
Ini kedua kalinya Kei menjejakkan kakinya di Paris. Sambil memejamkan matanya, Kei menghirup dalam-dalam udara Paris sambil merentangkan kedua tangannya, di balkon depan kamarnya.
Hardhan menghampirinya, lalu memeluknya dari belakang, kedua tangannya dilingkarkan di atas perut Kei, lalu mengelus lembut perutnya "Apa kau senang kembali lagi ke sini?" bisiknya.
Kei mengangguk "Tapi tadi jalan raya agak ramai ya? Tidak seperti pertama kali aku ke sini, waktu itu jalanannya lumayan lenggang. Lihat lah...." Kei menunjuk area sekitar Menara Eifel, "Orang-orang yang berlalu-lalang disekitar sana juga terlihat jauh lebih banyak, lebih padat."
"Oh, itu karena bulan Juli masuk peak season sayang... Bulan ini sudah masuk musim panas, musim liburan terlama anak sekolah di sini, mereka libur dua bulan. Ditambah lagi bulan Juli ini juga masuk liburan sekolah hampir di semua negara lain termasuk negara kita, dan berlibur di sini. Jadi wajar jika jalanan dan tempat wisata terlihat penuh. Hotel, apartment, atau penginapan apapun sudah full booked semuanya."
"Oh yaa? Libur dua bulan?" tanya Kei tidak percaya.
"Yup, dua bulan. Hampir semua warga Perancis sangat menantikan musim panas ini. Mereka menyambut panasnya matahari dengan suka cita."
"Kenapa?"
"Yaaa... Setelah berbulan-bulan mereka jenuh dengan pakaian tebal yang menutupi hampir seluruh tubuh mereka. Jadi saat musim panas, mereka bisa memakai busana yang seksi, yang dapat memperlihatkan dada dan kaki mulus mereka. Sepatu boot berganti dengan aneka sandal, memerdekakan jari-jari kaki mereka setelah berbulan-bulan terkurung kedinginan di dalam kaos kaki atau sepatu boot mereka."
"Itu berkah untukmu, melihat wanita-wanita berpakaian seksi yang berjalan lenggak-lenggok ke sana kemari...." ledek Kei.
Hardhan terkekeh pelan, "Itu belum seberapa... Kalau kau mau aku akan mengajakmu mengunjungi Cap d'Agde, ibukota dunia hidup telanjang di pantai Mediterania. Dengan kehidupan hedonisme dan hidup bebas disana. Kota tujuan bagi para nudis, dari anak kecil hingga kakek-kakek dan nenek-nenek yang membiarkan tubuh mereka natural, tanpa sehelai benangpun."
Alis Kei mengkerut "Nudis? Tanpa sehelai benangpun? Berarti mereka...."
"Benar... Mereka ke bank, Berbelanja, Dine, membeli baguette di brasserie, melakukan apapun sambil telanjang. Melakukan aktivitas sehari-hari seperti itu tanpa rasa canggung sedikitpun...."
Kei begidik ngeri, "Aku tidak mau... Membayangkannya saja sudah membuatku ngeri... Aku mau ke tempat kita lihat sunrise waktu itu... Apa di sana juga penuh?"
"Sudah pasti lebih penuh dan lebih padat lagi sayang. Tapi aku tidak akan mengajakmu ke sana lagi. Aku tidak mau membiarkanmu berdesak-desakan lagi."
Kei balik badan, wajahnya terlihat kecewa sambil memberengut ia menatap Hardhan, "Aku ingin melihat sunrise lagi..." rengeknya.
Hardhan menyeringai, lalu menyentil kening Kei,
__ADS_1
"Bodoh... Tidak akan terlihat bagus lagi kalau kita melihatnya di tempat yang sama."
"Bagaimana aku tidak menjadi bodoh, kamu selalu menyentilku setiap kali ada kesempatan...." sungut Kei kesal.
Hardhan tertawa kencang, bahunya berguncang karena tawanya, membuat Kei semakin memberengut, "Sayang... Yang aku sentil itu keningmu... Bukan otakmu...."
Kei mendorong Hardhan, tapi seperti mendorong tembok, jangankan terdorong, bergeser sedikitpun tidak, "Minggir sana... Aku mau renang...." suntuk Kei.
Sambil tersenyum jahil, Hardhan bergeser, membiarkan Kei melewatinya, lalu mengikutinya masuk ke dalam kamar.
