Terpaksa Menikah Lagi

Terpaksa Menikah Lagi
Video Call


__ADS_3

"Madame... Tolong buatkan saya Soupe a l’oignon, saya sedang tidak enak badan." pinta Hardhan ke madame Agathe sesampainya ia di penthouse.


"Avec plaisir, monsieur..." jawab madame Agathe sambil tersenyum.


"Lex, jangan lupa hubungi monsieur Gerrard, kita ajukan tuntutan hari ini juga. Saya istirahat dulu." perintah Hardhan.


"Baik boss."


Hardhan langsung bergegas ke kamarnya, kemudian berendam dan berelaksasi di kolam Jacuzzi, berharap pegal-pegal yang ia rasakan hampir di sekujur tubuhnya itu menghilang.


Setelah berendam, ia merasakan kantuk yang teramat sangat, jadi ia merebahkan badannya ke atas tempat tidur, dan langsung terlelap.


Hardhan terbangun karena ketukan pintu, lalu terdengar suara Alex, "Boss, Soupe a l’oignon sudah siap."


Sambil menguap Hardhan melihat jam sudah menunjukkan pukul dua belas siang, dan ia lupa mengabari Kei kalau ia sudah sampai.


Dengan segera Hardhan mengeluarkan handphonennya dan langsung nenghubungi Kei. Setelah berdering beberapa kali Kei pun mengangkat teleponnya.


"Ya halo..." sapa Kei.


"Sayang... Aku sudah sampai di penthouse." balas Hardhan.


"Kamu mau mati ya?! Kemana saja jam segini baru sampai? Di sana jam duabelas siang kan? Seharusnya kamu sudah sampai beberapa jam sebelumnya!!" teriak Kei kesal.


"Sayang... Kau jangan marah... Tadi aku ketiduran..."


"Ketiduran dimana?" tanya Kei masih dengan nada kesal.


"Di penthouse sayang... Memangnya dimana lagi..."


"Video call!!" seru Kei lalu mematikan sambungan teleponnya.


Hardhan mengangkat video call dari Kei, "Hai sayang... I miss you so much..."


Kei malah memicingkan kedua matanya, "Kamu sama siapa?" tanyanya.


"Aku sendiri sayang..." jawab Hardhan sambil memutar handphonenya, supaya Kei bisa melihat sekitarnya.


"Awas yaa kalau kamu selingkuh... Aku juga akan selingkuh!" ancam Kei.


"Aku tidak akan berani selingkuh darimu sayang..." balas Hardhan sambil menyeringai.


"Sayang... Kenapa wajahmu pucat? Kamu sakit?" tanya Kei dengan nada khawatir.


"Aku sedikit tidak enak badan... Tapi tidak apa-apa... Aku sudah meminta madame Agathe membuatkan Soupe a l’oignon untukku. Bagaimana denganmu? Kau bisa mengatasi mualmu?"


Kei tertawa lebar, "Sepertinya anak kita memenuhi janjinya padamu sayang... Aku tidak mual lagi, bahkan aku bisa menghabiskan susuku..."


"Oh yaaa? Bilang pada anak kita, papi bangga padanya." seru Hardhan dengan wajah sumringah.


"Iya nanti aku sampaikan... Kamu besok pulang kan?"


"Lusa aku baru pulang sayang... Kenapa? Kau merindukanku?"


"Iya... Aku lapar..." rajuk Kei sambil merengut.


"Kenapa tidak makan? Apa kau mulai mual lagi? Atau kau ingin makan apa? Kau tinggal bilang ke bi Ijah sayang..." cecar Hardhan.


"Aku ingin makan kamu..." jawab Kei dengan bibir cemberut yang terlihat menggemaskan.


Hardhan memutar kedua bola matanya, "Dasar mesum..."

__ADS_1


"Kamu yang mengajariku..." suntuk Kei.


Tawa Hardhan pecah, "Ahh sayangku... Aku sangat berharap kau ada di sampingku saat ini... Aku berasa hampa tanpamu."


