
Pagi berlalu dengan sangat pelan, ketika Hardhan menunggu Kei bangun dari tidurnya. Ia mengejutkan dirinya sendiri dengan kesabarannya karena berhasil menjauhkan tangannya dari Kei selama itu.
Tapi sekarang Hardhan sudah merasa lelah menunggu, ia menarik Kei ke dalam pelukannya, membelai rambutnya, mencium pipinya, tangannya menjelajah kemanapun untuk membangunkan istrinya.
"Keilani... Bangun sayangku...." bujuk Hardhan, jemari tangannya membelai punggung mulus Kei.
"Hhmmm...." Kei hanya bergumam rendah.
"Kei... Sayangku, aku bosan menunggumu bangun" bujuk Hardhan lagi lalu mengecup lembut bibir Kei.
Mata Kei terbuka dan langsung berhadapan dengan mata Hardhan, wajahnya terlalu dekat hingga hidung mereka nyaris bersentuhan, reflek Kei memundurkan kepalanya sedikit, kemudian melihat jam di dinding.
"Astaga Hardhan, ini masih jam tiga pagi!" suntuknya, lalu menutup mulut dengan punggung tangannya dan menguap lebar.
Hardhan menyeringai "Aku lapar sayang... Kemarin aku tidak makan siang, dan melewatkan makan malamku."
"Yaa baiklah aku akan menyiapkan makanan untukmu..." kata Kei dengan mata setengah tertutup, tapi rasa kantuk membuat matanya benar-benar terpejam dan tertidur lagi.
Sambil tersenyum jahil, Hardhan langsung naik ke atas Kei, dengan kedua lutut dan kedua tangan yang menopang badannya.
Hardhan menunduk dan berbisik di telinga Kei
"Bangunlah... Sebelum 'adik' ku ini juga merasa lapar."
Kei langsung melotot, rasa kantuk seketika menghilang "Oh aku baru terasa lapar, sekarang kamu minggir Hardhan, aku mau masak." elak Kei panik sambil mendorong badan Hardhan.
Hardhan terkekeh pelan,
"Aku tidak mau, aku sudah nyaman dengan posisi ini, rasanya menyenangkan sekali menempatkan kau di bawah kendaliku."
"Hardhan... Please...." bujuk Kei dengan wajah memelas.
Hardhan menyentil kening Kei
"Perusak kesenangan...." ia merebahkan badannya di samping Kei, Dengan sikap santai Hardhan melipat kedua lengan ke bagian belakang lehernya, dan menatap langit-langit kamarnya.
"Aku hitung sampai tiga, kalau kau belum keluar dari kamar ini, maka aku akan memakanmu."
Kei langsung duduk dan menatap Hardhan dengan tatapan kesalnya "Jangan kamu pikir...."
"Satu!" seru Hardhan memotong perkataan Kei.
"Kamu...."
"Dua!"
__ADS_1
"Kamu memang gila, arogan!" teriak Kei sambil turun dari tempat tidur lalu dengan secepat kilat dan nyaris tersandung ia lari keluar dari kamar.
Kei baru berhenti lari sesampainya ia di ujung tangga terbawah. Dengan nafas memburu ia balik badan, menyipitkan kedua matanya dan menatap tajam ke ujung tangga teratas, tidak ada siapa-siapa di ujung sana, tapi tetap saja Kei harus menyalurkan emosinya.
Dasar raksasa maniac!!!
suntuk Kei dalam hati.
Kei baru saja selesai menyiapkan sajian makan pagi mereka, ketika Hardhan sudah sampai di dapur dan langsung memeluknya dari belakang.
"Hmmm aromanya membuatku semakin lapar." bisik Hardhan.
Kei berusaha menyingkirkan tangan Hardhan,
"Sarapannya sudah siap Hardhan...."
"Iya... Aku tahu." kata Hardhan masih terus memeluk Kei.
Kei berhasil menepis tangan Hardhan dan langsung memutar badannya, menatap kesal ke suaminya yang sudah terlihat rapi, sama seperti biasanya terlalu tampan dan maskulin.
"Kamu mau kemana sepagi ini?"
"Aku ingin membawamu ke suatu tempat." jawab Hardhan, memutari meja bar dan duduk di stool chair.
"Kemana?" tanya Kei lagi sambil meletakkan dua porsi Croque Monsieur di atas meja bar kemudian duduk di kursi sebelah Hardhan.
"Ya tapi kenapa harus jalan sepagi ini? Aku masih ngantuk." gerutu Kei sambil memberengut.
