Terpaksa Menikah Lagi

Terpaksa Menikah Lagi
Nostalgia di Pulau X


__ADS_3

Akhirnya sampai juga mereka di pulau X, dan mereka menghabiskan waktu tiga puluh menit lagi melewati jalan yang cukup berliku dan menanjak dengan pemandangan yang menakjubkan untuk sampai di salah satu resort milik Hardhan, resort mewah dengan lima kamar.


Resort yang berada di atas bukit ini memadukan keindahan tropis dengan gaya kontemporer Italia yang berkelas, penataan cahaya yang memukau membuat resort ini terlihat lebih glamour dan mewah.


Kei berdiri di balkon kamar yang menghadap langsung ke laut lepas, menikmati suasana hening, tenang dan damai, serta hembusan angin yang mengibarkan rambutnya, dan deburan ombak Samudera Hindia yang samar-samar terdengar.


Hardhan memeluk Kei dari belakang, tangan besarnya mengelus lembut perut Kei yang sudah terlihat sedikit membuncit. "Kalau kita beruntung dan udara sedang bagus, kita bisa melihat sunrise atau sunset di sini..." bisik Hardhan dengan suara selembut beledu.


"Aku suka dengan pemandangan ini, dan suasana yang hening ini, daripada hingar bingar ibukota..." ujar Kei.


"Kau bisa ke sini kapanpun kau mau, dan aku akan dengan senang hati menemanimu."


Kei balik badan ke Hardhan, lengannya merangkul leher Hardhan, "Benarkah?" tanyanya antusias.


"Iya sayang... Kebetulan aku juga menyukai pulau ini, pulau tempat aku menemukan cinta sejatiku..." jawab Hardhan lalu mencubit hidung Kei.


"Kau tahu... Aku pernah melakukan hal konyol di sini?" tanya Kei sambil menyeringai.


"Mabuk sampai salah masuk ke kamarku?" tebak Hardhan.


Kei menggeleng, "Bukan... Bukan itu..." sanggahnya.


"Lalu apa?"


"Hmmm, aku pernah secara tidak langsung menggodamu di kolam renang. Yaa... Memang saat itu aku sedang ingin balas dendam pada Galang karena sudah selingkuh lagi, dan aku ingin membalasnya dengan selingkuh juga....


Saat itu kau baru saja selesai berenang, dan menaiki handrailing pool, mataku langsung tertuju padamu, jantungku langsung berdegub kencang, dan perutku seperti ada ribuan kupu-kupu yang menari, entah kenapa kamu terasa familiar, aku seperti pernah melihatmu tapi entah kapan dan dimana... Kau tahu... Saat kau merebahkan badanmu di kursi lounger, aku memiliki keinginan kuat untuk menghampirimu dan menjatuhkan diriku ke pelukanmu..." aku Kei lembut sambil menyeringai lebar.


"Kenapa kau tidak menuruti keinginanmu?" tanya Hardhan sambil menaikkan sebelah alisnya.

__ADS_1


Sambil tersenyum simpul, kei memainkan kancing jas hitam Hardhan, "Saat itu aku takut kamu akan menolakku dan mendorongku. Makanya aku lebih memilih tebar pesona di depanmu, aku melakukan stretching tepat di depan matamu, aku berjalan hilir mudik di depanmu, dan aku tahu kamu juga menaruh perhatian padaku, kata Sonya matamu tidak pernah lepas dariku... Pokoknya aku melakukan apapun saat itu supaya kamu datang menghampiriku... Tapi kamu tidak juga menghampiriku..." Kei memberengut.


Hardhan terkekeh pelan, "Aku tidak pernah langsung membawa wanita ke kamarku, aku akan selalu meminta Alex untuk mengaturnya, dan saat itu aku juga sudah minta Alex untuk mengawasimu, itu makanya aku tahu kau berada di club X pada malam harinya. Aku berniat gabung, tapi kalian malah menolaknya. Dan harga diriku terlalu tinggi untuk memelas pada kalian supaya mengizinkanku bergabung... Jadi aku memilih pergi. Tapi aku tetap menyuruh Alex untuk mencari tahu siapa dirimu."


Kei terkikik geli mengingat kejadian malam itu, "Sonya yang menolaknya, bukan aku..." ralatnya.


