
"Bonjour! Comment vas tu? (Selamat pagi!, apa kabar....?)" sapa madame Agathe sambil mengaduk adonan kue, ketika Kei duduk di bar stool.
Hardhan sudah mengajarkan sapaan umum dalam bahasa Perancis, jadi Kei sudah mengerti sapaan madame Agathe, dan tahu harus menjawab apa.
"Bonjour, je vais bien. Merci. Et vous? (Pagi, saya baik-baik saja. Terima kasih. Dan Anda?)"
"Oui, Je vais bien. Merci.... Pelafalanmu masih kurang ma chérie, tapi sudah ada kemajuan, kau sudah mulai berani membalas sapaan dalam bahasa Perancis juga."
Kei menyeringai lebar, "Hardhan baru mengajariku tadi malam. Katanya aku harus sering-sering berkomunikasi denganmu dalam bahasa Perancis, supaya aku bisa cepat lancar."
Dan setiap kali pelafalanku salah, dia menghukumku dengan bercinta denganku. Cih! Raksasa itu, selalu bisa mengambil kesempatan kapan pun dan dimanapun.... gerutu Kei dalam hati
Lalu Kei mencari-cari sosok suaminya, "Apa Hardhan sudah berangkat madame?" tanya Kei.
"Oui, Monsieur Hardhan dan Monsieur Alex sudah berangkat. Sekarang makanlah madame Kei, dan dimana mademoiselle Sonya?"
"Sonya tidak ikut mereka?" tanya Kei bingung.
"Oui. Kata monsieur Hardhan, mademoiselle Sonya masih jet lag."
"Oh yasudah kalau begitu, biarkan saja dia istirahat dulu. Sekarang, apa menu sarapan kita hari ini madame?" tanya Kei antusias.
Sambil tersenyum, madame Agathe membuka tutup saji yang terbuat dari perak, dan mata Kei langsung terbelalak melihat isinya "Oh my...." pekik Kei.
"Filet de canette de Challans, monsieur Hardhan memintaku membuatnya untukmu...."
Kei mendesah, "Madame, aku ingin tahu cara memasaknya, tapi sepertinya aku melewatkan kesempatan itu...."
Tawa serak madame Agathe pecah, "Kita bisa memasaknya lagi nanti, ma chérie. Untuk saat ini kamu makanlah dulu."
Kei baru akan mencicipi hidangan madame Agathe ketika tiba-tiba pintu penthouse terbuka, dan masuklah wanita ular itu, Karina.
__ADS_1
Kei ternganga melihat Karina dengan santainya masuk, seperti masuk ke dalam rumahnya sendiri, Lalu menghampiri madame Agathe, dan mencium pipi kanan dan pipi kirinya.
"Bonjour! Madame Agathe, Comment vas tu?" tanyanya dengan bahasa Perancis yang fasih. Jelas saja fasih, dia sudah lama menetap di Perancis.
Dengan kikuk madame Agathe membalas sapaan Karina, "Oui, Je vais bien." jawab madame sekenanya.
"Bagaimana kamu bisa langsung masuk ke sini?" tanya Kei sambil micingin kedua matanya.
Karina tersenyum sinis, lalu duduk di bar stool sebelah Kei, "Bagaimana lagi, aku cukup sering datang ke sini... Dan passwordnya masih sama dengan terakhir kali aku ke sini... Hmmm sekitar lima bulan yang lalu..." jawabnya santai.
Kedua tangan Kei mengepal, ingin rasanya ia menjambak rambut wanita ular itu, tapi nasehat mama langsung terngiang di telinganya.
Jangan hadapi wanita penggoda dengan cara kampungan. Atur nafas dan tenangkan diri, jangan langsung bereaksi. Dan jangan terburu-buru mengambil tindakan reaktif. Percaya sama mama, kalau kita terlihat tenang dan tidak merasa terganggu, para penggoda itu akan kesal dengan sendirinya. Ingat, hadapi para penggoda itu dengan cara cantik dan berkelas.
Kei langsung menghirup udara dalam-dalam melalui hidung, dan mengeluarkannya pelan-pelan melalui mulut. Lalu menatap Karina sambil tersenyum manis, "Oh yaa? Sepertinya aku harus meminta Hardhan untuk mengganti passwordnya. Supaya tidak ada sembarangan orang asing yang bisa masuk." kata Kei santai.
Karina menatap Kei dengan tatapan membunuh, "Aku bukan orang asing untuk Hardhan, aku sudah Dua belas tahun mengenalnya, sejak aku duduk di bangku SMP, dan aku sudah delapan tahun bersama Hardhan, delapan tahun menjadi wanitanya. Wanita terlama dalam hidupnya. Jadi sudah pasti dia tidak akan menganggapku orang asing." jelas Karina.
