Terpaksa Menikah Lagi

Terpaksa Menikah Lagi
Proyek


__ADS_3

"Kenapa kau ketawa?" tanya Hardhan sambil mengulum es lemon yang di suapi Kei tadi.


"Aku masih tidak habis pikir, aku yang hamil tapi kamu yang mual..." sahut Kei ringan sambil tersenyum kecil.


"Itu bagus... Nafsu makanmu jadi tidak terganggu, kau harus makan banyak, mengingat kau sedang mengandung anak-anak kita..."


"Anak-anak?" tanya Kei bingung, Hardhan mengutuk dirinya sendiri karena keceplosan.


"Iya anak-anak... Detelah ini kau akan hamil lagi kan? Aku ingin punya banyak anak. Hmmm... Mungkin enam..." elak Hardhan.


Kei mendengus pelan, "Enam? Kamu pikir aku kucing..."


"Aku ingin punya tiga yang mirip denganmu dan tiga yang mirip denganku... Membayangkan rumah ini penuh dengan tawa canda dan jerit tangis anak-anak membuatku bahagia."


"Kalau itu bisa membuatmu bahagia... Aku bersedia sayang." cetus Kei sambil menyuapi kembali es lemon ke mulut Hardhan.


"Ah... Kalau tahu akan semudah itu kau menurutiku, harusnya tadi aku minta sebelas anak..." gumam Hardhan yang di sambut cubitan gemas Kei di pipinya.


"Memangnya kamu mau bikin kesebelasan sepak bola?" tanya Kei membuat Hardhan terkekeh pelan.


"Aku akan membuat lapangan sepak bola kalau perlu..." godanya sambil mencubit dagu Kei.


Kei memutar kedua bola matanya, "Sudah manja-manjaannya... Sekarang kamu mandi terus berangkat ke kantor sana. Sudah lima hari kamu tidak ke kantor." gerutu Kei.


Hardhan mengangkat bahunya, "Ada Alex... Dia tinggal ke sini kalau ada dokumen yang harus aku tanda tangani..."


"Tapi tetap saja kamu memberi contoh yang tidak baik kepada karyawanmu... Bagaimana mereka bisa semangat kerja kalau presdirnya saja malas-malasan..."


"Baiklah... Sesuai titah ibu ratu... Aku akan ke kantor hari ini..." canda Hardhan, lalu mencondongkan badannya ke arah Kei untuk menciumnya, tapi Kei menahan wajahnya dengan tangannya.


"Hardhan... Mandi sana sudah jam tujuh..."


"Ah, Perusak kesenangan..." suntuknya lalu berdiri dan bergegas ke kamar mandi.


Kei menggelengkan kepalanya melihat kelakuan konyol suaminya itu.


**********


"Boss Ryo sudah datang." lapor Alex ke Hardhan.


"Suruh dia masuk..."

__ADS_1


Alex mengangguk, lalu berbicara ke anak buahnya, "Biarkan dia masuk."


Tidak lama kemudian Ryo masuk, dan langsung menghampiri meja kerja Hardhan.


"Apa kabar bro?" sapanya sambil mengulurkan tangan.


"Seperti yang kau lihat, saya baik-baik saja." balas Hardhan menyambut tangan Ryo,


"Silahkan duduk." lanjutnya Hardhan mengarahkan Ryo duduk di meja rapat.


"Baiklah ini proposal saya." Ryo menyerahkan proposalnya ke Hardhan.


Selama Ryo presentasi, Hardhan mempelajari isi proposalnya. Secara keseluruhan proposalnya bagus, margin rencana bisnisnya konsisten, nomor halaman teratur, data grafik dan statistik kebutuhan konsumen, motivasi, posisi pesaing, pangsa pasar dan tren pasar secara keseluruhan baik, tabel memiliki judul, dan daftar isi rapi, dengan tata bahasa dan gaya tulisan yang sama bagusnya.


Hardhan mempelajari lebih dalam lagi proposal rencana bisnisnya, dengan memperhatikan komponen penting seperti pelanggan, produk dan layanan, pengaturan keuangan, pemasaran dan penjualan, persaingan serta antisipasi atau solusi jika ada resiko yang di jabarkan secara rinci.


Hardhan menatap penuh eksekutif muda di depannya ini. Pantas perusahaan Damanik mampu bertahan dari sentilan Hardhan, mereka memilik aset bagus seperti Ryo. Kalau bukan karena Ryo pernah suka dengan Kei, Hardhan akan dengan senang hati membuka peluang bisnis dengannya.


Bicara tentang Kei, Hardhan sudah mulai merindukannya, ia selalu ingin menyentuh istrinya, rasanya tidak ingin berada jauh dari Kei. Lalu Hardhan teringat percintaanya dengan Kei di atas meja ini, yang membuatnya seketika langsung terbakar gairah.