"Siapa suruh tidak mengajakku..." cibir Kei.


"Dengan kondisimu seperti itu? Tidak... Aku tidak akan mengambil resiko."


"Kamu pulangnya besok saja ya..." rengek Kei


"Lusa sayang... Aku harus selesaikan urusanku terlebih dahulu di sini..."


Kei kembali merengut, "Katanya kamu merindukanku... Apa kamu tidak sayang aku lagi... Pokoknya kalau besok kamu belum pulang, aku mau pindah saja ke rumah Papa..." gerutu Kei sebelum mematikan video callnya.


Hardhan mencoba telepon lagi, tapi tidak tersambung, Kei mematikan handphonenya.


Sial...!!


Hardhan turun ke dapur, lalu duduk di bar stool. Sudut mata Hardhan melihat Alex yang sedang menerima telepon.


"Madame... Tolong buatkan jus de citron (lemon juice) untukku..." pinta Hardhan.


"Oui, monsieur... Kenapa kali ini madame Kei tidak ikut?"


"Dia sedang hamil madame, dan kondisinya tidak memungkinkan untuk ikut..." jawab Hardhan sambil tersenyum bangga.


"Mon dieu, merci pour tous... saya senang mendengarnya..." seru madame Agathe dengan wajah gembira, Hardhan tersenyum penuh arti.


Hardhan menghabiskan semangkuk Soupe a l’oignon, lalu madame Agathe meletakkan segelas lemon juice di depannya dan Hardhan langsung menegaknya sampai habis.


Hardhan merasakan perutnya mulai membaik setelah minum juice itu, baru kali ini ia mual saat naik pesawat, seperti mabuk kendaraan saja.


"Madame, tolong buatkan lagi jus de citron, dan langsung bekukan di ice twist ya..."


Tidak lama kemudian Alex menghampirinya,


"Monsieur Gerrard dan kuasa hukum kita sudah mengajukan tuntutan boss, dan pihak berwajib akan segera melakukan penangkapan terhadap para tersangka." lapor Alex.


"Bagus... Bagaimana dengan Karina?"


"Sesuai dugaan anda, dia juga sudah mendarat di Paris hari ini, dan pihak berwajib akan segera menahannya."


"Semua maju lebih awal dari perkiraan kita. Kalau begitu kita majukan juga kepulangan kita besok Lex. Aku tidak tahan jauh dari istriku.


"Baik boss."


Hardhan menghela nafas lega, "Akhirnya aku bisa menegakkan keadilan untukmu Anindira, semoga kau tenang di alam sana..." desah Hardhan lirih.


"Lalu bagaimana dengan Ryo boss?"


"Dia sudah sangat membantu, segera kuncurkan dana untuk investasi dan buat perjanjian bisnis dengannya. Dan kau boleh istirahat sekarang, saya mau renang dulu."


"Baik boss."


Setelah Alex keluar dari penthousenya, Hardhan langsung membuka baju dan celana panjangnya, hanya menyisakan celana boxernya saja. Mungkin badannya pegal-pegal karena belakangan ini Hardhan kurang olahraga, jadi ia memutuskan untuk tetap renang.


"Kau bisa beberes sekarang madame..." kata Hardhan sambil meletakkan handphonenya di meja depan televisi.


"Saya akan beres-beres lantai atas terlebih dahulu monsieur..."


Hardhan mengangguk, lalu bergegas ke kolam renang.

__ADS_1


**********


Merasa suntuk seharian berdiam diri di kamar, Kei memutuskan untuk turun ke lantai bawah, lalu berbelok ke arah taman, dan melihat mama yang sedang menggemburkan tanah yang akan di tanami bibit-bibit tanaman, Kei langsung menghampirinya.


Salah satu dari dua dokter yang diminta Hardhan untuk stand by mengekor di belakang Kei, begitu juga dengan Upin dan Ipin.


"Kei... Kenapa kamu ke sini?" tanya mama panik.


"Aku iseng ma... Aku ingin jalan-jalan saja di sekitar taman sini, sekaligus menghirup udara segar..." jawab Kei sambil nyengir.


