
Perkenalkan visual baru, twins baby boy kita...
Kenzou Uno Adipramana, artinya laki-laki pertama yang bijaksana dan berkuasa, kita panggil Zou yaa...
dan Kenzie Dyo Adipramana, artinya putra kedua yang bijaksana dan berkuasa, kita akan panggil Zie...
Nah, dari visualnya saja sudah terlihatkan, akan seperti siapa sifatnya nanti...😁
Hardhan menggendong Zou di tangan kanannya, dan Zie di tangan kirinya, membawa mereka ke luar ruang kamar, memperlihatkannya ke mama, papa, Sonya dan Alex, serta pengawalnya yang saat itu hadir, yang sedang berkumpul di ruang keluarga kamar presidential Suite ini.
"Lihatlah dua jagoanku..." seru Hardhan dengan perasaan bangga.
Mama dan papa langsung menghampirinya, dan melihat cucu-cucu mereka.
"Ya Tuhan... Mereka lucu sekali, mama bingung siapa yang akan mama gendong terlebih dahulu..."
"Bagaimana kalau kau menggendong yang kanan dan saya yang kiri..." usul pak Hendrawan.
"Nah ide bagus..." mama langsung mengambil Zou dari tangan kanan Hardhan, dan papa mengambil Zie dari tangan kiri Hardhan.
Mereka tampak bahagia menimang-nimang cucu mereka, mengajak mereka bicara padahal jelas-jelas keduanya sedang tertidur pulas.
"Siapa nama cucu mama yang ini?" tanya mama.
"Kenzou ma, kami akan memanggilnya Zou..." jawab Hardhan sambil tersenyum.
"Kalau cucu Opa yang ini.. Siapa namanya?" tanya papa ke Kenzie, Hardhan tahu pertanyaan itu sebenarnya ditujukan untuknya.
"Kenzie pa, kita panggil Zie..." sahut Hardhan.
Mama mendekati pak Hendrawan, "Kau menyebut dirimu sendiri opa... Kalau begitu aku oma saja yaa?"
"Ya jelas kau di panggil oma... Apa mau di panggil tante?" tanya pak Hendrawan sambil terkekeh pelan, lalu mengalihkan lagi perhatiannya ke Zie, "Ada-ada saja yaa oma mu itu..."
"Bagaimana cara membedakan mereka berdua? Mereka mirip sekali..." tanya mama sambil bolak balik melihat Zou dan Zie.
Hardhan mengangkat bahunya, "Aku juga tidak tahu ma... Tadi Kei yang memberitahuku sebelum aku membawa mereka kesini."
"Yah... Itulah feeling ibu... Biasanya lebih jeli melihat anak-anaknya." gumam mama, lalu menhalihkan perhatiannya ke Sonya, "Sonya kemarilah..." serunya.
"Iya Ma..." jawab Sonya lalu mendekati mama.
__ADS_1
"Kau gendong Zou, biar kau cepat nular... Biar kau cepat hamil..." seru mama sambil menyerahkan Kenzou ke tangan Sonya.
Sonya merasa pipinya merona merah karena perkataan mamanya Hardhan itu, dengan kikuk Sonya menggendongnya, selama ini Ia belum pernah menggendong bayi.
"Hardhan... Apa Zou memakai popok?" tanya mama.
"Sepertinya tidak ma..." jawab Hardhan.
Mama kembali menatap Sonya, "Nah itu bagus, menurut mitos kalau kau di pipisin bayi kau akan lekas hamil..."
Sonya mengerang dalam hati, ia yakin pipinya semakin merona merah saat ini, sekilas ia melirik Alex, yang menatap bayi dalam gendongan Sonya dengan tatapan kosong.
"Opa, kau berikan Zie pada Alex, biar dia di pipisin juga, siapa tahu langsung jago bikin anak dia..." goda mama.
Sonya nyaris tidak bisa menahan tawanya melihat raut wajah Alex, saat pak Hendrawan menyerahkan Zie ke tangan Alex.
"Sa... Saya tidak bisa menggendong bayi om" kata Alex tergagap.
"Gendong Zie Lex, kau tidak mau menggendong anak saya?" seru Hardhan.
Dengan segera walaupun dengan tangan kaku, Alex mengambil Zie dari tangan pak Hendrawan, lalu pak Hendrawan menepuk-nepuk punggung Alex,
"Kau harus banyak belajar dari Hardhan..." godanya.
"Bagaimana keadaan Kei boss? Apa saya boleh masuk?" tanya Sonya.
"Kei masih tidur, kalau kau masuk... Masuk lah..."
