Ternyata Aku Istri Kedua

Ternyata Aku Istri Kedua
Bab 51


__ADS_3

Akhirnya kegiatan menyadap karet yang biasa selesai dua jam kini jadi melar sampai tiga jam setengah. Benar benar melelahkan.


Kenapa susah sekali.


"Capek, Kak. " Tanya Nabila.


"Capek banget. kalau disuruh milih. aku lebih milih ikut kompetisi seharian dari pada harus menyadap karet setengah hari. "


"Nanti lama kelamaan Kakak akan terbiasa. Biasanya kalau aku sama Mama itu nyadapnya cuman dua jam udah selesai. Pas sama Kakak jadi melar deh mentok tiga jam setengah lagi. "


"Ternyata ribet juga ya. Harus di sadap dulu, terus di kasih cuka. Habis itu baru dikumpulkan. Gak kebayang gimana capeknya kalau harus muterin sebanyak tiga kali ni kebun karet. " Keluh Adrian.


"Jangan banyak mengeluh, Kak. Masih untung kita dikasih kebun karet oleh Papa. Coba Kakak bayangkan mereka yang menyadap kebun orang lain itu hasilnya harus dibagi dua sama pemilik kebun. Jika mereka mendapatkan uang dari penjualan getah sebanyak seratus ribu. Itu artinya mereka bersih dapatnya cuman lima puluh ribu. Jadi kita sudah sepantasnya bersyukur, Kak karna hasilnya nanti tidak perlu dibagi dengan Papa. "


Adrian hanya mengangguk. Sebelumnya dia tidak pernah bekerja keras. Saat mendulang emas pun menurutnya tidak terlalu melelahkan. Berbeda dengan menyadap karet. Menurutnya ini pekerjaan yang sangat melelahkan. Mungkin karna dia belum terbiasa.


Adrian mengamati seorang laki laki seusia Ayahnya yang menyadap karet milik Hendra di sebelah kebun karetnya. Mengapa melihatnya terasa begitu mudah. Bahkan untuk satu batang pohon dia sadap dalam waktu kurang dari satu menit, berpindah dari satu pohon ke pohon lainnya.

__ADS_1


Dia hanya sendiri. Jika kami memerlukan waktu tiga jam setengah untuk menyadap satu kebun karet, tapi laki laki itu dapat menyelesaikannya dalam waktu satu jam setengah. Benar benar luar biasa, batin Adrian.


"Sudah selesai, Mas. " Laki laki itu menyapa Adrian.


"Eh, iya, Pak. Baru selesai. Bapak kayanya sudah selesai jugakan. "


"Ini sih sudah selesai, Mas. Tapi yang disana belum. " Sambil menunjuk satu kebun karet yang sama luasnya dengan yang tadi dia sadap.


"Saya permisi ya, Mas. Mau lanjutin nyadap. " Pamitnya kepada Adrian.


Adrian melongo. Sudah setua itu tapi tetap gigih dalam bekerja.


"Kasihan juga liatnya, tapi mau ngebantu gak bisa jugakan. Aku aja baru belajar. Boro boro mau bantu. Nyadap yang ini aja udah tepar kaya gini. " Sambil membaringkan tubuhnya di atas dedaunan yang bertebaran di tanah.


"Itu, Pak Amin sendirian aja gitu. "


"Kalau nyadap sendirian, Kak. Tapi nanti Istrinya akan datang buat ngebantuin ngasih cuka sama ngumpulin getahnya. "

__ADS_1


"Ayo, Kak. Kita pulang. " Ajak Nabila karna hari sudah mulai siang.


Dalam perjalanan pulang mereka banyak bertemu para panyadap karet. Ada yang sudah mau pulang seperti mereka, ada juga yang baru sampai.


"Kalau hari sudah terik seperti ini baru disadap pohonnya nanti getah yang keluar cuman sedikit, Kak. " Jelas Nabila agar Adrian tahu.


"Memangnya kenapa, kan sama saja.


"Kalau kita nyadapnya pagi pagi itu suasanya masih dingin, sejuk jadi getahnya itu tidak cepat kering. Nah beda kalau kita nyadapnya agak siangan kaya gini. Karna suasananya sudah terik menyebabkan getah yang keluar itu cepat mengering sehingga hasilnya akan lebih sedikit. "


.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2