Terpaksa Menikah Lagi

Terpaksa Menikah Lagi
Sepuluh Milyar


__ADS_3

Kei sedang antri di depan ATM, di salah satu Pusat Perbelanjaan di daerah perkantoran, ketika Sonya meneleponnya.


"Ya Nyaa... Kamu sudah sampai mana?"


"Aku sudah on the way kesana nih..." jawab Sonya.


Mereka sengaja memilih Pusat Perbelanjaan ini karena berdekatan dengan kantor Sonya, jadi dia tinggal jalan kaki ke Mall ini.


"Oh ya sudah, mau janjian dimana?" tanya Kei lagi sambil memasukkan kartu ATM dan nomor pinnya, lalu menekan nominal yang ingin ia ambil.


"Cari tempat makan all you can eat saja, aku stress butuh banyak makan." gerutu Sonya.


"Oh ok siap, aku tahu tempatnya." balas Kei sambil menekan tombol tidak, dan menunggu atmnya keluar.


"Astagaaaa!!!" Kei memekik kaget melihat nominal sisa saldo yang tertera di layar atm.


"Ada apa Kei? Halo.... Kei... Woiii!!"


"Bentar Nyaa nanti aku telepon lagi." Kei langsung memutuskan sambungan teleponnya.


Ia kembali memasukkan kartu dan menekan pinnya, lalu menekan lagi tombol cek saldo, matanya kembali terbelalak, menghitung jumlah nol di deretan angka tersebut.


Astaga... Sepuluh milyar lebih!!!


Kei kembali menekan tombol tidak, mengambil atmnya dan langsung beranjak pergi sambil mencari contact Alex di hpnya, seperti biasa baru berdering sekali sudah langsung terangkat.


"Ya nona Kei?"


"Kasih handphonemu ke bossmu, aku ingin bicara..."


"Baik nona."


Lama Kei menunggu, tapi ternyata sambungan teleponnya terputus. Kei baru akan menelpon lagi ketika ada panggilan masuk dari nomor asing, dan Kei tidak pernah mengangkat nomor telepon yang tidak terdaftar di contactnya, sebagus apapun deretan angka di nomor asing tersebut, jadi ia mengabaikan telepon yang terus berdering itu.


Ting... Masuk notifikasi dari pesan chat, Kei langsung mengkliknya dan membaca chat dari nomor asing itu.


"Kau berani menelepon pria lain... Tapi tidak mengangkat telepon dariku! Kau mau cari mati ya?!"


Mana aku tahu itu nomormu!


Suntuk Kei sambil melotot ke layar handphonenya.


"Maaf aku tidak tahu itu nomormu, aku pikir marketing kartu kredit."


"Telepon aku sekarang!"


Cih raksasa arogan!


Kei langsung menekan nomor Hardhan,


"Ada apa telepon Alex?" cecar Hardhan.


"Aku ingin bicara denganmu."


"Kenapa tidak meneleponku langsung?"

__ADS_1


"Aku kan tidak tahu nomormu."


"Kenapa tidak tanya?"


"Aku tidak pernah melihatmu memegang handphone, aku pikir kamu memang tidak punya."


"Sekarang kau sudah tahu nomorku, kau bisa langsung meneleponku sekarang, hanya empat orang yang tau nomor handphoneku ini, jadi jangan kasih tahu ke siapapun!"


Astaga... Hubungan suami istri seperti apa ini... Ribut hanya karena nomor handphone.


Kei menghela nafas kesal,


"Iya... Iya..."


"Sekarang apa yang ingin kau bicarakan padaku?" tanya Alex lagi.


"Kamu... Apa kamu yang mentransfer uang ke rekeningku?"


"Kenapa? Kurang?"


"Bukan... Bukan begitu, hanya saja itu terlalu banyak Hardhan, aku malu menerimanya."


"Kau malu menerima uang dari suamimu sendiri? Memangnya kau mau terima dari siapa lagi?"


"Bukan seperti itu...."


"Demi Tuhan Kei, hanya kau saja dari sekian wanita yang protes aku mentransfer uang sebanyak itu... Yang lain pasti akan menari-nari kegirangan melihat uang sebanyak itu di rekeningnya, mereka tidak akan protes sepertimu."


Perut Kei langsung mencelos, amarahnya langsung naik, "Aku berbeda dengan wanitamu yang lain!! Jangan samakan aku dengan pecun-pecunmu itu?!!" teriaknya lalu mematikan sambungan teleponnya.


Raksasa Arogan, Kei menyimpan nama itu di contactnya.


**********


"Kedua pria plontos itu terus mengikuti kemanapun kamu pergi..." ledek Sonya.


