
Hardhan duduk di sofa kulit samping jendela kamar, memandangi aneka lampu dari gedung-gedung pencakar langit sambil menikmati wine favoritnya.
Sebenarnya Hardhan tidak terlalu menyukai minuman beralkohol, kejadian di pulau X yang menyebabkan dirinya kehilangan kendali diri, membuat Hardhan meninggalkan atau setidaknya mengurangi minuman tersebut.
Tapi hari ini sebuah pengecualian, Hardhan bisa emosi atau mematahkan leher istrinya jika tidak mengalihkannya ke minuman ini.
Jauh lebih baik dibanding ia harus mencari hiburan di tempat lain, pada malam pengantinnya, yang pasti akan menjadi sasaran empuk media massa, walaupun tanpa di minta Alex akan selalu membungkam semua media itu.
Hardhan kembali mengingat kejadian 7 tahun lalu, Saat itu Hardhan sedang ada satu proyek besar dengan rekan bisnisnya yang berasal dari negara kincir angin.
Untuk menghormati dan menjamu rekan bisnisnya itu, Hardhan bersedia menemani mereka minum, dengan beberapa wanita-wanita cantik dan seksi yang juga turut menemani.
Melihat Hardhan yang sudah setengah mabuk, Alex meminta maaf kepada mereka untuk membawa Hardhan kembali ke kamar.
"Lepas Lex... Saya bisa jalan sendiri." gerutu Hardhan berusaha melepas rangkulan Alex di bahunya.
"Lebih aman seperti ini boss."
Alex ikut jalan sempoyongan, mengimbangi langkah Hardhan, bagaimanapun Hardhan lebih tinggi dan lebih besar dibanding Alex, Tinggi Alex hanya setelinga Hardhan, dengan badan yang lebih ramping.
Pintu lift terbuka, Alex membimbing Hardhan memasuki lift, dan melepas rangkulannya dari bahu Hardhan.
"Bagaimana dengan wanita sialan itu? Apa dia bersedia menemani saya malam ini? memuaskan saya sebelum dia pergi?"
"Saya sudah meninggalkan acces card di resepsionis boss, wanita itu akan segera menemani anda ketika dia selesai dengan teman-temannya."
"Sebaiknya dia segera datang, sial!! Kepalaku pusing sekali..."
Hardhan menggelengkan kepalanya, berusaha menghalau rasa pusing dari kepalanya.
Pintu lift terbuka di lantai yang dituju, Hardhan melarang Alex keluar dari pintu lift.
"Sebaiknya kau kembali dan menggantikan saya dan temani mereka."
Alex menunduk hormat,
"Baik boss." dan pintu lift tertutup kembali.
__ADS_1
Hardhan berpegangan pada dinding hotel, berjalan ke arah kamarnya. Biasanya semabuk apapun ia tidak pernah sampai sepusing ini, mungkin karena lelah dengan pekerjaannya selama seminggu lebih.
Hardhan menempelkan acces card ke pintu kamar, dan masuk kedalamnya begitu pintu terbuka, tapi seseorang menubruk badannya, terlihat sekilas seorang wanita dengan wajah merah sebelum akhirnya kamar menjadi gelap ketika pintu di belakangnya tertutup. Tidak ada cahaya lampu yang masuk dari lorong.
Acces card ditangan Hardhan terlepas ketika menahan wanita itu yang berniat keluar dari kamar.
"Mau kemana sayang? Sebaiknya kamu penuhi janjimu dulu untuk menemaniku malam ini." kata Hardhan sambil membopong wanita itu yang terus menerus berontak dan teriak-teriak memintanya melepaskannya.
Tidak mempedulikan teriakan dari wanitanya ini, Hardhan merebahkan wanita itu ke atas
tempat tidur, dan Hardhan menguncinya dibawah tubuhnya.
Wanitanya ini memang sedang merajuk, karena Hardhan tidak bisa hadir di pestanya, ia ingin mengenalkan Hardhan kepada teman-temannya. Dan seperti inilah jika wanita itu merajuk, ia tidak mau Hardhan menyentuhnya.
Dengan tidak sabar Hardhan mencium wanita itu, memaksa kaki wanita itu membuka untuknya.
Dan wanita itu masih terus menerus berontak dibawahnya, untung saja wanita ini memakai dress selutut, jadi Hardhan tinggal mengangkatnya dan merobek pakaian dalamnya, kemudian menurunkan celananya sendiri. Mengabaikan teriakan dan tangisan histeris wanita itu.
