Terpaksa Menikah Lagi

Terpaksa Menikah Lagi
Bersyukur


__ADS_3

"Aku sudah meminta Alex untuk berbagi kamar dengan Sonya, dan memintanya untuk mengumumkan pernikahan mereka kepada kita dan yang lainnya." jawab Hardhan, jemari tangannya membelai lembut rambut Kei.


"Bagus... Dengan begitu aku bisa langsung mencekik mereka..." geram Kei.


"Nah... Nah... Kau mulai emosi lagi... Itu tidak baik untuk bayi kita sayang..." ujar Hardhan dengan nada geli.


"Aku gemas melihat mereka berdua. Alexmu juga... Jelas-jelas sudah menikah tapi masih saja peduli dengan wanita lain... Dan... Dan..." Kei menggantung kata-katanya.


"Dan apa?" ulang Hardhan, sudut bibirnya membentuk senyum geli.


"Dan Alex mencium Icha... Astaga... Andai aku yang jadi Sonya, akan aku jedotkan kepala mereka!" geram Kei membuat tawa Hardhan pecah,


"Sayang... Itu nafas buatan... Bukan ciuman..." ralatnya.


"Aku tahu itu... Tetap saja bibirnya bertemu dengan bibir Icha... Bagaimana perasaan Sonya melihat itu semua... Oh aku sangat berharap Sonya membalasnya dengan mencium pria lain!!"


"Kau jangan hanya melihat dari sisi Sonya saja sayang... Coba lihat dari sisi lain, Talita bisa saja kehilangan nyawanya kalau Alex tidak bergegas memberikan bantuan pertama untuknya..."


"Lalu... Harus Alex juga ya yang kasih nafas buatan? Pengawalmu banyak di sana... Kenapa harus Alex? Dasarnya saja Jailangkung itu kegatelan!!" gerutu Kei, lalu melirik Hardhan,


"Anak buah sama boss sama saja, tidak bisa melewatkan kesempatan emas macam itu..." gumam Kei pelan.


Hardhan menekan dagu Kei, lalu mendongakkan wajahnya, "Kau bicara apa sayang?" tanyanya dengan menekankan kata sayang.


"Tidak ada..." elak Kei kesal.


Hardhan beranjak ke sofa panjang depan televisi, lalu merebahkan badannya di sana dengan kedua tangan menyatu di belakang kepalanya, matanya menatap langit-langit kamar.


Kei menggigit bibir bawahnya, mengutuk dirinya sendiri, mungkin ia sudah berlebihan bicaranya tadi, apa ia sudah menyakiti suaminya itu?


Tanpa di perintah kaki Kei melangkah sendiri mendekati Hardhan, lalu duduk di samping pinggangnya, "Sayang... Kamu marah yaa? kamu mendengar gumamanku yaa?" tanya Kei dengan nada menyesal.


Hardhan memalingkan wajahnya dari Kei, membuat Kei semakin merasa bersalah.


"Sayang... Aku minta maaf..." ujar Kei sambil memasang wajah memelasnya, sampai Hardhan melihatnya dan langsung mengerang pelan.

__ADS_1


"Kemarilah...." seru Hardhan sambil menepuk-nepuk sofa di sebelahnya.


Kei menggeleng, "Tidak akan muat, itu hanya cukup untukmu saja..." elak Kei.


Hardhan memiringkan badannya di pinggir sofa, membuat banyak space tersisa untuk Kei, "Mau beralasan apa lagi?" tanya Hardhan.


Kei menyeringai lebar, lalu berbaring menghadap Hardhan dengan tangan kiri Hardhan sebagai bantalan kepalanya. "Kamu membuat sofa ini basah... Harusnya kamu ganti celanamu dulu..." gerutu Kei.


"Kalau aku ganti celanaku sekarang, aku takut kau akan berakhir di tempat tidur itu..." goda Hardhan.


"Kenapa harus takut?" pancing Kei sambil memainkan bulu halus di dada Hardhan.


"Aku takut terbawa gairahku dan tidak bisa bersikap lembut. Aku tidak mau mengambil resiko." aku Hardhan.


"Oh... Aku rindu saat-saat itu..."


Hardhan mencium puncak kepala Kei, "Sabar sayang... Demi anak kita."


"Maaf tadi aku menyinggung perasaanmu..." desah Kei lirih.


"Ssttt... Aku mengerti kau sedang emosi saat ini sayang. Aku hanya minta kau bisa memaklumi Alex... Dia sudah terbiasa sendiri dan hidup bebas sesuai aturannya sendiri, bebas melakukan apapun. Pria seperti Alex tidak akan percaya dengan omong kosong tentang cinta, dia akan lebih mengedepankan logikanya daripada perasaannya. Sedang pengalamannya berhubungan dengan wanita... Sama saja dengan anak playgroup yang baru belajar mengenal huruf dan angka. Itulah Alex sayang..." tegas Hardhan.


"Itu beda sayang... Tidak perlu memakai perasaan untuk melakukan itu... Alex hanya tinggal menyebut namaku, maka wanita-wanita itu akan langsung mengikutinya, atau memberikan jadwal senggangnya untukku..."


"Cih sombong..." ledek Kei, lalu menyeringai lebar sebelum menambahkan, "Kalau dulu di pulau X Alex menyebut namamu padaku... Aku tidak akan ikut, malah aku akan berpikir dia mucikari, karena aku sama sekali tidak tahu siapa itu Hardhan..."