"Jangan banyak tanya, lebih baik segera habiskan makananmu dan langsung bersiap, kita akan mengejar sunrise."
"Oh... Benarkah?" tanya Kei lagi semangat, dengan mulut penuh makanan.
Hardhan menyentil kening Kei lagi
"Memangnya untuk apa aku susah payah menahan gairahku pagi ini? Aku hanya tidak ingin membuatmu harus keramas sepagi ini, dan membuang banyak waktu untuk mengeringkan rambutmu, sementara kita harus mengejar waktu untuk mendapatkan sunrise itu."
"Tolong hentikan itu...." geram Kei dari sela-sela giginya.
Sebelah alis gelap Hardhan terangkat
"Hentikan apa?"
"Menyentil keningku."
"Maka berhentilah bersikap dan mengatakan hal yang konyol."
__ADS_1
"Aku tidak melakukan hal yang konyol barusan, dan kamu tetap menyentil keningku!" suntuk Kei.
"Kau tidak percaya dengan apa yang sudah ku katakan sebelumnya... Apa itu bukan konyol namanya?"
"Tidak bolehkah aku menegaskannya kembali? Aku takut kamu akan ingkar janji lagi!" tegas Kei
Hardhan meletakkan garpu dan pisau rotinya, memutar stool chairnya ke arah Kei.
"Mumpung kau sedang membahas itu, aku ingin memberitahumu bahwa kita akan sering bolak balik ke Paris, karena proyek baruku menuntut perhatian lebih dariku."
Hardhan berhenti dan memandang sekeliling penthousenya "Dan ini adalah rumah kedua kita." lanjutnya.
"Apa ini tentang proyek yang membuatmu tidak bisa pulang untuk makan siang kemarin?"
"Iya kau benar. Dan aku ingin kau menjanjikan satu hal lagi kepadaku."
"Apa itu?" tanya Kei.
"Jangan pernah pergi keluar sendirian lagi, kau tahu... Kau nyaris membuatku ketakutan kemarin, aku takut terjadi sesuatu yang buruk yang menimpamu dan aku tidak ada untuk melindungimu. Kau bisa lolos karena dua pengawal yang biasa aku tugaskan untuk menjagamu, mereka sedang bersamaku kemarin. Tapi mulai sekarang aku bisa pastikan kau tidak akan pernah keluar rumah sendirian lagi!"
"Aku hanya ingin menikmati waktu sendirian." elak Kei.
"Kalau kau begitu inginnya menikmati waktu sendirian... Kenapa kau mau menuruti keegoisan mantan suamimu itu, menuruti kemauannya untuk menikahkanmu dengan pria pilihannya, agar supaya kau bisa segera menjadi miliknya lagi! Padahal kau bisa menikmati waktumu menjadi single lagi, jika kau menolak keinginan mantanmu itu."
"Itu bukan salah mas Galang, dia tidak egois karena aku pribadi juga ingin segera kembali menjadi miliknya."
Hardhan mengangkat bahunya
"Aku tidak peduli nanti kau ingin kembali ke mantanmu atau tidak, yang jelas kau sekarang adalah istriku, dan selama kau menyandang gelar itu, sebagai suami yang bertanggung jawab, aku akan memastikan keselamatan dan kesejahteraanmu."
"Kalau aku tidak mau kau lindungi... Bagiamana?"
"Kau tinggal membayar denda sesuai dengan yang tertulis di surat perjanjian yang telah kau tanda tangani itu, karena kau sudah melanggar salah satu poinnya, dengan tidak patuh padaku."
"Oh baiklah, aku janji tidak akan keluar sendirian lagi, apakah tuan Hardhan yang terhormat sudah puas?!"
"Belum." jawab Hardhan sekenanya.
"Belum apa? Aku sudah berjanji dan kamu belum puas juga!"
Hardhan menarik tangan Kei, dan meremasnya,
"Kau harus memegang janjimu itu, aku hanya mengatakan ini sekali, aku juga manusia biasa, kekuasaanku di sini tidak sebesar dan sekuat di negara kita. Kalau sesuatu terjadi padamu di sana, aku bisa mengerahkan semuanya untuk membantumu dan melindungimu, tapi tidak jika di sini!" Hardhan menghela nafas panjang
"Jadi tolonglah, jangan bersikap semaumu di sini!" lanjutnya.
__ADS_1
Kei mengangguk, "Iya, aku mengerti, sekarang aku mau bersiap dulu, aku tidak ingin ketinggalan melihat sunrise yang kau janjikan itu."
"Pergilah, aku akan menunggumu di sini."