Terpaksa Menikah Lagi

Terpaksa Menikah Lagi
Beli Perlengkapan Sikembar.


__ADS_3

Kei sedang berdiskusi dengan para chef di ruang kerjanya untuk merencanakan menu baru di kafe mereka, memperkirakan kisaran harga menu yang akan di hidangkan sesuai dengan harga bahan pokok yang ada di pasaran, ketika Hardhan meneleponnya.


"Ya sayang..." sapa Kei.


"Kau sudah siap manis? Aku sedang on the way ke Kafe..." tanya Hardhan.


"Aku sedang bahas menu baru dengan chef kita, tapi sudah mau selesai kok, nanti kamu langsung ke ruang kerjaku saja yaa sayang..." jawab Kei.


"Baiklah, i love you..."


"I love you too..." Kei meletakkan kembali handphonenya di meja kerjanya.


"Ok, sekarang kalian rinci bahan-bahan apa saja yang di perlukan, sekalian lihat stock persediaan bahan makanan dan minuman, buat anggarannya nanti saya tinggal tanda tangan pesanannya."


"Baik bu."


"Ya sudah kalian boleh kembali kerja lagi."


Kei menyandarkan badannya di kursinya, setelah para chefnya keluar dari ruangannya. Hari ini Kei meminta Hardhan untuk menemaninya membeli perlengkapan bayi mereka.


Kamar bayi mereka sudah jadi, bersebelahan dengan kamarnya. Semuanya sudah tertata rapi, tinggal mengisinya dengan pakaian, sepatu dan segala pernak pernik bayi lainnya.


Sambil menunggu Hardhan, ia memeriksa inventaris kafe, mana yang harus di beli, dan mana yang sudah harus di ganti, dan mencoret yang tidak di perlukan.


Pintu Ruang kerjanya kembali terbuka, di susul Suaminya masuk dengan senyum yang tersungging di bibirnya, dan seperti biasa, dia mengangkat Kei dari kursinya, kemudian duduk di kursi itu sambil memangku Kei.


"Sayang... Aku sudah berat sekarang!!" protes Kei.


"Ah, menurutku kau masih terlalu enteng... Kau harus lebih banyak makan lagi sayang..." sahut Hardhan ringan sambil tersenyum kecil.


Kei melingkarkan lengannya di leher Hardhan, "Apa menurutmu perutku terlalu besar untuk kehamilan tujuh bulan?" tanyanya.


"Itu wajar sayang, mengingat kau hamil anak kembar. Jangan samakan dengan kehamilan tunggal." jawab Hardhan, telapak tangannya tidak henti-hentinya mengelus perut Kei.


"Iya aku tahu... Dan mana Sonya? Aku kan minta kamu ajak Sonya juga..."


"Sonya dan yang lainnya sudah menunggu di depan... Aku bawa pasukan lebih, siapa tahu kamu mau memborong seluruh isi toko itu..." goda Hardhan sambil mencium pipi Kei.


Kei tergelak, "Aku tidak segila itu sayang..."


Hardhan mengangkat bahunya, "Aku tetap harus berjaga-jaga. Oh apa kau merasakannya? Si kembar mulai menendang lagi..." seru Hardhan.

__ADS_1


"Iya... Dan aku selalu menikmatinya setiap kali mereka menendang atau bergerak..." desah Kei penuh haru.


"Nah, sekarang mari kita keluar, jangan membuat sahabatmu itu menunggu lebih lama lagi."


**********


Mereka memasuki toko perlengkapan bayi dan anak ternama di mall ini, Hanya melihat-lihat saja sudah membuat Kei bahagia, rasanya tidak sabar ingin segera melihat si kembar memakai baju bayi yang lucu-lucu ini.


"Kau pilih yang mana sayang?" tanya Hardhan.


"Aku bingung... Semuanya terlihat bagus dan lucu-lucu. Apalagi baju bayi perempuan ini, cantik sekali...." seru Kei sumringah.


"Ya sudah... Kita borong saja semuanya yaa sayang..." cetus Hardhan penuh semangat.


"Jangan konyol... Kita ikuti saja saran mama, beli yang unisex saja yaa... Jadi bisa di pakai untuk bayi laki-laki dan perempuan." saran Sonya.


Hardhan mengangkat bahunya, "Kalau para wanita sudah memutuskan... Aku bisa apalagi..."


"Untuk bayi baru lahir bagusnya memakai jumper, jadi kita ambil yang ini saja..." kata Kei, lalu mengecek terlebih dahulu jahitan jumper itu, menembus ke dalam atau tidak.


Karena kalau jahitannya menembus kedalam bisa menyebabkan iritasi pada kulit bayi, selain itu bayi tidak akan merasa nyaman.


"Ambil tiap seri jumper ini..." seru Hardhan ke anak buahnya.


