Terpaksa Menikah Lagi

Terpaksa Menikah Lagi
Mual


__ADS_3

Hardhan memijat lembut tengkuk Kei, ketika Kei memuntahkan apapun yang ia makan saat sarapan tadi ke kloset, "Biasanya tidak pernah semual ini..." keluh Kei sambil menekan tombol flash.


"Kau sudah merasa lebih baik?" tanya Hardhan khawatir, lalu menuntun Kei ke tempat tidur.


"Aku masih merasa mual..." jawab Kei seraya menahan rasa mual yang kembali menyerangnya.


"Mau aku ambilkan es lemon?"


Kei mengangguk, lalu bersandar di kepala tempat tidur sambil menunggu Hardhan kembali dengan segelas perasan lemon yang sudah di bekukan menjadi es batu. Saran dari mama untuk mengurangi rasa mual.


Air perasan lemon lumayan menenangkan perut dari rasa mual dan muntah, selain itu perasan lemon juga bagus sebagai antioksidan dan meningkatkan kemampuan tubuh dalam menyerap zat besi dari makanan, dan masih banyak manfaat lainnya. Kata mama saat itu.


Hardhan menyuapkan sepotong es ke mulut Kei, Kei memejamkan kedua matanya ketika mengulum es lemon itu, Hardhan membelai lembut kepala Kei.


"Merasa lebih baik?" tanya Hardhan lagi.


"Lumayan..." jawab Kei.


"Aku akan memundurkan jadwalku ke Paris..."


Kei membuka matanya, menatap suaminya yang belakangan ini selalu mengkerutkan keningnya, karena selalu mengkhawatirkan Kei.


"Jangan konyol sayang, kau harus segera menyelesaikan masalah itu. Aku tidak tenang kalau wanita ular itu masih berkeliaran bebas."


"Tapi aku tidak tega meninggalkanmu dalam kondisi seperti ini... Siapa yang akan memegang rambutmu dan memijat tengkukmu ketika kau muntah nanti? Kau terlihat begitu menderita saat kau muntah. Dan aku tidak tega melihatnya, seandainya aku bisa menggantikanmu, aku rela merasakan semua itu selama kau tidak tersiksa lagi." kata Hardhan sambil menyuapkan kembali potongan es lemon ke mulut Kei.


Kei tertawa pelan, "Konyol... Hanya wanita yang bisa mengalami itu. Mungkin aku akan meminta mama untuk tidur bersamaku di sini..."


"Mama tidak bisa bergerak bebas sayang... Dan mama tidak akan kuat merangkulmu."

__ADS_1


Kei menggenggam tangan Hardhan, berusaha menenangkannya, "Hardhan... Sayang... Hanya tiga hari kan? Aku bisa melakukan semua itu sendiri selama tiga hari... Aku tidak selemah yang kau kira." lalu Kei menunduk ke arah perutnya, dan mengelusnya dengan penuh kasih sayang, "Kamu jangan nakal yaa nak... Selama papi di Paris nanti..." bisik Kei lembut sambil tersenyum.


Hardhan memasukkan lagi es lemon ke mulut Kei, tanpa ia sadari setetes air mata jatuh ke pipinya, dan Kei melihatnya, "Sayang... Kamu menangis?" tanya Kei khawatir sambil mengelap air mata suaminya.


Baru kali ini Kei melihat Hardhan menitikkan air mata. Raksasanya yang arogan dan selalu percaya diri itu, membiarkan dirinya terlihat rapuh di depan Kei. Hardhan memeluk Kei, membenamkan kepalanya ke leher Kei. Badannya bergetar karena isak tangisnya, membuat Kei bertambah khawatir lagi, "Sayang..."


"Aku terharu Kei... Hatiku benar-benar terenyuh saat kau berbicara dengan anak kita tadi. Aku tidak pernah merasa sebahagia ini, sampai aku merasa ingin menangis dan tertawa secara bersamaan. Kalian adalah sumber kebahagiaanku..."


Kei menepuk-nepuk punggung Hardhan, berusaha menenangkannya, "Apa kau tidak keberatan di panggil Papi?" goda Kei.


Hardhan melepas pelukannya, lalu menatap Kei dan tersenyum lembut, "Tidak mommy..."


Jemari Kei menghapus sisa air mata di pipi suaminya, lalu memeluknya kembali, "Oh Hardhan... Betapa manisnya panggilan itu terdengar di telingaku..."


