
Hardhan baru sampai di ujung anak tangga menuju kamarnya, ketika mama menghampirinya dan menjewer telinganya, membuat Hardhan meringis
"Dasar anak nakal, apa yang sudah kau lakukan dengan wanita ular itu, hingga membuat Keiku yang malang menjadi sedih?!" tanya mama kesal
"Ma aku baru sampai, nanti aku jelaskan yaa.. sekarang aku mau menemui istriku dulu."
"Istrimu sudah tidur di kamar mama."
Kening Hardhan mengkerut
"Di kamar mama? Ckckck anak ini...." Hardhan bergegas ke kamar mamanya, tapi mama menahannya.
"Biarkan dia sendiri dulu Hardhan...."
Hardhan melepas jasnya, dan melemparnya asal ke kursi ruang keluarga yang memisahkan kamarnya dengan kamar mamanya, lalu duduk di sofa panjang sambil menggulung lengan kemejanya, dan mama duduk di sebelahnya.
"Mama sudah menenangkannya, dalam hal ini kau yang salah, kenapa kau membiarkan wanita ular itu menyentuhmu di depan Kei? Bodoh kalau kau tidak tahu itu bisa membuat istrimu cemburu."
"Karina mengetahui rahasia yang aku sembunyikan dari Kei, dan dia memanfaatkannya untuk memonopoli waktuku di pesta itu, hingga membuat Kei salah paham." jelas Hardhan.
"Rahasia apa?"
Hardhan diam, tidak mampu menjawab mamanya. Ia membuat Kei sedih saja sudah membuat mamanya marah, apalagi kalau mamanya tahu Hardhan sudah perkosa Kei.
"Baiklah kau tidak perlu cerita kalau kau tidak ingin. Tapi apapun rahasia yang kau tutupi dari Kei, mau seberat apapun permasalahannya, kau tetap harus jujur padanya. Kau tidak bisa terus menyembunyikannya, karena isnting wanita terbiasa mencari kebenaran."
Mama menepuk-nepuk punggung tangan Hardhan "Jujurlah nak, walaupun kau takut, tapi kejujuran itu akan menyelamatkanmu."
Hardhan mengangguk, "Itulah yang ingin kubicarakan dengannya ma. Tapi kalau Kei sudah tertidur, mungkin besok saja aku bicara dengannya."
"Baiklah kalau begitu, sudah larut malam, mama tidur dulu."
Setelah mencium pipi Hardhan, mama beranjak ke kamarnya. Hardhan langsung merebahkan badannya di kursi panjang itu, ia merasa malas masuk ke kamar jika tidak ada Kei di dalamnya.
"Ya Tuhan Kei, Hardhan!!!" teriak mamanya.
Hardhan langsung berdiri dari sofa dan lari secepat mungkin ke kamar mamanya, nafasnya terasa tersedot keluar ketika ia melihat Kei yang sedang meringkuk seperti bola. Tangannya memeluk kakinya yang ditekuk, dan menyembunyikan wajahnya di lutut, dengan seluruh tubuhnya yang gemetar hebat. Terdengar rintihan-rintihan kecil yang keluar dari bibirnya.
Hardhan bergegas menghampiri Kei, lalu duduk di sampingnya, "Keilani... Sayang..." panggil Hardhan.
Hardhan mengulurkan tangan untuk meraih Kei, pelan-pelan meletakkan tangannya di pundak Kei dan meremasnya "Kei sayangku, ini aku...."
Kei tidak merespon, badannya masih gemetar hebat, nafasnya terdengar panik dan berat, seperti di kejar sesuatu yang menyeramkan. Hati Hardhan terasa sakit melihat Kei seperti ini.
__ADS_1
Hardhan meraih tangan Kei yang sedingin es, jemarinya kaku karena ketakutan, "Aku disini sayang..." bisik Hardhan pilu.
Kei terlihat lebih santai ketika Hardhan melingkarkan tangan ke bahunya yang gemetar, sambil membisikkan kata-kata yang menenangkan, Hardhan mengelus rambutnya, punggungnya apapun untuk membuat Kei nyaman.
Kei mulai merasa tenang, nafasnya masih cepat meskipun tidak terdengar seperti orang ketakutan lagi, dan rintihan-rintihan kecil yang memilukan sudah tidak terdengar lagi.
Hardhan menangkup pipi Kei, pelan-pelan mengangkat wajahnya dari lututnya
"Kei pandang aku sayang, kau aman sekarang."
Kelopak mata Kei mulai bergetar, ia berusaha membuka matanya, tapi sepertinya matanya menolak untuk membuka.
"Ma, apa mama tadi mematikan semua lampu?" tanya Hardhan.
Sambil terisak mamanya menjawab
"Iya... Ada apa dengan Kei?"
Hardhan menghela nafas berat
"Kei fobia gelap ma...."
Mamanya memekik kaget, isak tangisnya semakin kencang "Oh astaga...."
"Kei, buka matamu sayang... Ada aku dan mama di sini...."