"Karena kau sayangku... Terlalu kuper..." cetus Hardhan sambil tergelak, membuat Kei memberengut.


"Yahh mungkin kau benar... Kalau Alex menyebut namamu pada Sonya... Sonya pasti mengenalimu... Sewaktu aku bilang aku akan menikah dengan Hardhan Adipramana, Sonya nyaris menelan telur puyuh yang baru saja masuk kemulutnya itu bulat-bulat..." Kei berhenti untuk tertawa, pikirannya menerawang ke saat-saat itu,


"Wajahnya semerah udang rebus saat ia mencoba menelannya, untung saja telur puyuh itu berhasil masuk ke lambungnya alih-alih menutup jalur pernafasannya..."


"Sonya sudah pasti mengenal namaku, perusahaan tempatnya bekerja dulu adalah anak perusahaanku..." jelas Hardhan.


Kei mengangguk, "Iya Sonya juga bilang seperti itu. Dia juga bilang kalau dia tidak percaya aku akan menikahi bujangan yang paling diminati di negara ini..." Kei melirik sekilas ke wajah suaminya, "Cih, pantas saja kamu bisa sesombong ini..." lanjutnya.

__ADS_1


Hardhan tergelak geli, "Kau masih saja cemburu dengan masa laluku sayang..."


"Tidak... Kau salah sayang aku tidak cemburu, aku hanya...." apapun yang ingin di bicarakan Kei terhenti oleh ciuman Hardhan di bibirnya, ciuman yang mampu melumpuhkan otaknya, membuat Kei melupakan semuanya, selain bibir lembut yang sedang menjelajahi bibirnya itu. Ciumannya yang semanis madu dan anggur.


Kei mengerang protes ketika Hardhan melepas ciumannya. Dengan nafas memburu, Hardhan membawa Kei ke dalam pelukannya, detak jantung di dada Hardhan terdengar jelas di telinga Kei.


"Pengorbanan awal untuk jadi seorang Papi..." ujar Hardhan sambil terkekeh pelan, lalu menciumi puncak kepala Kei.


"Apa kamu keberatan?" tanya Kei.


"Tidak... Tentu saja tidak sayang. Aku teramat sangat bahagia hingga aku mampu mengesampingkan keinginanku sendiri demi untukmu dan calon anak-anak kita... Aku akan selalu berusaha membuatmu bahagia, agar anak-anakku juga akan bahagia. Karena anak-anak mulai merasa bahagia sejak di dalam kandungan ibunya." jawab Hardhan lembut.


"Sudah pernahkah aku bilang padamu kalau aku sangat bersyukur kau lah yang di pilih Galang untukku?" tanya Kei dengan suara parau, dan Hardhan menggeleng.


"Aku selalu bersyukur di tiap kesempatan, Tuhan mengirimmu sebagai jawaban dari doa-doaku... Aku selalu berdoa semoga Tuhan merubah sikap Galang menjadi lebih baik, lebih sabar dan tidak menyakitiku lagi, aku sangat menginginkan Galang berubah... Aku juga berdoa semoga mamanya Galang bersikap lunak padaku dan mau menganggapku sebagai anaknya sendiri, aku sangat menginginkan kasih sayang seorang ibu... Dan ternyata benar yang pepatah katakan... Tuhan tidak memberikan apa yang kita inginkan... Tapi Tuhan memberikan apa yang kita butuhkan... Dan..." Kei terdiam, air matanya menetes di pipinya, Kei menarik nafas panjang sebelum melanjutkan,


"Dan Tuhan mengirimmu dan mamamu sebagai jawabannya... Kau dengan segala kebaikan dan kesabaranmu padaku... Serta mama dengan kasih sayangnya yang begitu tulus padaku... Aku sangat bersyukur untuk itu... Sangat... Sangat bersyukur."


Hardhan menepuk-nepuk punggung Kei, "Terkadang demi menyelamatkanmu dari orang yang salah... Tuhan mengirimkan orang ketiga..."


Kei tertawa pelan sambil memukul gemas dada Hardhan, "Apaan sih... Yang benar itu... Terkadang demi menyelamatkanmu dari orang yang salah, Tuhan mematahkan hatimu..." ralatnya.


"Akhirnya kau tertawa juga sayang... Aku tidak tahan melihatmu sedih." goda Hardhan, dan Kei kembali memukul dadanya.


"Kau selalu saja menggodaku... Owwhh!!" pekik Kei sambil terlentang dan memegang perutnya, membuat Hardhan panik hingga langsung turun ke lantai dan berlutut di samping Kei.


"Ada apa sayang? Perutmu kram lagi?" tanyanya panik.


Kei memegang tangan Hardhan, dan meletakkannya di perutnya yang membuncit, lalu Kei melihat perubahan di wajah Hardhan, "Kau merasakannya?" tanya Kei sumringah.


Hardhan mengangguk sambil menyeringai lebar, "Ini luar biasa... Apa mereka selalu seperti ini?" tanya Hardhan dengan suara yang nyaris tercekat.


"Biasanya tidak terlalu terasa, hanya berupa kedutan saja..." jawab Kei sambil tersenyum dan membelai rambut Hardhan.


Hardhan mendekatkan wajahnya ke perut Kei, "Hei broo... Kami tidak sabar menantikanmu..."

__ADS_1


Kei terkikik geli, "Bagaimana kamu bisa tahu anak kita laki-laki?"


Hardhan menyeringai lebar, "Feelingku saja sebagai Papinya..."


__ADS_2