
Kei melakukan rutinitas hariannya setiap pagi hari di ruang pakaian, naik ke tangga kecil dua susun yang di siapkan Hardhan untuknya, hingga tinggi Kei dan Hardhan sejajar.
Kei melilitkan dasi ke leher Hardhan, menyelipkannya ke sela kerah bajunya, dan mengikatnya dengan simpul segitiga.
Jari Kei menyusuri panjang dasi Hardhan sampai ke ujungnya, yang tepat berada di atas pusar Hardhan, "Bagaimana? Panjangnya pas?"
Hardhan mengecup lembut kening Kei
"Harusnya aku yang tanya padamu... Aku kepanjangan untukmu atau pas?" godanya sambil tersenyum jahil.
Kei mengerjapkan kedua matanya, tidak mengerti dengan pertanyaan Hardhan,
"Maksudnya?"
Hardhan mengelus ujung kepala Kei,
"Ah istriku yang polos..."
Kei merangkul Hardhan, menyatukan kedua telapak tangannya di belakang leher Hardhan,
"Hmmm sayang... Malam ini aku ingin menginap di rumah Papa. Bolehkan?"
Hardhan mengerutkan keningnya, "Kenapa mendadak sekali, apa terjadi sesuatu dengan papamu?"
"Oh tidak, hanya saja... Kita sudah menikah hampir tiga bulan sekarang, tapi aku belum sekalipun menginap di rumahnya. Dan kamu pernah berjanji akan mengizinkanku jika aku sewaktu-waktu ingin menginap di rumah papa."
"Apa kita sudah menikah selama itu? Rasanya baru kemarin ijab qobulnya, mungkin kau salah perhitungan sayang...."
Berarti sisa tiga bulan lagi, dan aku belum yakin sudah berhasil menaklukan hati Kei atau belum,
Batin Hardhan.
Kei memutar kedua bola matanya,
"Sayang, kita menikah di bulan April, dan sekarang sudah bulan Juli."
"Baiklah tapi hanya satu malam, karena besok malam kita akan menghadiri pesta yang di adakan kantor, untuk peluncuran produk terbaru."
__ADS_1
Hardhan melihat Kei yang tiba-tiba terdiam, dan melamun, "Sonya juga hadir besok."
Kei kembali ceria, "Benarkah...? Tadinya aku pikir aku tidak ingin ikut, tapi kalau ada Sonya setidaknya aku tidak akan kesepian, kalau kamu sedang sibuk dengan kolegamu nanti di sana."
Hardhan menyeringai lebar, "Aku sudah menduganya. Ya sudah kau mau ke rumah papa jam berapa? Biar mang Ujang yang mengantarmu."
"Itu tidak perlu Hardhan, aku bisa menyetir sendiri, dan mobilku juga di sini, aku hanya ke rumah papa. Astaga... Aku bahkan tidak pernah mengendarai mobilku lagi semenjak kita menikah. Please..."
"Baiklah, tapi aku bersikeras kedua pengawalmu tetap ikut bersamamu. Biarkan mereka konvoi dibelakang mobilmu...."
"Upin Ipin itu? Kenapa mereka selalu harus ikut?"
"Mereka sudah satu paket denganmu, atau aku harus tambah dua pengawal lagi?"
"Oh jangan, tidak perlu, cukup Upin Ipin itu saja..." tolak Kei.
"Deal, sekarang tolong pilihkan jas untukku." perintah Hardhan sambil menyelipkan kedua tangannya ke bawah ketiak Kei, kemudian mengangkat Kei tinggi-tinggi dari tangga dan membawanya berputar bersama Hardhan.
"Hentikan, aku bukan anak kecil, turunkan aku! Aarrgghh Hardhan aku takut jatuh!!"
Hardhan menurunkan Kei sampai telapak kakinya menyentuh lantai, "Kau seringan bulu sayangku..."
"Kalaupun tanganku lemah, dan kau terlempar pun itu tidak akan membuatmu kehilangan nyawa sayang, mungkin hanya sedikit memar, atau paling parah patah lengan atau kaki. Dan itu tidak akan terjadi, mengingat tanganku yang sekuat baja."
Sambil memberengut Kei menatap Hardhan,
"Laut asin sendiri!" cibir Kei membuat tawa Hardhan kembali pecah.
**********
Pak Hendrawan menyandarkan punggungnya ke kursi makan, menatap penuh ke anak gadisnya yang sedang asik menikmati makan malamnya, Kei memasaknya sendiri, dan rasanya tidak perlu di ragukan lagi. Kei sangat ahli dalam hal masak memasak.
