
Galang mondar-mandir di depan ruang bersalin, sudah hampir dua jam ia dan mamanya menunggu dengan penuh antusias dan juga rasa khawatir.
Dan ketika pintu ruang bersalin terbuka, lalu dokter yang menangani Inge keluar, Galang langsung menghampiri dokter itu.
"Bagaimana keadaan anak saya dok?"
"Selamat pak Galang persalinannya memang sedikit sulit tapi pada akhirnya berjalan dengan lancar, ibu dan anak dalam keadaan sehat." jawab dokter itu sambil menepuk-nepuk pundak Galang.
"Boleh saya masuk sekarang?" tanya Galang lagi.
"Ya pak Galang sudah boleh masuk sekarang, tapi jangan lama-lama karena pasien harus banyak istirahat, karena pendarahannya tadi lumayan banyak, saya permisi dulu..."
Galang dan mamanya langsung masuk ke ruang persalinan, mengabaikan Inge, Galang langsung menghampiri box anaknya, anak lelakinya.
Ada rasa haru yang membuncah di dadanya, bayi mungil ini adalah anaknya, darah dagingnya. Galang menggendong anak itu dan memperlihatkannya ke mamanya.
"Lihatlah ma... Dia tampan kan?" tanya Galang dengan suara tercekat.
"Ya sayang... Dia mirip sekali denganmu sewaktu bayi dulu." jawab mamanya sambil menangis terharu.
"Kau sudah menyiapkan nama untuk anak kita mas?" tanya Inge.
"Arian Hardiyata..." jawab Galang sambil memandangi wajah mungil anaknya, lalu mengalihkan pandangannya ke Inge "Bagaimana? Kau setuju?" tanyanya.
Inge mengangguk, air mata mengalir ke pipinya lalu merentangkan kedua lengannya, "Bawa Arian ke sini mas... Aku ingin menggendongnya."
Galang menghampiri Inge, dan Inge langsung mengambil bayinya dari tangan Galang, lalu menatap lembut bayinya, jemari Inge mengelus pipinya,
"Aku akan berusaha menjadi ibu yang baik untuk anak kita mas... Aku tahu aku sudah banyak salah denganmu dan juga Kei... Dan aku akan meminta maaf padanya atas sikapku selama ini."
"Saat aku berada di antara hidup dan mati ketika melahirkan tadi, aku melihat bayang-bayangan kesalahanku di masa lalu, aku menyesal mas, sungguh-sungguh menyesal. Aku bersyukur Tuhan memberikan kesempatan lagi untukku bisa memperbaiki diri, untuk menjadi yang lebih baik lagi."
__ADS_1
Inge menghapus air matanya dengan lengannya yang bebas, lalu menatap penuh Galang, "Saat kontrak Kei dengan suaminya selesai nanti, dan kalian ingin rujuk kembali, aku rela kalau kau ingin menceraikanku dan kembali padanya. Aku yakin Kei akan menjadi ibu yang baik untuk Arian."
"Inge... Kau jangan berpikiran yang macam-macam dulu yaa... Sekarang tidurlah kau harus banyak istirahat, sini Arian mas yang gendong lagi." desah Galang sambil mengambil lagi Arian dari dekapan Inge, lalu menyerahkan ke mamanya.
Galang kembali duduk di samping Inge, tangan kirinya meremas tangan Inge, dan tangan kanannya membelai rambutnya yang lepek.
"Tidurlah... Sebentar lagi kau akan di pindahkan ke ruang VVIP, kau akan lebih nyaman di sana." bujuk Galang, menatap wajah pucat Inge yang sedang tersenyum padanya.
"Mas... Aku tahu kau tidak mencintaiku, dan aku tahu kau tidak akan pernah membalas cintaku. Sedari dulu cintamu hanya untuknya, seberapa besarpun usahaku untuk membuatmu membencinya, tapi semua tidak pernah bisa mengurangi rasa cintamu padanya. Aku sudah membuatmu menderita karena merindukannya, hingga kau tidak bisa tidur tanpa kehilangan kesadaran terlebih dahulu karena mabuk."
Inge menarik nafas dalam-dalam, dadanya mulai terasa sesak, dan keringat dingin mengalir di seluruh tubuhnya, "Aku sangat mencintaimu mas, dan cintaku akan selalu hidup untukmu, tapi aku mulai sadar cinta tidak harus memiliki. Dan aku rela meninggalkanmu jika itu bisa membuatmu bahagia. Aku...."
Inge tidak bisa melanjutkan kata-katanya lagi, nafasnya semakin sesak, tangan kirinya yang sedang dalam genggaman Galang mengepal kuat, dan badannya mulai kejang-kejang.
Dengan panik Galang menekan tombol untuk memanggil dokter, yang tidak membutuhkan waktu lama sudah hadir di ruangan itu. Galang mundur, memberikan ruang untuk dokter dan para perawat.
