andini langsung berpamitan kepada Nabila juga Adrian. Mereka mengantar kepergian Andini dan Hendra sampai di depan pintu.


"Kak, aku mandi sebentar. Baru kita sarapan, ya. " Ucap Nabila.


Adrian mengangguk. Masih memikirkan kata kata yang tepat untuk mengungkapkannya. Sampai Nabila selesai mandi pun Adrian masih berpikir keras.


Seperti biasa. Dua gelas teh panas beserta dua bungkus nasi juga beberapa gorengan yang masih mengepulkan asapnya sudah siap untuk mereka santap.


"Makan yang banyak. " Sambil mengusap pucuk kepala Nabila. Karna setelah ini kau tidak akan bisa makan dengan lahap setelah aku mengatakannya.

__ADS_1


Nabila tersenyum. "Aku gak mau gendut lho, Kak. " Protesnya.


"Biar gendut, aku tetap sayang, Kok. " Mencubit gemas pipi Nabila.


Adrian menyelesaikan sarapan paginya terlebih dahulu. Lalu berjalan kearah ruang keluarga. Kembali termenung.


Nabila menyusul Adrian usai mencuci peralatan makan yang mereka gunakan.


"Nabila, kemarilah. Ada yang ingin ku sampaikan. "


"Ada apa sih, Kak. " Tanya Nabila sambil memasang ekspresi ingin tahunya. Biasanya Adrian tidak pernah berkata seperti itu kalau mau bicara.


"Sebenarnya aku sudah memiliki Istri sebelum kita menikah. " Sambil memeluk erat tubuh Nabila.


Nabila langsung melepaskan pelukan Adrian dengan kasar.


Sontak saja pengakuan Adrian membuat dunianya seakan runtuh seketika.


Aku tidak salah dengarkan. Kak Adrian sudah memiliki Istri. Bagaimana mungkin.


"Kau bercanda kan, Kak! Katakan kau hanya bercandakan. " Nabila masih berusaha menyangkalnya sambil berlinang air mata.

__ADS_1


"Bukan hanya Istri, sayang. Tapi aku juga memiliki seorang Putri dengannya. " Adrian tak ingin lagi menyembunyikan apapun. Karena Adrian sadar, cepat atau lambat semua akan terungkap. Maka dari itu Adrian memilih mengatakannya.


"Apa apaan ini, Kak. Istri. Anak. Apa yang Kakak bicarakan. "


Omong kosong apa ini.


Nabila berdiri. Meninggalkan Adrian dan berlalu kedalam kamar, menguncinya dari dalam. Nabila perlu waktu untuk menelaah semua yang baru saja dia dengar.


Tidak mungkinkan. Bagaimana mungkin. Kau menipuku, Kak. Kau pembohong. Kau membuatku berada diposisi yang berat.


Air mata Nabila terus mengalir tanpa bisa dihentikan. Perasaan benci, marah, kecewa semua Nabila rasakan.


Kak, aku harus bagaimana. Apa aku harus mengalah. Atau aku harus egois mempertahankanmu. Lalu di mana Istri beserta anakmu, Kak.


.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2