Kei menyandarkan badannya ke kursi sambil melihat kedua pria yang di maksud Sonya


"Yah... Aku jadi merasa tidak bebas."


"Itu karena Pak Hardhan mengkhawatirkanmu."


"Cih mengkhawatirkan apa? Dia hanya takut aku selingkuh dan hamil anak orang lain, harusnya aku yang kirim pengawal untuknya, dan mencatat siapa-siapa saja yang sudah menjadi selingkuhannya!"


Tawa Sonya pecah, menarik perhatian dari pengunjung lainnya,


"Lo terdengar seperti istri yang sedang cemburu Kei hahaha."


Kei menunjuk hidungnya sendiri,


"Aku? Cemburu? Hah, aku jadi ingin ketawa mendengarnya." tapi tidak ada suara tawa yang keluar dari mulut Kei, ia malah terdiam.


"Ya sudah ganti topik, tadi kenapa lo tiba-tiba teriak di telepon? Bikin gue panik saja... Gue nyaris lari tadi kesini."


"Itu dia permasalahan awal aku sama Hardhan, dia transfer uang sepuluh milyar ke rekeningku Nyaa... Sepuluh milyar!!"

__ADS_1


"Terus... Masalahnya dimana?"


Kei menunduk, memainkan kuku-kuku jarinya,


"Aku merasa... Aku tidak berhak menerimanya Nya. Bagaimanapun juga pernikahan kami palsu, Hardhan tidak harus mengeluarkan uang sebanyak itu untukku. Padahal aku dan mas Galang yang sudah memanfaatkannya."


"Apa kamu yakin pak Hardhan mau di manfaatkan sama kalian? Aku rasa dia punya alasan tersendiri untuk nikahin kamu...."


"Satu-satunya alasan dia menikah karena m


Mama selalu mendesaknya, awalnya dia bilang hanya akan melakukannya satu kali saja, makanya aku sama mas Galang setuju. Tapi siapa sangka dia malah melakukan itu terus-terusan."


Kei diam pikirannya melayang ke saat-saat Hardhan bercinta dengannya,


"Staminanya seperti tidak ada habisnya...." gumam Kei lebih ke diri sendiri.


"Dan kamu menikmatinya...." tebak Sonya.


Wajah Kei langsung merona merah,


"Aku... Tidak terlalu..." elaknya.


Tawa Sonya kembali pecah,


"Mukamu itu tidak bisa bohong Kei, berarti tidak ada masalah kan seberapa seringnya pak Hardhan bercinta sama kamu... Toh kamu juga menikmatinya."


"Masalahnya tidak pernah terpikirkan olehku sebelumnya, kalau bercinta bisa di lakukan setiap hari. Setahu aku, biasanya hanya dua minggu sekali, itupun tidak lebih dari tiga menit. Tapi dengan Hardhan...." Kei mengibas tangannya, "Sudahlah, percuma cerita sama orang yang belum menikah." lanjut Kei.


"Aku memang belum menikah, tapi aku tidak buta-buta amat kali tentang hubungan suami istri!"


"Sudah ahh, sekarang gantian kamu yang cerita... Kenapa kamu stress di kantor? Apa Hardhan ngasih setumpuk pekerjaan ke kamu?"


Diingatkan dengan keluhannya di kantor, Sonya langsung meletakkan sendok dan garpunya dengan kesal "Gila yaa tuh Jailangkung!! Tiada hari tanpa dia mengkritik hasil kerja aku!!"


"Jailangkung?" tanya Kei bingung.


"Maksud aku Alex, sudah kaya jailangkung dia.. Datang tidak di undang, pergi juga tanpa permisi! Selalu tiba-tiba sudah ada di belakang aku, ngatur-ngatur ini itu... Menyuruh aku merevisi ini itu... Terus secara tiba-tiba juga dia sudah menghilang...."


Kei berdeham menahan tawanya, ia saja terkadang tidak tahan melihat Alex, apalagi Sonya yang akan sering bertemu Alex di kantornya.


Drrrrttttt.... handphone Sonya bergetar, terlihat nama Jailangkung di layar handphonenya.


Panjang umur dia, baru di bicarakan sudah langsung telepon.


Tawa Kei tidak bisa di tahan lagi ketika melihat Sonya menarik nafas kesal sebelum menjawab teleponnya.


"Yaa pak Alex...." sapa Sonya lembut padahal bibirnya mencibir kesal.


Entah apa yang di bicarakan Alex, karena Sonya langsung menatap ngeri ke arah Kei.


"Iya baik pak."


Sonya kembali meletakkan handphonenya di atas meja, menyandarkan badan ke kursi sambil melipat kedua lengannya.


"Sepertinya lo sudah membuat boss murka."

__ADS_1


Aku??


__ADS_2