
"Terserah ... "
Suara dingin itu... Apa dia masih marah sama aku? Bagaimana bisa dia punya pikiran aku sedang membayangkan mas Galang? Justru ajaibnya seharian ini aku tidak memikirkannya sama sekali, mungkin karena seharian ini aku disibukkan dengan pernikahanku. Melihatnya sedingin itu, kalau aku memilih pakai jubah mandi alih-alih baju tidur yang sudah di siapkan Hardhan, mungkin raksasa itu akan tambah marah, dan aku tidak ingin menyiram minyak tanah ke dalam api.
Sambil menghela napas panjang, Kei memilih baju tidur yang akan ia pakai, yang semuanya adalah lingerie pendek dengan bahan yang menerawang. Kei mengutuk siapapun yang memilihkan model seperti ini untuk baju tidurnya.
Kei memilih lingerie model babydoll warna hitam, satu set dengan G-String. Dilihat dari ukurannya memang sesuai dengan badan Kei. Kei kembali masuk ke kamar mandi, dan mengganti jubah mandinya dengan lingerie.
Kei memandang pantulan dirinya di cermin, Kei tidak ingin malam pertamanya dilewatkan dengan kesalah pahaman antara ia dan suaminya. Bagaimanapun juga dia sudah berjanji pada Hardhan kalau ia akan melakukan kewajibannya sebagai istri dengan baik.
Kei menghela nafas panjang, menguatkan hatinya sebelum akhirnya membuka pintu kamar mandi dan menghampiri suaminya.
Hardan menelan ludah melihat Kei keluar dari kamar mandi dengan lingerie yang seksi, dan terlihat pas sekali dengan tubuh Kei, memperlihatkan lekukan-lekukan indah tubuhnya, hingga membuat gairah Hardhan kembali naik.
Sial Alex! Baju yang kau pilih memang bisa langsung membangkitkan gairahku, tapi wanita itu memakainya di waktu yang tidak tepat! rutuk Hardhan dalam hati
Hardhan menopangkan kaki kanannya ke atas kaki kirinya, berusaha menyembunyikan bukti gairahnya dari Kei, yang sedang berjalan menghampirinya, dan duduk di kursi sebelah Hardhan. Mereka hanya dipisahkan oleh satu buah meja tempat botol Vodka Hardhan di letakkan.
Kei menuang minuman itu ke gelasnya sendiri, Hardhan langsung menahan tangan Kei.
"Jangan, ini terlalu keras untukmu."
Kei menepis tangan Hardhan dengan tangannya yang bebas.
"Oh ayo lah ... Sekali ini saja ... Aku ingin mencobanya."
Supaya aku mempunyai keberanian dan percaya diri untuk hari ini.
Setelah melakukan aerasi, Kei langsung menegak habis minuman itu, merasakan sensasi after taste dari vodka itu di tenggorokannya. Hardhan ingin mengisi kembali gelasnya yang kosong, tapi Kei menolak.
"Tidak, sudah cukup satu gelas saja."
Kei menenangkan diri sebentar "Mengenai tadi aku ... "
"Bukannya tadi sudah ku bilang, aku tidak mau mendengar apapun alasanmu ... "
"Tapi kau harus mendengarnya!" teriak Kei.
Hardhan mengangkat sebelah alisnya, mungkin dia berpikir Kei sudah berani teriak padanya, tapi Kei harus tetap menjelaskan, mau semarah apapun Hardhan dia tidak peduli. Malam ini kesalah pahaman itu harus berakhir. Untunglah minuman ini menimbulkan sedikit keberaniannya.
__ADS_1
"Aku memang mencintai mas Galang, tapi tadi aku sungguh-sungguh tidak sedang membayangkannya, dan aku tidak bodoh sampai tidak bisa membedakan kamu dan mas Galang, dari segi badan atau apapun kalian jelas berbeda ... "
Hening, tidak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulut Hardhan, dan pandangan Hardhan masih tetap diarahkan ke luar jendela. Kei bangun dari kursinya dan berdiri tepat di depan suaminya.
"Aku sudah menjelaskan yang sebenarnya, terserah kamu mau percaya atau tidak."
Kei langsung balik badan ke arah tempat tidur,
"Lalu kenapa kau tidak mau membuka mata? Apa segitu bencinya kau padaku?!"
Kei menghentikan langkahnya,
"Aku tidak bisa menjelaskannya padamu ... Tapi apapun alasanku untuk itu, tidak ada hubungannya dengan mas Galang dan aku tidak membencimu."
"Kau bahkan masih memanggilnya mas ... Padahal dia sudah bukan suami kau lagi." Hardhan mencibir.