Selain jumper, Kei juga memilih baju lengan pendek dan lengan panjang, kemudian lanjut ke celana bayi, Kei memilih yang karetnya tidak terlalu kencang, baik untuk celana pendek atau celana panjangnya.


Kei lanjut ke bagian kaus kaki, dan melihat Sonya yang juga sedang melihat-lihat kaus kaki bayi itu, Kei menyenggol pundaknya, "Apa kau akan segera menyusul?" goda Kei.


"Apaan sih, Jailangkung itu terlalu bodoh untuk bisa membuat anak..." cibir Sonya.


"Jangan bilang kalian berdua belum?" Kei tidak melanjutkan, ia sudah paham melihat rona merah di wajah Sonya, lalu terkikik geli.


Kei mendapat pelototan kesal dari Sonya, "Senang banget kamu ngetawain kesialanku karena menikahi Jailangkung kutub itu..."


Kei melirik sekilas ke arah Alex yang sedang ngobrol dengan Hardhan, kemudian kembali melihat sahabatnya yang sedang memberengut, lalu mendekatkan wajahnya, "Mau aku kasih saran tidak?" bisik Kei.


"Dihh... Gak ahh. Kesannya aku mengharap banget Jailangkung itu nyentuh aku... Hiiii...." sahut Sonya begidik sambil memeluk dirinya sendiri.


"Kalau kalian berdua terus seperti ini, hubungan kalian tidak akan berjalan lancar..."


"Udah ah bahas yang lain saja, sekarang kamu mau pilih kaus kaki yang mana? Kalau menurut aku sihh yang ini lucu... Bisa di pakai untuk laki-laki dan perempuan." seru Sonya sambil memilihkan kaus kaki dengan motif yang menarik.

__ADS_1


"Iya ini lucu... Terus yang mana lagi? Bantuin milih dong..."


Sementara Sonya sibuk mencari kaus kaki lucu lainnya, Kei melihat-lihat sarung tangan bayi, topi, dan memilih slabber yang menggunakan velcro, supaya tidak perlu repot mengikat tali di belakang leher bayinya.


"Sekarang mau cari apalagi sayang?" tanya Hardhan yang sudah kembali berada di sampingnya.


"Selimut dan handuk bayi belum..."


"Ya sudah kita ke sana..." seru Hardhan sambil merangkul Kei, membawanya ke tempat handuk dan selimut bayi.


Kei memilih selimut yang aman dan nyaman untuk bayinya, selimut anti bakteri dan jamur. Begitu juga dengan handuknya.


"Nah... Apalagi sekarang?" tanya Hardhan lagi.


"Botol susu, sikat botol, alat sterilisasi botol dan alat penghangat botol elektrik." jawab Kei.


"Untuk apa penghangat botol elektrik?" tanya Hardhan bingung.


"Aku ingin memberi si kembar ASI eksklusif, jadi aku harus stok ASI di lemari pendingin, atau freezer, nah gunanya alat itu untuk menghangatkan ASInya sayang..."


"Oh, aku mengerti..." Hardhan mencium ujung kepala Kei. "Sekarang kita cari yang kau sebutkan itu tadi..." serunya sambil menggandeng Kei lagi.


Setelah mendapatkan semua keperluan bayinya, Hardhan meminta Alex untuk menyelesaikan pembayarannya, sementara Kei dan Hardhan kembali melihat-lihat isi toko ini.


"Hmm sayang... Aku mau minta sesuatu..." gumam Kei pelan nyaris tidak terdengar.


"Kau mau minta apa sayang? Pasti akan kuberi..." tanya Hardhan.


"Bukan untukku... Tapi untuk Sonya dan Alex..." jawab Kei.


"Dan apa itu?"


"Hmmmm.... Bagaimana kalau kita menyiapkan bulan madu untuk mereka berdua? Bagaimanapun juga kau berhutang itu pada Alex, setelah dia dengan setianya selalu menemanimu. Dan aku ingin sahabatku juga menikmati quality time bersama suaminya." pinta Kei.


Hardhan menyentil kening Kei, "Tanpa kau minta aku sudah mempersiapkannya. Kau tenang saja sayang..."


Kei menyeringai lebar, "Terima kasih sayang..." ucap Kei senang lalu memeluk erat suaminya.


"Kei..." sapa seseorang di belakangnya, ia mengenal suara itu, badan Hardhan yang sedang dalam pelukannya tiba-tiba menjadi kaku, dan langsung memeluk Kei lebih erat lagi. Kei tahu siapa yang akan ia temukan ketika ia balik badan nanti.


Kei menghela nafas panjang, sambil menenangkan dirinya sendiri, lalu langsung balik badan, dan sesuai dugaannya, ia melihat Galang, Inge dan mantan mertuanya...

__ADS_1


__ADS_2