"Aku semakin berat meninggalkan kalian..." desah Hardhan lirih.


"Kau harus pergi sayang... Demi ketenanganku juga, aku tidak mau terus-terusan di terror wanita itu."


"I love you too..." balas Kei.


Kemudian Hardhan mencium perut Kei, "Hai nak, jaga mommymu baik-baik, dan jangan menyusahkannya lagi, lebih baik kau menyusahkan papi saja, papi lebih kuat dari mommymu, Ok?!" bisik Hardhan di perut Kei kemudian menempelkan telinganya di perut Kei, lalu menyeringai lebar ke Kei, "Anak kita menjawab siap papi..." kata Hardhan membuat tawa Kei pecah.


Hardhan kembali mendekati perut Kei, "Kau janji tidak akan membiarkan mommymu tersiksa lagi?" Kemudian menempelkan kembali telinganya di perut Kei, "Apa jawabnya?" tanya Kei mengikuti kegilaan suaminya.


"katanya iya... Iya... Aku janji..." jawab Hardhan dan mereka tertawa bersama.


**********


Entah karena sugesti dari candaan Hardhan saat itu atau memang masa mual-mualnya sudah berakhir, Kei tidak merasa mual sama sekali sejak Hardhan berangkat ke Paris semalam. Dan pagi ini Kei benar-benar merasa sehat, ia bisa makan apapun tanpa adanya penolakan dari dalam perutnya.

__ADS_1


Begitupun dengan makan siangnya. Kei yang biasanya memusuhi ikan, sekarang bisa menyantapnya tanpa rasa mual sama sekali. Dan Kei juga meminum susu hamilnya tanpa rasa ingin memuntahkannya lagi.


"Mama senang kau tidak merasa mual hari ini Kei..." kata mama sambil menyerahkan segelas lemon hangat ke Kei, lalu duduk di sebelah Kei.


"Iya aku juga bingung ma, biasanya saat buka mata di pagi hari, aku langsung merasa mual, tapi pagi ini tidak mual sama sekali. Justru aku merasa lebih fresh." gumam Kei lalu meminum lemon hangat buatan mama.


"Itu bagus sayang... Sekarang kau mau makan apa untuk makan malam nanti? Biar mama minta bi Ijah memasaknya untukmu." tanya mama.


"Terserah, Ma... Selama itu baik untuk kandunganku... Maaf aku tidak bisa bantu bi Ijah, Hardhan melarangku turun ke dapur."


Mama membelai lembut kepala Kei "Kei, bukan cuma Hardhan yang melarangnya, mama juga. Semua demi kebaikanmu dan anak kalian, cucu mama. Jadi ada baiknya selama Hardhan belum kembali, kau di kamar saja yaa..."


"Iya ma aku mengerti."


"Anak pintar... Ya sudah mama tinggal dulu ya, nanti biar bi Siti yang akan mengambil piring kotor ini. Sekalian membawakan susu hangat dan buah-buahan untukmu."


"Iya ma, Terima kasih..." kata Kei sambil tersenyum.


Mama mencium ujung kepala Kei sebelum keluar dari kamar. Kei langsung bergegas ke tempat tidur, dan membuka handphonenya. Belum ada kabar dari suaminya, seharusnya Hardhan sudah sampai Paris saat ini.


"Kabari aku kalau sudah sampai ya sayang." chat Kei ke Hardhan, tapi hanya contreng satu.


Kei ingin menelepon Sonya, tapi Sonya sedang sibuk merawat papanya, Kei mengunci lagi handphonenya lalu merebahkan diri ke atas tempat tidur, tangannya mengelus lembut perutnya, "Tumbuh sehat ya sayang..."


Entah berapa lama Kei tertidur, sampai ia terbangun karena handphonenya berdering di sampingnya, dengan mata yang masih setengah terpejam, Kei meraba-raba meja nakas di sebelahnya, mencari handphonenya.


"Ya halo..." sapa Kei.


"Sayang... Aku sudah sampai di penthouse." balas Hardhan, Kei langsung melihat jam di dinding, sudah pukul lima sore.

__ADS_1


"Kamu mau mati ya?! Kemana saja jam segini baru sampai? Di sana jam duabelas siang kan? Seharusnya kamu sudah sampai beberapa jam sebelumnya!!" teriak Kei kesal.


__ADS_2