Sial!!! suntuknya dalam hati.


"Baiklah saya setuju berinvestasi di proyek ini." kata Hardhan tegas, "Untuk proses selanjutnya kau bisa bekerjasama dengan Alex atau sonya." lanjutnya sambil berdiri, Ryo dan Alex langsung ikut berdiri.


"Terima kasih untuk kepercayaannya kepada kami." kata Ryo sambil mengulurkan tangannya.


"Kepercayaan? Bukannya ini sebagai pertukaran untuk informasi berharga yang sudah kau berikan itu?" sindir Hardhan, alis hitamnya naik membentuk ejekan geli melihat kebingungan Ryo.


"Astaga saya bercanda Ryo... Harus saya akui idemu ini benar-benar cemerlang. Senang berbisnis denganmu..." seru Hardhan sambil menjabat tangan Ryo, dan Ryo langsung menghela nafas lega.


"Lex, panggil Sonya ke sini." perintah Hardhan ke Alex.


"Baik boss." jawab Alex, lalu menekan tombol earpiecenya.


"Ke ruangan Sonya, suruh dia ke ruangan big boss sekarang!"


Tidak berselang lama pintu terbuka, dan Sonya melenggang masuk.


"Anda memanggil saya boss?" tanya Sonya.


"Kau pasti sudah kenal Ryo kan?"

__ADS_1


Sonya melirik Ryo sekilas lalu mengangguk, "Iya boss. Apa dia membuat masalah lagi?" tanya Sonya lalu kembali menatap Ryo, memberinya tatapan galak.


Hardhan terkekeh pelan, "Kau jangan terlalu galak padanya Sonya, mulai sekarang kalian akan bekerjasama. Aku memberi kuasa penuh padamu untuk menghandle proyek kerjasama dengan Ryo."


"Tapi boss, saya masih terhitung baru di sini. Apa kata yang lain kalau saya yang di percaya untuk menghandle proyek kita..."


"Kau tidak akan bisa maju kalau kau terus memusingkan perkataan orang lain Sonya. Saya sudah cek kinerjamu di anak perusahaan saya tempat kau kerja sebelumnya. Kau di bagian perencanaan sudah cukup lama, itu saja sudah cukup. Kalau ada yang tidak puas dan menindasmu, suruh dia berhadapan langsung ke saya."


Sonya mengangguk, "Baik boss."


"Nah Ryo, silahkan kalian bahas langkah selanjutnya di ruangan Sonya, kalian boleh keluar sekarang."


Setelah Sonya dan Ryo menghilang di balik pintu, Alex ikut bergegas keluar, tapi Hardhan melarangnya. "Kau mau kemana Lex?" tanyanya


"Ke ruangan Sonya boss." jawab Alex kaku.


Hardhan mengibaskan tangannya, "Tidak perlu, percayakan saja semuanya pada Sonya."


"Baik boss."


"Duduk Lex, ada yang ingin saya bicarakan." pinta Hardhan sambil menunjuk kursi di depannya.


Alex menarik sedikit kursi itu, lalu mendudukinya.


"Bagaimana progressmu dengan Sonya?"


"Maksud boss?"


"Ini sudah lewat dari batas waktu yang sudah saya tentukan, kapan kau akan melamarnya?"


"Kami tidak saling mencintai boss, jadi tidak ada satupun dari kami yang ingin menikah. Dan Sonya sudah kembali lagi ke Owen." jelas Alex.


Sebelah alis Hardhan terangkat, "Dan kau membiarkannya? Kalau Sonya terluka lagi, Kei pasti akan ikut sedih. Terakhir mereka menghibur diri waktu di Paris saja sudah membuat saya nyaris setengah gila, dan saya tidak ingin mengulanginya lagi. Saya mau kau terus mendekati Sonya dan memisahkannya dari pria brengsek itu. Atau kau mau saya meminta Ryo yang melakukannya? Dari cara Ryo melihat Sonya tadi saya yakin, Ryo menyukainya."


Alex mengerutkan kening dan tenggelam dalam pikirannya sendiri, sebelum akhirnya ia menoleh dan mendapati Hardhan yang sedang menunggu hasil renungannya.


"Baiklah, saya akan mencobanya. Dan saya tidak bisa menjanjikan hasilnya akan sesuai dengan harapan anda."


Hardhan berdiri dan mendekati Alex, kemudian menepuk-nepuk pundaknya, "Setidaknya kau sudah mencobanya Lex. Sekarang mari kita pulang, saya tidak sabar ingin bertemu Kei."


Anda di kantor hanya tiga jam boss, dan sudah merindukan nona Kei?

__ADS_1


__ADS_2