Terpaksa Menikah Lagi

Terpaksa Menikah Lagi
Ikatan Batin


__ADS_3

Keesokan paginya, dokter Sam melepas infus Kei, dengan hati-hati ia menekan tempat tusukan jarum dengan kapas alkohol dan mencabut infus pelan-pelan, tetap saja Kei sedikit meringis, lalu Sam menekan kapas alkohol dengan plester.


Hardhan masih terlelap di sebelah Kei, ia belum juga terbangun, meski badannya sudah tidak panas lagi. Sepertinya Hardhan benar-benar kelelahan, nyaris dua malam ia tidak tidur, belum lagi pergolakan batinnya saat menuju kesini, membuat Kei semakin merasa bersalah.


Dokter Sam merawat Hardhan di sebelah Kei, Sam tidak mau mengambil resiko dengan amarah Hardhan ketika ia sadar nanti, karena Sam sudah memisahkannya dari istrinya.


Kei merenggangkan tangannya, merasakan gerakan bebas tanpa jarum infus yang membatasi geraknya.


"Terima kasih dokter Sam..." ucap Kei sambil tersenyum manis.


"Panggil saja Sam, tanpa embel-embel dokter di depannya... Seperti Hardhan memanggil saya. Dan kau tetap jangan banyak bergerak dulu yaa..." pinta Sam.


Kei melihat Hardhan, lalu mengkerutkan keningnya, "Baiklah Sam... Apa tidak apa-apa dia terus tidur seperti itu?" tanyanya khawatir, sambil mengelus lembut pipi Hardhan dengan punggung tangannya.


"Tidur adalah caranya memulihkan diri... Tidak perlu khawatir, semua hasil tes bagus, dia hanya kelelahan dan dehidrasi."


"Aku jadi merasa bersalah, dia seperti ini karena aku.." desah Kei dengan sebersit rasa sesal.


"Saya tidak pernah sekalipun melihat Hardhan bersikap sepeduli itu terhadap wanita, seperti kepeduliannya padamu. Kau ingat sewaktu pertama kali kau di rawat di sini dulu?"


Kei mengangguk, ia ingat saat ia pingsan karena seseorang memasukkan obat perangsang ke gelas minumnya, untungnya Hardhan segera datang dan menyelamatkannya.


"Sejak saat itu saya mulai merasa yakin dia sudah memendam perasaan padamu. Saya tidak pernah melihatnya sekhawatir itu. Dan Kei... Jangan pernah meragukannya lagi. Dia memang pria berengsek dan playboy... Tapi itu sebelum ia mengenalmu." jelas Sam, lalu kembali mendekati Hardhan dan memeriksa nadi tangannya.


"Sekarang dia sudah benar-benar berubah, dia sudah lebih sering tertawa... Dulu saya selalu bertanya-tanya, mungkinkah ada seseorang yang mampu membuat pria yang sangat dingin, kaku, arogan dan berkuasa itu kembali menjejakkan kaki di bumi? Kembali membuatnya seperti manusia pada umumnya? Dan ternyata kau lah orangnya Kei... Hardhan tidak pernah memperlihatkan sisi rapuhnya pada siapapun, tapi denganmu... yah kau bisa melihatnya sendiri kemarin."


"Iya aku tahu..." desah Kei sambil setengah merenung.


"Dia terlihat sangat kacau kemarin, kalau bukan karena tekad yang kuat, dengan kondisi tubuh seperti itu, dia tidak akan sampai rumah sakit dalam keadaan sadar. Hardhan sangat mengkhawatirkanmu dan anak dalam kandunganmu, hingga ia tidak peduli dengan dirinya sendiri. Begitupun dirimu terhadapnya."


Kei mengalihkan perhatiannya dari Hardhan ke Sam, "Maksudnya?"


"Kau langsung siuman tidak lama setelah Hardhan datang, Karena tubuhmu sudah sangat mengenalnya, sudah merasa nyaman dan sangat bergantung padanya, meski kau dalam keadaan tidak sadar sekalipun, kau selalu merasa aman jika ada Hardhan bersamamu, dan kau langsung keluar dari zona amanmu di alam bawah sadarmu, dan kembali ke dunia nyata. Ikatan batin diantara kalian sudah begitu kuat, jadi jangan pernah meragukannya lagi."

__ADS_1


Setelah mengatakan itu, Sam menyerahkan handphone Kei, "Pak Hendrawan memintamu untuk melihat video dari madame Agathe, saya permisi dulu, kalau perlu bantuan kau tinggal tekan tombol itu." seru Sam sambil menunjuk tombol di atas tempat tidur.


"Oh iya Sam... Dokter residen kemarin siapa namanya?"


"Dokter Talita..."