"Delapan tahun? Berarti sejak kita SMA dong yaa... Hmmm, mengingatkanku pada sikapmu dulu, yang selalu menggembar-gemborkan kisahmu berlibur di Paris bersama anggota gengmu itu. Aku baru tahu sekarang, ternyata kamu memiliki uang sebanyak itu untuk bolak-balik ke Paris, karena saat itu kamu menjadi sugar baby.... Iya kan?" ledek Kei.
"Waaahhh... Ternyata dugaanku itu tepat sasaran. Kamu tidak akan semarah ini kalau dugaanku itu ternyata salah, iya kan?" ledek Kei lalu menepis tangan Karina.
Dan Karina mengangkat bahunya tidak peduli,
"Ya aku akui aku memang menjadi sugar babynya Hardhan... Oohh betapa dia begitu memanjakanku, menuruti semua keinginanku. Dan selalu memuaskan hasratku... Ahhh aku sangat merindukan Hardhan berada di tempat tidurku. Aku bahkan menyukai tahi lalat yang menggemaskan di bagian belalainya, oh betapa aku ingin melihat tahi lalat itu lagi." gumam Karina, lalu menatap tajam Kei,
"Kau pasti sudah tahu kan betapa hebatnya caranya bercinta, apa kau bisa mengimbanginya? Jangan bilang kau melayaninya sekaku saat kau melayani Galang... Hahaha...." ledeknya.
Kei tahu Karina hanya memancingnya, memancing emosinya. Kei menatap madame Agathe, yang terlihat tidak suka dengan Karina, tapi dia memang tidak punya hak untuk melerai Karina dan Kei, makanya madame hanya bisa diam.
Dan Kei tahu pada kenyataannya, Hardhan hanya menyentuh Karina sekali. Dan Karina bukan sugar babynya Hardhan tetapi pria lain.
__ADS_1
Tapi tetap saja mendengar Karina menyukai tahi lalat di tempat pribadi Hardhan membuat Kei merasa kesal, Kei justru belum pernah melihat tahi lalat itu, padahal Kei sudah berkali-kali bersama Hardhan, kenapa Karina yang menurut Hardhan hanya sekali bersamanya bisa mengetahuinya? Atau jangan-jangan Hardhan sudah membohonginya?
Kei merasakan sakit di dadanya, jantungnya memompa darah dengan lebih cepat, dan badan Kei gemetar dengan amarah. Tapi Kei berusaha semaksimal mungkin untuk terlihat tenang, dan bermain cantik sesuai saran mama mertuanya.
"Apa yang terjadi di tempat tidurku itu bukan urusanmu. Dan hubunganku dengan Galang tidak sekaku itu...." balas Kei dingin.
"Kau tidak ingin mengakuinya kan? Galang sendiri yang cerita padaku bahwa kau melayaninya sekaku kayu, jadi dia berpikir tidak mungkin kau bisa memuaskan Hardhan, dan Hardhan pasti akan meninggalkanmu...." jelas Karina acuh.
Kei kembali merasakan sengatan menyakitkan di dadanya. Kei tidak menyangka ia pernah mencintai pria seberengsek Galang.
Karina menarik piring makan Kei ke depannya, "Kau hebat madame... Mampu menghidangkan menu restaurant mewah berbintang tiga michelin itu ke sini." gumam Kei, lalu memasukkan satu sendok penuh makanan itu ke mulutnya.
"Désolé, mademoiselle Karina... Itu makanan untuk madame Kei." seru madame Agathe.
"Sedekah sedikit tidak apa-apa madame." ledek Kei.
Karina hanya menanggapinya dengan acuh,
"Sekarang apa kau yakin Hardhan akan mempertahankanmu setelah kontrak pernikahan enam bulan kalian itu selesai?" tanya Karina santai.
"Darimana kamu tahu kontrak itu?" tanya Kei penasaran.
"Hardhan yang memberitahunya di acara pesta waktu itu, ketika dia mengacuhkanmu dan lebih memilih bersamaku." jawabnya.
Lalu Karina kembali menatap Kei sambil tersenyum puas "Dia membujukku agar tidak marah padanya dengan bercinta denganku setelah selesai dansa. Kau pasti melihat kami menghilangkan? Dan menurutmu kenapa aku langsung melepasnya dan membiarkannya bersamamu setelah itu, karena dia sudah memuaskanku dan berjanji akan meninggalkanmu setelah kontrak berakhir...."
Lagi-lagi Kei merasakan tikaman menyakitkan di dadanya, kali ini tepat di hatinya. Hardhan sudah menjelaskan semuanya dan dia lebih percaya dengan penjelasan Hardhan daripada Karina.
Tapi... Tetap saja rasanya sakit. Apa yang dikatakan Karina juga terdengar masuk akal. Itu memang tipikal Hardhan bercinta ketika.... Ah entahlah, Kei merasa bingung harus percaya dengan penjelasan siapa.
Hai Readers....
__ADS_1
Siap-siap yaa Author mau crazy up hari ini...😘
Jangan lupa dukungannya untuk terus vote...💪😊