"Asal kamu tahu, aku sama kecewanya denganmu karena tidak berhasil menghabiskan malam bersamamu, setidaknya malam itu aku berpikir seperti itu. Untung saja Sonya menolaknya, aku pasti akan merasa menyesal pada pagi harinya. Tapi....." kata-kata Kei menggantung, pikirannya menerawang ke malam itu.


"Tapi apa?" desak Hardhan.


Kei mendongak dan menatap penuh mata Hardhan, "Tapi kalau di lihat dari sekarang, aku rasa aku tidak akan menyesalinya, malah bisa jadi aku yang langsung menggugat cerai Galang sepulangnya dari pulau ini dan langsung beralih padamu... Itupun kalau kamu mau..." kata Kei sambil tertawa pelan.


"Kata-katamu membuatku menyesal sekarang... Sangat... Sangat menyesal..." desah Hardhan lirih.


"Kenapa?" tanya Kei dengan kening mengkerut.


Hardhan menghela nafas panjang, "Aku menyesal karena tidak langsung menculikmu, dan menjadikanmu milikku malam itu. Jadi tidak akan ada perjanjian menggelikan dengan Galang... Seandainya saja saat itu aku langsung tahu bahwa kau lah wanita yang selama ini aku cari... Aku tidak akan pernah melepaskanmu." jawab Hardhan.


"Cih, seperti Rahwana yang merebut Sinta dari tangan Rama..." ledek Kei sambil terkekeh.


"Tepat seperti itu..."


"Kalau Rahwananya itu kamu... Aku yakin hanya butuh satu malam kamu akan membuat Sinta melupakan Rama..." canda Kei.


"Ya jelas pasti pilih Rahwana... Kalau Ramanya itu Galang. Dan bicara tentang Rahwana... Apa kau belum ganti namaku di contact handphonemu?"


"Maksudnya? Aku save namamu kok..." elak Kei dengan wajah polosnya.


Hardhan mengeluarkan handphone dari saku jasnya, lalu langsung menelepon Kei. Tapi Kei mengabaikan panggilan telepon itu.

__ADS_1


"Angkat..." seru Hardhan, Kei menggeleng.


Dengan sigap Hardhan menarik keluar handphone Kei dari saku bajunya, lalu memutar layarnya ke arah Kei, "Raksasa arogan?" tanyanya.


Kei menyeringai lebar, "Itu panggilan sayangku untukmu... Siapa suruh kamu terlalu tinggi, dan arogan..."


Sebelah alis hitam Hardhan naik, "Benarkah itu panggilan sayang?"


"Yaa... Awalnya sih bukan, itu kata-kata makianku untukmu. Tapi benar dengan apa yang kamu pernah bilang padaku, benci dan cinta itu beda tipis. Yang awalnya aku menyebutmu raksasa arogan dengan nada benci, sekarang aku menyebutnya dengan penuh cinta..." aku Kei lembut.


Hardhan mengelus puncak kepala Kei, "Kalau begitu jangan kau ganti, Ok..."


Kei tersenyum manis, "Oh kamu manis sekali, kamu tahu waktu pertama kali Galang mengenalkanmu padaku, aku sedikit takut karena kamu lah orangnya, saat itu kamu terlihat lebih tinggi dan lebih besar lagi dari terakhir kali aku melihatmu di pulau X, aku juga takut kalau kamu akan bilang ke Galang kalau kita sudah pernah bertemu sebelumnya. Dan diatas semua itu, ada perasaan yang mengganggu dalam diriku, ada keyakinan yang begitu kuat bahwa aku akan terikat selamanya padamu, dan itu membuatku takut..."


"Kau takut?" ulang Hardhan.


"Saat itu aku merasa takut. Dan sekarang pun aku masih merasa takut juga..." kata Kei muram.


Kening Hardhan mengkerut, "Kau takut padaku?" tanyanya tidak percaya.


Kei menyeringai lebar, "Iya aku takut, takut kehilanganmu..." godanya.


Hardhan menekan dagu Kei, "Kau sudah ahli menggoda yaa..." gumamnya, lalu menunduk dan mencium bibir Kei, tapi Kei mendorongnya.


"Masih siang sayang... Dan lihat anak buahmu bisa melihat kita..."


Hardhan mengangkat bahunya, "Mereka tidak akan keberatan..."


Kei memutar kedua bola matanya, "Aku yang keberatan..."

__ADS_1


"Aku tidak..." kata Hardhan, lalu membopong Kei memasuki kamar mereka.


__ADS_2