"Sudah lama papa tidak melihat raut wajahmu yang seperti itu Kei...."
"Maksud Papa?" tanya Kei lalu memasukkan sepotong brokoli ke mulutnya.
"Wajahmu yang bersinar dan terlihat tanpa beban itu, Papa terakhir melihatnya saat kamu lulus SMA."
__ADS_1
Kei tersenyum lembut, "Wajahku selalu seperti ini papa...."
"Tidak, wajahmu selalu terlihat muram sejak kamu pulang dari acara perpisahan temanmu di pulau X, memang kamu masih sering tersenyum dan tertawa, tapi matamu mengatakan yang sebaliknya. Kamu memang tidak pernah mau menceritakannya pada papa, tapi papa yakin terjadi sesuatu padamu di sana."
Kei menatap papanya, memaksakan senyum menghiasi bibirnya.
"Pa, ini pertanyaan papa yang kesekian kalinya, dan jawabanku tetap sama tidak terjadi apa-apa... Itu hanya perasaan papa saja."
"Ya sudah... Yang terpenting sekarang kamu sudah kembali menjadi dirimu sendiri lagi. Papa sudah merasa tenang, kali ini kamu bahagia dengan pernikahanmu."
Diingatkan tentang pernikahannya dengan Hardhan membuat perasaan Kei semakin tak menentu, "Hardhan sudah bilang ke aku, kalau papa sudah tahu tentang pernikahan enam bulan kami."
"Iya, Hardhan cukup jujur untuk mengakuinya."
"Berarti papa harusnya tahu, mana ada pernikahan yang bahagia dengan adanya perjanjian seperti itu."
"Itu tidak dapat menutupi kenyataan bahwa kamu sekarang benar-benar terlihat bahagia. Kamu boleh sekeras apapun menyangkalnya, tapi matamu itu, tidak dapat berbohong. Mata adalah jendela jiwa."
"Yaa, Hardhan memang baik, dan dia memperlakukan aku dengan sangat baik dan murah hati. Tapi aku tetap tidak bisa mencintainya Papa, Papa juga tahu kan sebesar apa cintaku pada mas Galang, hingga tidak ada celah lagi untuk orang lain. Dan mas Galang juga sangat mencintaiku, dia merelakan aku menikah lagi demi kami bisa kembali bersatu lagi, Papa."
"Kalau Galang benar-benar mencintaimu, dia tidak akan pernah menyakitimu, atau berbuat sesuatu yang akan menyakitimu. Tidak dengan kata-kata tidak juga dengan tindakan."
"Pa..."
"Papa tahu semuanya Kei, tahu bagaimana Galang memperlakukanmu, begitu juga dengan mamanya dan istri keduanya, entah apa yang membuatmu tetap bertahan bersama Galang Papa tidak pernah tahu. Tapi satu hal yang pasti dan harus kamu ketahui, papa membesarkanmu bukan untuk disakiti orang lain Kei... Papa membesarkanmu dengan penuh kasih sayang, pernah papa membentakmu, mencaci maki atau menamparmu?"
Kei menggeleng, air mata mulai mengembang di matanya, "Tidak pernah...." jawab Kei dengan suara parau.
"Sakit hati papa melihatmu di perlakukan seperti itu Kei..." bisik pak Hendrawan air mata mulai menetes di matanya, "Dan Mamamu yang melihatmu dari atas sana, pasti juga akan merasakan kesedihan yang sama dengan papa Kei." lanjutnya.
Tangis Kei pecah, tidak pernah terbayangkan olehnya sebelumnya kalau papanya juga akan tersakiti, "Oh Papa, hiks... Maafkan aku... Hiks"
Pak Hendrawan mencondongkan badannya ke Kei, meraih kedua tangannya dan menggenggamnya, memberikan kekuatan pada anak semata wayangnya.
"Darimana Papa tahu? Aku tidak pernah menceritakannya pada Papa..." tanya Kei ketika sudah mulai tenang.
"Tukang kebunmu itu, orang suruhan papa. Dan dia pintar mengorek-ngorek informasi dari pembantumu dan pembantu mamanya Galang."
__ADS_1
"Oh Papa, maafkan aku, aku hanya tidak ingin membuat Papa khawatir, aku..."
"Itu sudah lewat, Papa tidak ingin kamu mengalami lagi penderitaan seperti itu... Sekarang kamu sudah bahagia dengan Hardhan, dan papa tidak akan pernah menyetujui jika kamu ingin kembali lagi ke Galang. Lebih baik papa menutup mata papa selamanya daripada harus kembali melihatmu di perlakukan seperti itu lagi..."