Setelah beberapa saat mata Kei membuka, menatap langsung ke mata Hardhan, membuat darah Hardhan terasa membeku ketika melihat matanya.
Kalau mata adalah jendela jiwa, maka sesuatu pasti telah mengguncang jiwa Kei, hingga membuatnya sangat menderita. Kei terlihat seperti dihantui dan diburu oleh sesuatu, Kei benar-benar terlihat panik.
"Hiks... Hiks... Hardhaaannn...." isak Kei pilu
Hardhan langsung membawa Kei kepelukannya, membelai lembut rambutnya,
"Tidak apa-apa sayang, sudah jangan takut lagi... Ada aku disini..."
Hardhan melepas pelukannya, lalu mencium sayang pipi, kening, hidung Kei, kemudian memeluknya kembali "Kau mau pindah ke kamar kita sayang?" bisik Hardhan, dan Kei mengangguk, lalu merangkulkan tangannya ke leher Hardhan.
Hardhan langsung membopong Kei
"Dia sudah tidak apa-apa ma, Mama tidak perlu khawatir lagi...." kata Hardhan lembut menenangkan mamanya kemudian bergegas membawa Kei kekamarnya.
Hardhan merebahkan Kei di atas tempat tidur, lalu menarik selimut sampai ke bawah dagunya, dan mencium kening Kei, "Kau tidurlah sayang." ucap Hardhan lalu beranjak pergi, tapi tangan Kei menahan tangannya.
__ADS_1
"Jangan tinggalkan aku... Aku takut...." pinta Kei.
"Iya sayang, aku tidak akan pernah meninggalkanmu."
Kei menggeser badannya, menyisakan tempat untuk Hardhan berbaring di sebelahnya.
"Kau tidak membuka bajumu terlebih dahulu? Biasanya kau selalu tidur dengan bertelanjang dada...."
"Aku belum ingin tidur sayang, aku akan menemanimu sampai tertidur, baru aku akan tidur."
Kei memeluk Hardhan, merebahkan kepalanya di dada bidang suaminya, jemari Hardhan menyisiri rambut Kei. "Kau mau cerita apa yang menyebabkan kau menjadi fobia gelap?" pancing Hardhan.
Karena fobia harus di hadapi, bukan di takuti. Dan harus di cari tahu juga penyebab fobianya.
"Mama bilang, saling percaya dan jujur itu kunci utama dalam keluarga. Aku mau jujur mengakui sesuatu padamu." kata Kei sambil membuka tiga kancing teratas kemeja Hardhan, lalu memasukkan tangannya kedalam kemeja Hardhan, dan bermain-main di sana.
Hardhan mengerang, "Tentang apa sayang? Dan tolong kondisikan tanganmu, pertahanan diriku sedang lemah saat ini."
"Aku harus menyentuhmu, kalau tidak aku tidak akan berani menceritakannya."
"Oh baiklah, terserah padamu."
Selama kau tidak marah lagi padaku batin Hardhan.
"Saat aku berusia delapan belas tahun, seseorang pernah memperkosaku. Aku memang salah masuk kamar, tapi bukan berarti orang itu bisa langsung memperkosaku."
Kei diam, ingatannya melayang ke peristiwa tujuh tahun yang lalu.
"Saat itu aku sedikit mabuk, setelah membuka pintu aku meletakkan acces cardnya ke tempatnya, dan semua lampu dan AC langsung menyala, aku baru masuk dua langkah ketika ku lihat kamar yang ku masuki terlihat jauh lebih besar dari kamarku, dan aku sadar aku sudah salah masuk kamar karena salah menyebutkan nomor kamarku."
"Aku cabut lagi acces card itu berniat menukarnya kembali di resepsionist, tidak lama semua lampu langsung mati, kamar menjadi gelap gulita, dan aku baru akan membuka pintu ketika tiba-tiba pintu itu terbuka, dan masuklah pria berengsek itu."
"Aku panik dan aku langsung lari keluar pintu, tapi tangan besar pria itu menahanku, dan langsung membawaku ke tempat tidur dan dia...."
Air mata Kei kembali mengalir, kejadian itu seperti baru terjadi kemarin, hingga ia masih bisa merasakan semua rasa sakit yang ia derita.
Kei memeluk erat Hardhan, badannya sedikit gemetar ketika ia melanjutkan ceritanya, tangan Hardhan yang mengelus punggungnya terasa hangat, dan menenangkan Kei.
"Dia memaksakan dirinya yang besar itu padaku, aku merasakan sakit yang teramat sangat, aku teriak histeris sekencang-kencangnya, tapi pria itu tidak peduli. Dia masih terus melakukannya sampai ia jatuh tertidur di sampingku dan aku memanfaatkannya untuk keluar dari kamar itu."
"Apa yang akan kau lakukan jika bertemu dengan pria itu?" tanya Hardhan pelan.
"Entahlah, tapi yang pasti aku tidak akan pernah memaafkannya...."
__ADS_1