Terpaksa Menikah Lagi

Terpaksa Menikah Lagi
Rindu


__ADS_3

Hai Readers....


Ini episode ketiga di hari ini, episode ke empat segera menyusul. Mumpung Author lagi senggang hari ini, jadi mau Crazy Up nih.


Jangan lupa Vote dan ajak teman baca novel TML ini yaa... Terima kasih😊


Hardhan duduk di kursi kecil di samping jendela kamarnya, biasanya Kei akan duduk di kursi kecil satunya lagi, mereka akan mengobrol sampai rasa kantuk menerpa mereka, atau obrolan mereka berlanjut ke olahraga kasur, tapi Kei sedang menginap di rumah papanya, dah Hardhan sudah mulai merindukannya, merindukan rutinitas mereka.


Rasanya hampa tanpa Kei di kamar ini, Hardhan jadi tidak berminat melakukan apapun, sampai jam makan malampun tiba. Hardhan keluar dari kamarnya menuju dapur, mencium pipi mamanya dan duduk di ujung meja di sebelah kanan mama.


Hardhan kembali melamun melihat kursi Kei yang kosong, kembali ia merasakan kehampaan.


"Kamu lebih tertarik sama kursi itu daripada makanan di meja ini." celetuk mamanya.


"Oh aku hanya bertanya-tanya, Kei sudah makan atau belum." elak Hardhan.


"Kei sudah makan, dia masak iga bakar kesukaan pak Hendrawan. Mama melihat fotonya saja sudah ngiler, Mama bersikeras meminta Kei memasaknya juga untuk Mama besok."


Dahi Hardhan mengkerut, "Darimana mama tahu?"


Mama mengeluarkan handphone dari sakunya, membuka aplikasi chatnya dan memutar handphonenya ke arah Hardhan,


"Nih kamu lihat saja chat Mama sama Kei."


Hardhan mengambil handphone itu dan membaca isi chat mereka.


Apa-apaan ini, Kei chat panjang lebar ke mama tapi tidak chat satu katapun padaku, sial!!


"Dilihat dari raut wajahmu, sepertinya Kei belum menghubungimu." ledek mamanya.


Hardhan mengangkat bahunya, "Mungkin dia chat, tapi aku tidak pernah mengaktifkan handphoneku jika di rumah." elak Hardhan lagi.


"Hmmmpphhh." tawa tertahan mamanya, membuat sebelah alis Hardhan naik.


"Sepertinya kalian lebih akrab dari yang ku bayangkan."


"Oh kamu tidak perlu cemburu sama mama, hubungan kami hanya sebatas ibu dan anak, tidak lebih."


Hardhan memutar kedua bola matanya,


What?! Aku tadi mutar kedua bola mataku? Bahkan aku sudah meniru kebiasaan Kei...


Dengan enggan Hardhan menyantap hidangan makan malamnya, sepi tidak ada obrolan antara mamanya dan Kei. Suasana kembali seperti saat Hardhan belum menikah, dan ia tidak menyukainya.


Selesai makan Hardhan duduk di ruang keluarga, mengganti-ganti channel TV kabelnya tanpa ada satupun film yang menarik minatnya untuk menonton,


"Demi Tuhan Hardhan, letakkan remote itu sebelum kamu merusaknya. Dan datangi sana istrimu!" gerutu mamanya.


Hardhan melempar asal remotenya ke kursi di sebelahnya, menghampiri dan mencium pipi mamanya.


"Kalau itu kemauanmu, Mama." bisiknya.


"Dasar anak nakal, jangan pakai mama sebagai alasan, kamu hanya tidak mau mengakui kalau kamu sudah merindukannya."


Hardhan menyeringai lebar "Aku berangkat sekarang..."

__ADS_1


"Tunggu kamu menyetir sendiri? Tidak bawa beberapa orang untuk menemanimu?"


"Tidak perlu mama, sudah ada upin ipin disana, aku tidak mau mertuaku merasa tidak nyaman dengan banyaknya bodyguard di rumahnya."


"Upin Ipin?" tanya mamanya bingung.


"Kedua pengawal yang kutugaskan untuk menjaga Kei."


"Ohh, yasudah kamu hati-hati, dan jangan ngebut."


**********


Bi Inah mengarahkan Hardhan ke depan pintu kamar Kei, hari sudah malam dan jam menunjukkan pukul sebelas ketika Hardhan sampai. Pak Hendrawan dan Kei sudah tertidur


"Terimakasih bi Inah..."


"Sama-sama Den..."


Hardhan membuka pelan pintu kamar Kei, seperti biasa Kei tidur dengan semua lampu yang menyala. Kei tertidur pulas seperti bayi.


"Bagus yaa... Kau bisa tidur pulas, sementara aku tersiksa memikirkanmu." rutuk Hardhan.


Ia menghampiri tempat tidur Kei, jemarinya menelusuri pipi Kei, kemudian menaikkan selimut sampai ke bawah dagu Kei.