Hardhan duduk di kursi meja rias Kei, memandangi istrinya yang sedang memilah baju renang yang akan ia pakai. Kei balik badan ke arahnya, memperlihatkan bikini berwarna hitam "Ini cocok tidak untukku?" tanya Kei.
"Apapun cocok untukmu... Terlebih lagi jika tidak memakai apapun...." goda Hardhan sambil mengedipkan sebelah matanya.
"Cih, dasar mesum!" keluh Kei langsung balik badan lagi ke arah lemari pakaiannya.
"Tidak akan ada yang melihatnya sayangku, hanya ada aku di sini. Madame Agathe besok baru kesini, sedang Alex dan Sonya baru nanti sore mereka sampai."
Kei bergegas mengganti pakaiannya dengan bikini hitam, lalu turun ke lantai bawah, dan langsung menceburkan diri ke kolam renang. Waktu ke penthouse ini sebelumnya saat itu sedang musim semi, jadi terlalu dingin untuk menggunakan kolam renang ini.
"Hardhan...." pekik Kei ketika melihat suaminya ikut nyebur tanpa sehelai benangpun, "Kau benar-benar tidak tahu malu...." gerutu Kei kesal.
Hardhan hanya menyeringai lebar, lalu berenang dengan gaya punggung, membuat otot-otot tangannya terlihat membesar, begitu juga dengan otot dada dan perutnya. Membuat Kei menelan ludah melihatnya. Dan bagian bawah tubuhnya berkedut liar.
Dasar raksasa sialan...!!
suntuk Kei dalam hati
Ketika Hardhan berenang ke arahnya, Kei menghindar, Kei langsung berenang ke arah handrailing pool, berniat menyudahi kegiatan berenangnya. Tapi Hardhan sudah terlebih dulu berenang ke arahnya, lalu tangannya menahan Kei untuk tetap di dalam kolam.
"Mau kemana manis?"
__ADS_1
"Aku haus mau minum sebentar...." elak Kei.
Hardhan membalik badan Kei, matanya menatap Kei dengan penuh hasrat, lalu mendesak Kei sampai ke pinggir kolam , "Hardhan, kamu mau apa?" tanya Kei panik.
"Aku mau melahapmu di sini." godanya.
"Tapi... Tapi ini di kolam renang Hardhan."
Hardhan mengangkat bahunya, "Tidak masalah." tangan Kei menepis tangan Hardhan yang berusaha membuka tali di kedua sisi celana renang Kei, lalu menariknya lepas, membuat Kei memekik kesal.
"Hardhan!"
"Mumpung kita di sini sayang, kalau di rumah kita tidak bisa melakukannya di kolam renang, banyak mata yang akan melihat. Sedang di sini hanya ada kita berdua...." bujuk Hardhan dengan suara parau.
Kei kembali memekik ketika Hardhan berhasil membuka branya, "Kamu..." Hardhan langsung membungkam protes Kei dengan mencium bibirnya. Kei berusaha keras merapatkan bibirnya, sambil terus menghindari bibir Hardhan, hingga tangan kanan Hardhan menahan belakang lehernya.
Kei mengerang pelan ketika tangan kiri Hardhan menangkup dan memainkan puncak gunung kembarnya. Bibir Kei terbuka, membiarkan bibir Hardhan ******* bibir Kei dengan ciuman dalam, dan panas.
"Lingkarkan tanganmu di leherku." pinta Hardhan dan Kei langsung menurut, melingkarkan tangannya di leher Hardhan, kemudian Hardhan mengangkat badan Kei, dan mengarahkannya ke area pribadinya, lalu menyatukan tubuh mereka.
Kei semakin erat merangkul Hardhan, menggerakkan badannya naik turun sesuai arahan tangan Hardhan. Bergerak bersama sampai mereka mencapai kepuasan dan kenikmatan yang memabukkan.
"Kau benar-benar tidak tertolong lagi sayang...." ujar Kei dengan nafas yang tidak beraturan.
"Itu tidak masalah... Selama aku bisa memuaskanmu...." kata Hardhan sambil menyeringai lebar.
"Je t'adore... (Aku memujamu)." Hardhan mencium kening Kei.
Lalu pipinya "Je te désire... (Aku menginginkanmu)."
lanjut bibirnya "Je t'aime... (Aku mencintaimu)."
__ADS_1