Kei balik badan lagi ke arah Hardhan, menyilang tangannya di depan dada sambil menyipitkan kedua matanya.
"Apa kamu cemburu? Ahh lupakan saja, tidak mungkin playboy sepertimu mempunyai perasaan cemburu."
Kesal mendengar nada mengejek Kei, Hardhan berdiri dari kursinya, dengan tatapan memburu dan langkah yang pelan, ia menghampiri Kei, membuat Kei mundur selangkah demi selangkah sampai dinding dibelakang Kei menghentikan langkahnya, membuat Kei memekik kaget.
Hardhan mengungkung Kei dengan kedua tangannya, dia melihat Kei yang sudah mulai panik, mencari celah untuk keluar dari kungkungan Hardhan.
"Terdengar seperti binatang."
Kei langsung menyesali perkataannya, mengutuk dirinya sendiri karena masih berani memprovokasi Hardhan.
Hardhan memegang dagu Kei dan mendongakkan wajahnya, sampai mata sendunya yang selalu terlihat sensual itu menatap mata Hardhan.
"Kau sudah berani menantangku ya? Di malam pertama kita?"
"Aku ... Aku hanya kesal kamu tidak bisa berpikir dengan logis."
"Binatang memang tidak memiliki akal, jadi dia tidak bisa berpikiran logis ... Dan dengan senang hati akan ku tunjukan ***** binatangku!"
Hardhan menunduk dan langsung mencium bibir Kei, membuat kaki Kei melemas dan otaknya luluh. Rasa panas menyeruak di beberapa bagian tubuh Kei, membuat badannya seketika merapat ke Hardhan.
Hardhan kaget dengan respon Kei, ia mengira Kei akan menolak dengan menampar atau menendangnya. Tidak mau menyia-nyiakan kesempatan, Hardhan langsung membopong Kei, dan membaringkannya ke atas tempat tidur.
__ADS_1
Dengan tidak sabar Hardhan membuka baju Kei dan bajunya sendiri, Kei langsung memejamkan matanya, tapi kali ini Hardhan tidak peduli. Terserah Kei mau membayangkan siapapun selama Hardhan bisa menyalurkan gairahnya terhadap Kei yang sudah lama ia tahan.
Tapi ternyata tidak bisa, tidak dengan mata Kei yang terpejam itu. Dan Hardhan tidak ingin memaksakan kehendaknya diluar kemauan Kei.
Hardhan Mencium kening Kei, kemudian turun dari tempat tidur dan menarik selimut menutupi badan Kei sampai ke atas dadanya. Dengan napas tersengal Kei memandang Hardhan dengan tatapan bingung.
"Kenapa lagi?" tanya Kei.
Hardhan mengenakan kembali pakaiannya.
"Tidurlah ... "
"Hardhan ... "
"Tidurlah Kei ... Aku lelah."
Hardhan memutari tempat tidur, lalu berbaring di sisi lain tempat tidur ini, dengan tepukan tangan Hardhan semua lampu di kamar langsung mati.
"A ... Aku tidak bisa tidur dalam keadaan gelap," bisik Kei panik.
"Kau bukan anak kecil Keilani ... Kenapa takut gelap? Ada aku disini."
Hardhan mendekat ke Kei, memeluk Kei dari belakang, dan merasakan badan Kei yang gemetaran. Hardhan langsung duduk dan bertepuk tangan lagi, kamar menjadi terang kembali.
"Demi Tuhan ... Ada apa denganmu?!"
Kei tidak menjawab, ia hanya memejamkan matanya erat-erat sambil terisak. Hardhan menepuk-nepuk pipi Kei.
"Kei ... Hei ... Kau kenapa?"
"Aku takut gelap ... " jawab Kei dengan suara bergetar.
"Kau fobia gelap? Sudah kau bisa buka mata sekarang, kamar sudah seterang siang hari."
Kei tetap tidak mau membuka matanya, dia terlihat seperti kesulitan bernafas, keringat dingin mengalir keluar dari pori-porinya.
Hardhan memeluk Kei, berusaha menenangkannya, "Maafkan aku ... Aku tidak tau kau menderita nyctophobia ... "
Hardhan terus menenangkan Kei, sampai istrinya itu tertidur, ia tadi berniat menelpon Sam, tapi niat itu di urungkan karena Kei mulai tenang di dalam pelukannya. Besok Hardhan akan meminta Sam untuk memeriksanya.
__ADS_1
Hardhan berusaha memejamkan matanya, walaupun sedikit sulit mengingat ada tubuh polos yang sedang ia peluk saat ini.