Sonya menggeleng, "Tidak boss... Biarkan saja Kei istirahat terlebih dahulu..." Sonya kembali duduk di sofa yang tadi ia tempati, kemudian melihat bayi mungil yang sedang mengulet di dalam gendongannya,
"Onty main sama kamu saja yaa sayang, cepat besar biar onty bisa ajarin kamu karate... Onty juga bisa ngajarin kamu memanah... Hmmm apalagi ya... Pokoknya semua yang onty bisa... Onty akan ajarin ke kamu..."
Lalu Sonya terdiam dan matanya terbelalak, "Ada apa?" tanya Hardhan panik, semua mata sekarang tertuju padanya.
"Zou pipis..." jawab Sonya sambil nyengir, yang membuat tawa Hardhan pecah, baru saja mamanya kasih ide bayinya pipisin Sonya, sekarang sudah kejadian.
"Itu bagus, Lex sepertinya sebentar lagi istrimu ini akan segera hamil..." seru mama Hardhan, di sambut tawa dari yang lainnya, termasuk anak buah Alex.
Tanpa diminta, perawat yang standby langsung mengambil Zou dari tangan Sonya, dan membawanya ke nursery room.
"Masuklah ke kamar, kau bisa mengganti bajumu dengan baju Kei..." seru Hardhan.
Sonya mengangguk, "Terima kasih boss."
__ADS_1
**********
Kei terbangun dengan suara tangis bayinya, ia melihat Hardhan yang sedang menimang-nimang bayinya berusaha menenangkannya.
"Cup... Cup... Cup... Diam sayang... Mommy masih bobo... Kamu sudah lapar yaa? Sabar yaa sebentar lagi mommy pasti bangun..." bujuk Hardhan.
Kei tersenyum melihat pemandangan indah di depan matanya itu, Hardhan menggendong anaknya, betapa itulah yang selalu ia bayangkan selama ini, yang ia inginkan dengan segenap hatinya.
"Bayi kita yang mana yang sedang menangis itu sayang?" tanya Kei.
Hardhan langsung mengalihkan perhatiannya ke Kei, dan beranjak mendekatinya, "Sepertinya Zou... Atau Zie... Aku tidak tahu..." jawab Hardhan sambil menyeringai.
Kei terkekeh pelan, lalu menekan remote di kiri tempat tidurnya untuk menaikkan bagian atas supaya Kei bisa duduk sambil bersandar, "Come to Mommy..." seru Kei sambil mengulurkan kedua tangannya.
Hardhan memindahkan anaknya ke lengan Kei, dan Kei memperhatikan wajah bayinya itu dengan seksama, dan tidak melihat tanda lahir dibawah dagunya, "Ini Zie sayang..." kata Kei sambil tersenyum, dan langsung menyusui bayinya itu.
"Bagaimana cara kau bisa membedakan mereka sayang?" tanya Hardhan penasaran.
Kei menyeringai lebar, "Rahasia..."
Hardhan naik ke tempat tidur, dan duduk di samping Kei, tangannya memegang tangan mungil bayinya yang sedang mengisap kencang put*ng susu Mommynya.
"Apa rasanya?" tanya Hardhan.
"Rasa apa?" Kei balik nanya dengan kening yang berkerut.
"Rasa anakmu mengisap itu?" goda Hardhan.
"Oh... Yang pasti jauh lebih hebat dari papinya..." ledek Kei, membuatnya mendapat ciuman Hardhan di bibirnya.
"Kamu sudah gila yaa? Aku sedang menyusui..." keluh Kei ketika Hardhan melepas ciumannya.
Hardhan hanya tertawa lebar, lalu mengelus rambut dan pipi Kei, "Terima kasih sayang, terima kasih sudah memberiku dua jagoan yang lucu-lucu ini... Aku rasa kau tidak perlu hamil lagi, aku tidak mau melihatmu tersiksa seperti kemarin..." desah Hardhan.
"Jangan konyol... Aku tidak apa-apa sayang, aku justru merasa senang karena sudah menjadi wanita seutuhnya. Aku memang merasakan sakit dan lelah, tapi itu semua terbayar dengan melihat bayi-bayiku... Itu hal yang paling membahagiakan dalam hidupku..."
"Benarkah?" tanya Hardhan lagi.
"Iya sayang..." jawab Kei sambil tersenyum geli.
"Kalau begitu... Kita harus segera bikin anak lagi..." seru Hardhan antusias.
"Ngaco... Baru boleh setelah empat puluh hari..."
__ADS_1
"Aahhh... Puasa lagi..." gumam Hardhan sambil menghela nafas panjang.