Hardhan memandang ke sekeliling kamar Kei, melihat beberapa bingkai foto di atas nakas, foto Keluarga seperti di ruang keluarga bawah, ada foto Kei bersama Sonya, dan ada juga foto pernikahannya dengan Galang.


Hardhan langsung membuang bingkai foto itu ke tempat sampah, lalu menatap tajam ke arah Kei yang masih tertidur "Awas kau yaa, berani-beraninya masih menyimpan foto pria lain."


Hardhan menemukan album foto di rak buku Kei, Fofo-foto Kei dari bayi hingga balita, dan foto Kei saat berusia lima tahun, inilah gadis kecil yang datang ke rumahnya. Kecantikannya sudah terlihat sejak kecil, juga wajah lugunya.


Dua halaman terakhir album itu berisi acara kelulusan SMAnya, baju Kei yang penuh dengan coretan.


Dan wajah Kei yang terkena cat semprot warna merah, membuat nafas Hardhan seketika tercekat. Hardhan menutupi foto itu dengan tangannya supaya terlihat gelap.


Yah benar, gadis itu adalah Kei. Bahkan hasil DNAnya pun cocok.


Hardhan mengambil salah satu foto Kei dan dimasukkan ke saku dalam jasnya. Melipat kembali album itu dan meletakkan di tempatnya semula.


Hardhan melepas kemejanya dan melampirkannya di kursi, lalu di susul celana panjangnya, kini ia hanya menggunakan celana boxernya.


Tampat tidur Kei kecil, hanya ukuran Queen. Hardhan masuk ke dalam selimut, mendekatkan diri ke Kei dan membawanya ke dalam pelukannya. Kei bergumam sebentar kemudian tidur lagi.


Hardhan mengecup kening Kei, "Begitu lelapnya kau tidur tanpa ku sayang."


**********


Paginya Kei membuka mata dengan melihat wajah Hardhan di depannya, Kei menutup mata kembali lalu membukanya lagi, Hardhan masih ada bahkan ia tersenyum menggoda ke Kei.


Kei balas tersenyum ke bayangan suaminya itu,


"Astaga Kei, baru menginap semalam saja kamu sudah merindukan dia." gumam Kei.


"Aku juga merindukanmu sayang...." balas Hardhan.


Kei langsung terlonjak kaget, dan nyaris terjatuh dari kasur, tangan panjang Hardhan menahan pinggangnya.

__ADS_1


"Hardhan, kamu..." Kei melihat ke sekelilingnya,


"Iya benar ini kamarku, kenapa kamu bisa disini?" tanya Kei.


Jari Hardhan membelai rambut Kei,


"Memangnya dimana lagi tempatku, kalau bukan di samping istriku."


Kei mencubit gemas pipi Hardhan, "Hmmm kamu manis sekali sayang."


"Wah sudah berani memancingku yaa..."


Hardhan menyibak selimut dan menggelitik pinggang Kei hingga Kei terkikik geli


"Hardhan stop! Geli..."


Hardhan berhenti, lalu mengungkung Kei di bawahnya, menatap lembut Kei,


"Kau chat panjang lebar dengan Mama, tapi tidak ada satupun chat untukku, apa mama lebih penting untukmu daripadaku?"


"Aku tahu percuma chat kamu, handphonemu tidak pernah aktif jika di rumah."


"Mulai hari ini handphoneku akan selalu aktif, terutama jika kau tidak ada di dekatku. Kau harus chat aku tiap hari." perintah Hardhan.


"Iya sayang...."


"Kamu masih lampu merah?" tanya Hardhan.


Kei mengangguk.


"Masih banyak?" tanyanya lagi.


"Tinggal sedikit."


"Kalau begitu nanti malam bisa kan?"


Kei menyeringai lebar, "Belum tentu."


"Sepertinya kau terlihat senang tidak bisa melayaniku."


Kei melingkarkan tangannya ke leher Hardhan, menariknya mendekat, "Aku juga menginginkannya sayang, tapi belum bisa sekarang, sabar yaa...." bisik Kei.


"Aku sudah puasa empat hari, aku lapar...." Hardhan merajuk.


Kei menarik lagi leher Hardhan, lalu mencium bibirnya, Hardhan langsung menyambutnya. Hingga tiba-tiba pintu kamar Kei terbuka.


"Kei... Kamu..." suara pak Hendrawan terhenti ketika melihat dua sejoli di atas tempat tidur.


Hardhan langsung menutupi Kei dengan badannya.


"Aarrghhh Papa...." teriak Kei sambil menyembunyikan wajahnya di dada Hardhan.


"Maaf... Maaf..." pak Hendrawan langsung keluar dan menutup pintu.


"Bolehkah aku mengirim papamu ke kutub selatan?" tanya Hardhan kesal.

__ADS_1


__ADS_2