"Kamu ini... Nanti kalau Hardhan tahu bisa marah dia..."


"Hardhan tidak akan marah mama... Karena aku sudah sehat sekarang." elak Kei


"Tetap saja mama khawatir sayang... Wajahmu masih terlihat pucat."


"Ma... Memang kalau sedang hamil punggung terasa sakit ya ma?"


"Ketika usia kandungan delapan bulan, mama baru merasakan sakit punggung. Kenapa sayang?"


"Kenapa punggungku sering sakit ma? Padahal baru enam minggu?" tanya Kei lagi.


"Memang rasa sakit di tiap kehamilan berbeda sayang... Baiknya kau tanyakan langsung saja ke dokter itu." kata mama sambil menunjuk ke dokter yang mengekor di belakang Kei tadi.


"Iya nanti aku tanyakan...."


"Sekarang kamu kembali ke kamarmu ya sayang... Kamu harus banyak istirahat, kamu tidak takut Hardhan marah nantinya." bujuk mama.


"Kita video call sama Hardhan ya Ma... Sekalian aku izin sama dia buat jalan-jalan di taman."


"Nah... Begitu lebih baik. Ya sudah coba kamu telepon dia."


Sambil menyeringai lebar Kei langsung video call Hardhan, tapi tidak terangkat. Kei terus mencobanya lagi, dan setelah beberapa kali berdering Hardhanpun langsung mengangkatnya.


Tapi wajah yang ada di layar handphonenya bukan Hardhan, tetapi Karina.


"Karina... Kenapa handphone Hardhan ada sama kamu? Mana Hardhan?" desak Kei.


"Ya Tuhan..." gumam mama.


"Hai Kei... Hai mom.... Hardhan lagi berenang..." seru Karina sambil memperlihatkan Hardhan yang memang sedang asik renang. Lalu layar kembali menangkap wajah Karina, "Dia sedang membersihkan diri setelah bercinta denganku." katanya sambil terkikik.


Jantung Kei langsung berdegup kencang, tangannya gemetar karena amarah, tapi ia masih mencoba menahan diri. "Kamu bohong kan? Kamu..."


"Untuk apa aku berbohong..." potong Karina, lalu mengarahkan kamera handphone ke baju dan celana Hardhan yang berserakan dan kembali ke wajahnya.


"Kau lihat... Aku baru saja sampai di penthousenya dan dia sudah tidak sabar hingga bercinta denganku di sofa. Lihat saja bajuku sampai sobek, sepertinya aku harus meminjam bajumu..."


Karina mengarahkan kamera ke bajunya yang sudah tidak beraturan lagi, membuat dada Kei terasa sesak, dan hatinya terasa tercabik-cabik. "Bohoooooong!!!!" teriak Kei histeris, mama langsung mengambil handphone Kei dari tangannya.


Kei seperti tidak mempunyai tenaga lagi, dia langsung terduduk di tanah kedua tangannya memeluk lututnya, dan menyembunyikan wajahnya diantara lututnya sambil menangis histeris. Upin, Ipin dan dokter itu langsung menghampirinya, tapi Kei menolak di sentuh.


"Hai wanita ular... Berani-beraninya kau membohongi menantuku!! Aku tidak percaya sedikitpun anakku akan bersikap tidak bermoral seperti itu!!" hardik mama.


"Mama... Kei hanya tinggal sebulan lagi menjadi menantumu..."


"Apa maksudmu?!!!"


"Hardhan dan Kei hanya menikah kontrak selama enam bulan. Kau bisa menanyakan kebenarannya pada menantu kontrakmu itu. Oh Hardhan memanggilku... Aku harus segera menghampirinya, mungkin dia minta nambah... Hihihi..." Karina langsung mematikan teleponnya.


"Kei... Kei..." teriak mama panik melihat keadaan Kei, tapi Kei tidak merespon.

__ADS_1


"Nona Kei pingsan, tolong bawa dia ke kamarnya.." perintah dokter itu ke Upin Ipin.


__ADS_2