"Iya dokter Talita, dia sedang ambil spesialis apa?"


"Kandungan... Kenapa? Dia membuat masalah lagi?" tanya Sam khawatir.


Kei mengibas tangannya, "Tidak... Dia tidak membuat masalah, aku hanya ingin dia menjadi salah satu dokter yang stand by di rumah." usul Kei.


Kening Sam mengkerut, membentuk ketidak setujuan, "Hardhan hanya ingin dokter spesialis lah yang stand by, bukan dokter residen. Dia pasti tidak akan setuju."


"Hardhan pasti setuju... Dia juga tahu dokter Talita itu bisa di andalkan. Dan yang terpenting, ia berani mengeluarkan pendapatnya tanpa merasa terintimidasi oleh Hardhan."


Sam menghembuskan nafas panjang dan mengkerutkan kening, "Lihat nanti saja yaa sesudah Hardhan bangun... Ada yang ingin ditanyakan lagi?"


"Baiklah kalau begitu, saya permisi."


Setelah Sam menutup pintu, Kei langsung membuka handphonenya, dan melihat video yang di kirim madame Agathe.


Kei memekik, lalu menutup mulutnya dengan tangannya. Sepengetahuannya, Hardhan tidak pernah sekalipun memukul wanita. Tapi dia bersikap kasar sekali dengan Karina, dia pasti emosi sekali saat itu.


Kei melihat penuh suaminya yang masih tertidur, dan semakin merasa bersalah... Seandainya ia lebih percaya suaminya alih-alih ocehan wanita ular itu, Hardhan tidak akan menjadi seperti saat ini, Hardhan tidak akan memaksakan diri untuk secepatnya sampai di sini hingga kelelahan, tidak bisa tidur dan makan.


Kei meletakkan handphonenya di meja nakas sebelahnya, lalu merebahkan diri di sebelah Hardhan kemudian memeluknya, kepalanya di sandarkan di atas dada bidang Hardhan.


"Sayang... Kapan kau bangun? Aku berhutang permintaan maaf padamu..." desah Kei dengan perasaan bersalah.


"Maafkan aku karena sudah membuatmu seperti ini... Aku menyesalinya dan aku sangat merasa bersalah sekarang. Aku tahu kata-kata maaf saja tidak akan cukup, tapi aku sudah berjanji kalau aku tidak akan pernah meragukanmu lagi, dan aku akan menepati janjiku itu."


"Bodoh... Kau ngoceh apa sih?" tanya Hardhan sambil membelai rambut Kei.

__ADS_1


Kei langsung mendongak, dan matanya bertemu mata Hardhan lalu ia menyeringai lebar, "Akhirnya kau bangun juga sayang..." seru Kei sambil duduk bersila.


Hardhan mengerutkan keningnya, "Sudah berapa lama aku tidur?"


"Hampir duapuluh empat jam..." jawab Kei.


Hardhan langsung duduk, dan baru menyadari tangannya yang terpasang jarum infus.


"Apa-apaan ini?! Berani-beraninya Sam melakukan ini padaku!!" geramnya.


"Kamu dehidrasi sayang... Kamu kekurangan cairan." Jelas Kei.


"Tetap saja dia tidak bisa melakukan itu tanpa izinku!" suntuknya sambil mencabut jarum infus itu, membuat Kei memekik panik, "Hardhan!"


Kei langsung menekan tombol yang dimaksud Sam tadi, karena melihat darah yang keluar dari tangan Hardhan.


"Kamu konyol sekali... Memangnya aku akan membiarkan kamu mati karena kelelahan? Aku yang mengizinkan Sam untuk menginfusmu... Aku takut... Aku tidak pernah melihatmu selemah itu... Kalau kamu kenapa-napa, bagaimana dengan anak kita nanti?" tanya Kei.


Hardhan baru akan menjawab tetapi Sam dan beberapa dokter lainnya sudah memasuki kamar. Hardhan langsung memberikan tatapan membunuh ke Sam, yang berusaha keras Sam abaikan.


"Kau terlihat tidak sabar untuk melepas infusmu Dhan..." kata Sam sambil melihat punggung tangan Hardhan bekas jarum infus tadi berada.


"Kau mau mati yaa? Kau sengaja membuatku terlihat lemah?" desis Hardhan.


Kau memang sedang lemah bodoh, masih saja memikirkan harga dirimu...


suntuk Sam dalam hati.


"Nona Kei... Seperti yang anda lihat, tuan Hardhan sudah kembali sehat... Jadi tidak masalah infusnya di lepas." seru Sam sambil menekan kapas alkohol di bekas jarum infus dengan plester, pura-pura mengabaikan ancaman Hardhan.


Bayi besar sudah kembali menjadi singa....


batin Sam.

__ADS_1


__ADS_2