Untuk sekarang Hardhan sudah tidak bisa menahan diri, mungkin besok ia baru akan meminta maaf pada wanita ini, dan membelikan apapun yang diinginkannya.
Hardhan memasukinya, masuk kedalam kehangatan yang lembab, keketatan yang mengagumkan, dan penghalang yang tidak terduga, yang ditembusnya sebelum ia menyadarinya, wanita itu langsung teriak histeris, menancapkan kuku-kukunya ke dada Hardhan.
Hardhan baru akan bicara ketika tiba-tiba dia mencapai kepuasan tanpa melakukan sesuatu, kepuasan yang paling hebat yang pernah ia rasakan. Menyedot habis tenaganya hingga ia benar-benar lemas, Hardhan menjatuhkan badannya di sebelah wanita itu, dan langsung tertidur.
Hardhan bangun dengan keadaan kamar yang masih gelap gulita dan keringat di sekujur tubuhnya, dia tidak meletakkan acces cardnya di tempat yang semestinya, hingga lampu dan AC kamar ini tidak menyala.
Sambil berusaha keras menahan denyutan menyakitkan di kepalanya, Hardhan menekan tombol di samping tempat tidurnya.
"Selamat malam boss, ada yang bisa saya bantu?" sapa seseorang disana.
"Suruh Alex kesini sekarang!!" teriaknya.
"Baik bos."
Hardhan kembali merebahkan kepalanya, jari telunjuk dan ibu jarinya menekan-nekan pelipisnya, berharap tekanan itu bisa meringankan sakit kepalanya.
Tidak lama kemudian Alex datang, Hardhan menutup matanya yang silau dengan nyala lampu yang tiba-tiba. Alex menghambur masuk ke kamar tidur utama.
__ADS_1
"Ada apa boss? Dimana nona Karina?" tanyanya panik.
Mendengar nama itu membuat Hardhan teringat dengan kejadian sebelumnya, dengan panik dia menyibak selimut mencari-cari wanita yang ditidurinya tadi, wanita itu hanya meninggalkan sebercak darah disana.
"Boss ... "
"Cari siapapun wanita sialan itu!! Dan kenapa dia bisa masuk ke kamar ini?!! Periksa semua cctv hotel ini!!" teriak Hardhan lagi penuh emosi.
"Baik boss!"
Setelah menunduk hormat, Alex meninggalkan Hardhan.
Sial!!! Hardhan tidak pernah main dengan wanita yang masih suci sebelumnya, ia selalu menghindarinya. Tidak mau merusak kesucian wanita yang tidak akan ia nikahi.
Alex kembali satu jam kemudian, ia melaporkan bahwa cctv malam itu sedang dalam perbaikan, sehingga tidak ditemukan rekaman pada jam yang sama. Resepsionis pun tidak bisa mengenali wajah wanita itu.
Wanita itu benar-benar menghilang seperti di telan bumi. Kalau Hardhan tidak melihat noda yang wanita itu tinggalkan diatas seprai, Hardhan akan mengira kejadian malam itu hanya halusinasinya saja.
Dan sampai saat ini, Alex yang selalu bisa di andalkan pun tidak berhasil menemukan wanita misterius itu. Dan wanita itu tidak pernah datang mencarinya.
Sebenarnya siapa dia? Kenapa bisa masuk ke kamarku?
Hardhan kembali meminum segelas Vodka nya, dengan tatapan kesal ia melihat Kei yang baru keluar dari kamar mandi, dengan mengenakan jubah mandi yang terlihat kebesaran di badannya, dan handuk kecil yang dililitkan di atas kepalanya.
Dengan kedua telapak tangan di satukan dibawah perut, Kei ragu-ragu menghampiri Hardhan.
"Maaf, bajuku..."
Hardhan hanya menunjuk ke arah lemari pakaian Kei.
"Oh." Kei langsung ke arah lemari baju yang ditunjuk Hardhan dan membukanya.
Kei terperangah kaget melihat isi dalamnya, penuh dengan baju tidur dan dress formal yang terlihat indah, tidak ada hotpants dan tanktop atau sekedar kaos biasa.
Semua baju tidurnya transparan.dan seksi, Kei tidak berani memakainya, tapi dia juga tidak mungkin memakai dress untuk tidur.
"A... Aku rasa aku akan pakai jubah ini saja." kata Kei sambil merapatkan jubah model kimono itu, dan mengencangkan talinya.
__ADS_1
"Terserah." jawab Hardhan dingin.