"Sebaiknya kalian tunggu di luar dulu yaa..." seru salah satu perawat dengan nada mengusir sambil mengambil Aria dari gendongan mamanya.
Galang dan mama kembali menunggu di luar, dan Galang kembali jalan mondar-mandir, kali ini karena ia benar-benar mengkhawatirkan istrinya, hingga ia mengacak-ngacak rambutnya.
"Kau tidak boleh meninggalkannya Galang... Kau tidak boleh melakukan itu. Lihatlah... Inge sudah mengalami kengerian ini untuk melahirkan anakmu... Cucuku." isak mamanya.
Galang menepuk-nepuk punggung mamanya, berusaha menenangkannya. Tidak lama kemudian dokter tadi keluar, Galang langsung berdiri dan menghampirinya. "Bagaimana keadaan istri saya dokter?"
"Kita bicarakan di ruangan saya... Mari..."
Galang dan mamanya mengekor di belakang dokter itu, lalu memasuki ruangannya dan mereka duduk tepat di depannya.
"Ibu Inge mengalami uterine atony, atau kontraksi rahim kurang kuat, hingga pembuluh darah tidak menutup dan menyebabkan pendarahan yang terus terjadi."
"Maksud dokter?" tanya Galang tidak mengerti.
__ADS_1
"Pembuluh darah akan terbuka dan mengeluarkan darah ketika plasenta terlepas dari rahim. Pada kondisi normal, rahim akan berkontraksi ke ukuran semula, dan pembuluh darah yang terbuka akan tertutup hingga menghentikan pendarahan."
"Tapi pada kasus istri anda, rahimnya tidak bisa berkontraksi kembali, dan pendarahannya sulit di hentikan. Kami sudah memberikan obat perangsang kontraksi rahim, dan kami juga sudah melakukan pijatan pada rahim untuk merangsang kontraksi rahim, tapi belum berhasil menghentikan pendarahannya." jelas dokter.
"Ya Tuhan... Lalu cara apa lagi dokter untuk menghentikan pendarahannya? Lakukan apapun yang terbaik untuk istri saya dokter..."
"Kami akan melakukan embolisasi pembuluh darah rahim, namun jika itu tidak membuahkan hasil juga, dengan berat hati kami harus mengangkat rahimnya untuk menyelamatkan nyawa ibu Inge."
"Ya Tuhan..." pekik mamanya Galang.
"Lakukan dok... Saya mengizinkan. Lakukan apapun yang terbaik untuk menyelamatkan nyawanya." pinta Galang.
"Kalau begitu bapak bisa mengisi formulir persetujuan operasi nanti."
"Baik dok..."
Dan ternyata operasi pengangkatan rahim itu tidak bisa di hindari lagi. Saat ini Galang dan mamanya masih menunggu di depan ruang operasi.
"Ma... Kalau mama lelah pulanglah. Biar Galang yang menunggu Inge di sini, nanti Galang akan kabari mama hasilnya."
"Tidak Lang, mama mau tetap di sini. Mama justru tidak akan merasa tenang di rumah kalau belum memastikan dengan mata kepala mama sendiri kalau menantu mama itu baik-baik saja."
Aku rela meninggalkanmu jika itu bisa membuatmu bahagia. Kata-kata Inge tadi kembali terngiang-ngiang di telinganya.
Tidak... Kau tidak boleh meninggalkanku Nge. Aku tidak akan membiarkannya.
Galang terus berdoa untuk keselamatan Inge, sampai akhirnya operasi berjalan lancar dan Inge sudah berada di ruang perawatan, Galang masih terus menggenggam tangan Inge.
"Nge... Please sadarlah... Ingat bayimu... Anak kita. Arian membutuhkanmu... Membutuhkan ASImu. Katanya kau ingin memberi anak kita ASI eksklusif, bangunlah sayang, bertahanlah..." Desah Galang lirih sambil menciumi tangan Inge.
Galang kembali teringat kata-kata yang pernah Kei ucapkan padanya di kantor Hardhan,
__ADS_1
Belajarlah mencintai apa yang sudah kamu miliki sekarang, sebelum hidup mengajarkanmu mencintai apa yang sudah hilang darimu. Karena yang paling setia pun bisa pergi, kalau merasa sudah tidak di hargai lagi.
"Maafkan aku... Maafkan aku yang selama ini mengabaikanmu, dan tidak ada di sampingmu di saat-saat kehamilanmu. Berikan aku satu kali kesempatan lagi Nge... Aku akan menebus semua kesalahanku padamu, dan aku akan berusaha mencintaimu... Aku akan berusaha mencintaimu dengan sungguh-sungguh. Tolong..., jangan tinggalkan aku..."