
Seperti biasa, jam sebelas siang Ibu pulang dari sawah. Biasanya usai mandi Ibu langsung pergi ke pasar untuk membeli bahan masakan. Tapi tidak untuk hari ini. Hari ini ada banyak hal yang berbeda. Rumah yang biasanya berantakan kini terlihat rapi, magicom sudah tampak menyala, itu artinya nasi sudah siap. Bau masakan masih tercium, khususnya di area dapur. Kini sepulang dari sawah Ibu bisa beristirahat untuk menghilangkan rasa lelah sambil menunggu jam makan siang tiba.
"Apa aku sudah salah menilainya. Dia anak yang rajin, juga pengertian. Tapi kalau dia anak yang baik kenapa dia mau saja menikah dengan Adrian yang sudah memiliki anak dan istri. "
Sembari berbaring sambil memejamkan matanya Ibu terus memikirkan Nabila. Keadaan menunjukkan kalau dia anak yang baik, tapi pikiran Ibu tetap mengatakan kalau dia bukan anak yang baik. Ibu masih belum bisa meyakini mana yang benar.
Ingin rasanya Ibu bertanya kepada Nabila alasannya menikah dengan Adrian. Tapi gengsi Ibu terlalu tinggi. Hingga Ibu membiarkan dia larut dalam praduganya sendiri.
Kini Ayah sudah datang dari sawah, setelah Ayah mandi Adzan Dzuhur berkumandang. Ayah memakai sarung dan baju koko berjalan ke arah Masjid yang jaraknya tidak jauh dari rumah.
.
.
.
__ADS_1
Kini seminggu sudah Adrian dan Nabila menghabiskan waktu di rumah Adrian, hari ini mereka akan kembali ke kediaman Nabila.
Hal itu tentu saja membuat Shavia sedih, dia sudah tidak bisa lagi di antar jemput oleh Adrian. "Nanti Papa ke sini lagi. Papa harus kerja dulu, biar nanti kalau Papa punya banyak uang kita bisa jalan jalan lagi. " Nabila membujuk Shavia agar berhenti menangis.
"Bu, Adrian pamit. Nanti bulan depan Adrian pulang pas lebaran. " Mencium tangan Ibu, serta memeluknya lama. Sedangkan Nabila mengekor di belakang Adrian. "kami pulang, Bu. " Nabila mencium tangan Ibu, ingin rasanya Nabila memeluknya. Tapi masih terlalu sungkan. Adrian mendekati Ayah, melakukan apa yang tadi dia lakukan kepada Ibu, begitu pula Nabila yang mengikutinya. Adrian sudah berpamitan dengan Adnan dan Verry pagi tadi sebelum mereka pergi.
"Sudah siap semua. " Takutnya ada barang penting yang tertinggal. Begitulah pikir Adrian. "Sudah semua. " Jawab Nabila. Mereka langsung menaiki motor milik Nabila dan mengendarainya. "Mau ketemu Mamanya Via, gak. " Tanya Adrian.
Dengan cepat Nabila menjawab. "Gak ah, Kak. Ntar aku merasa gimana gitu. "
Perjalanan kali ini tidak terlalu terasa bagi Nabila, tidak seperti minggu lalu yang terasa begitu jauh. Hingga tidak terasa kini mereka sudah melewati setengah perjalanan. Adrian mengajak Nabila mampir di warung bakso yang terkenal di daerah tersebut.
"Dari dulu di sini selalu rame, selain harganya yang murah, rasanya juga gak ngecewain. " Jelas Adrian. Hampir setiap kali melewati warung ini Adrian selalu menyempatkan untuk mampir menikmati semangkok bakso yang legendaris ini.
Bahkan Adrian sudah kenal betul dengan Pak Hasri pemilik warung bakso ini beserta anak anaknya yang selalu membantunya di warung.
__ADS_1
"Eh, Adrian. Ini istrinya ya. " Pak Hasri mengarahkan pandangannya ke arah Nabila. "Iya, Pak. Dia dari Kabupaten XX. "
"Ini mau ke mana. " Tanya Pak Hasri lagi.
"Kita dari rumah Ibu, mau pulang ke rumah orang tua istri saya. Oh ya Pak, kenalin, ini Nabila. " Nabila tersenyum sembari mengulurkan tangannya.
Usai menghidangkan dua mangkok bakso beserta dua gelas es teh manis Pak Hasri kembali melayani pembeli yang lain.
.
.
.
.
__ADS_1
.