Terpaksa Menikah Lagi

Terpaksa Menikah Lagi
Couvade Syndrome


__ADS_3

"Alex... Dokter Sam... Siapapun di sana tolong ke sini sekarang!!" teriak Kei.


"Kau mau apa sayang? Apa kau mau mengusirku?" tanya Hardhan bingung.


Lalu dokter Sam masuk, dengan beberapa dokter yang mengekor di belakangnya.


"Kau sudah sadar rupanya..." kata Sam sambil mendekati tempat tidur Kei.


Kei menolak di periksa, "Kamu periksa suamiku saja... Badannya panas."


"Aku tidak apa-apa sayang... Aku hanya..." protes Hardhan terhenti ketika melihat pelototan galak istrinya,


"Yah baiklah... Silahkan periksa saya Sam." lanjut Hardhan sambil merentangkan kedua tangannya.


"Kapan terakhir kali kau makan?" tanya dokter Sam.


Hardhan mengusap-ngusap dagu sambil merenung, "Hmmm, sepertinya Soupe a l’oignon madame Agathe adalah makan terakhir yang ku makan... Itu berarti aku terakhir makan kemarin siang."


"Apa kamu tidak di kasih makan di pesawat?" suntuk Kei.


Hardhan mengangkat bahu, "Pramugari atau pramugara tidak ada yang berani mendekatiku, saat itu aku bersikap... Ah tidak bersahabat. Lagipula siapa yang bisa makan dengan keadaan nyaris setengah gila karena khawatir?!"


"Tidak ada yang perlu di khawatirkan, Hardhan hanya kelelahan dan kurang istirahat. Saya akan resepkan paracetamol untuk menurunkan panasnya. Tidurmu pasti tidak nyenyak yaa?"


"Sudah jangan banyak tanya... Sekarang siapkan lemon juice dan batu es...." perintah Hardhan.


Sam mengerjap-ngerjapkan mata, bingung dengan perubahan topik yang tiba-tiba, "Lemon juice?"


"Aku sudah tidak mual lagi Hardhan... Aku tidak butuh lemon juice sekarang..." protes Kei.


"Bukan untukmu... Tapi untukku. Sial, sekarang naik pesawat saja membuatku mual..." lalu Hardhan mengalihkan perhatiannya ke Sam,


"Apa seumur saya masih bisa mengalami mabuk kendaraan?" tanyanya.

__ADS_1


Sam kembali mengerjapkan matanya, "Aku sudah mengenalmu sejak TK Dhan... Kau tidak pernah mabuk kendaraan, perutmu itu sekuat baja... Keluhan apalagi yang kau rasakan selain mual?"


"Selain pusing, aku jadi lebih mudah lelah, selalu merasa cemas, terutama mengenai Kei dan anak yang dikandungnya."


"Couvade syndrome." celetuk salah satu dokter residen di belakang Sam.


Hardhan, Sam dan Kei langsung melihat ke dokter residen itu, dan dokter itu langsung menundukkan kepalanya sambil menggigit bibir bawahnya, takut Hardhan murka karena ia dengan lancangnya sudah ikut memberikan diagnosa tanpa diminta.


Dan ia tahu Hardhan adalah pemilik rumah sakit ini, membuatnya tersinggung sama saja dengan memutus mata pencariannya. Dipecat dari rumah sakit ini, maka tidak akan ada rumah sakit lain yang mau menerimanya.


"Apa maksudmu?" tanya Hardhan dingin.


Sam membuka mulutnya ingin menjelaskan, tapi Hardhan mengangkat tangannya, menyuruhnya diam.


"Saya mau dia yang menjelaskan..." kata Hardhan sambil menunjuk dokter itu, lalu menyandarkan punggungnya dikursi, dan melipat kedua tangannya di depan dadanya.


Dokter itu terlihat menghela nafas panjang sebelum memberanikan diri melihat Hardhan dan menjelaskan diagnosisnya,


"Couvade syndrome atau Sindrom kehamilan simpatik terjadi ketika suami merasakan ngidam dan mengalami gejala-gejala kehamilan seperti yang dialami istrinya saat mengandung. Biasanya terjadi pada trimester pertama dan ketiga." jelas dokter itu.


Hardhan menaikkan sebelah alisnya, "Apa saya harus mempercayainya?"


"Kalau dibayangkan dengan logika memang terlihat mustahil, tapi kehamilan simpatik ini nyata adanya. Semakin kuat ikatan batin antara suami dan istri, maka semakin banyak pula gejala kehamilan yang dapat dialami suami. Menurut penelitian suami yang memiliki gejala couvade, pada akhirnya akan memiliki ikatan kuat pada anak. Sindrom ini juga bisa dirasakan oleh orang tua, mertua, kakak, adik, sahabat atau siapa pun orang yang dekat dengan istri." jelas dokter itu dengan penuh percaya diri.


Alis Hardhan naik semakin tinggi, "Siapa namamu?" tanyanya.


"Nama saya Talita tuan..."


"Ahh Talita... Itu berarti saya terlalu mencintai istri saya hingga membuat saya ikut merasakan apa yang ia rasakan?"


"Itu bisa jadi salah satu faktor pencetusnya, perasaan empati pada istri yang sedang hamil."


"Baiklah... Kalian boleh keluar semua. Dan kau..." Hardhan menunjuk Sam,

__ADS_1


"Jangan lupa lemon juiceku... Dan juga obat sialan apapun yang bisa meredakan pusing dan pegal-pegalku!" lanjutnya.


"Kau boleh tertawa sekarang..." suntuk Hardhan ketika mereka tinggal berdua saja.


Kei terkikik pelan, "Sepertinya anakmu benar-benar mematuhimu... Kemarilah sayang... Tidur lagi di sebelahku, kamu pasti lelah."


"Apa kau masih ragu padaku? Masih tidak percaya padaku? Astaga... Bahkan aku sampai mengalami apa tadi istilahnya... Ahh kehamilan simpatik. Seharusnya itu bisa menghilangkan semua keraguanmu padaku..." cecar Hardhan sambil naik ke tempat tidur, dan menyelipkan badannya di bawah selimut, lalu memeluk Kei, wajah mereka nyaris bersentuhan.


"Maafkan aku... Aku ingin percaya padamu, tapi entah kenapa perasaanku menjadi lebih sensitif, menjadi mudah marah dan mudah sedih." desah Kei lirih sambil membelai rambut suaminya.


"Aku memakluminya, mungkin itu karena hormon kehamilan... Sebelum hamil saja kau sudah cemburuan, apalagi saat hamil..." goda Hardhan.


Kei mendengus, "Siapa yang cemburu..." elaknya.


"Kau harus berjanji padaku, tidak akan membiarkan siapapun mempengaruhimu lagi, yang membuatmu meragukanku. Kau harus tahu bahwa aku sangat mencintaimu, dan hanya ada satu ketakutan dalam hidupku. Aku takut kehilanganmu. Dan kau harus percaya itu..."


"Iya sayang aku janji... Kali ini aku benar-benar berjanji akan selalu mempercayaimu." ujar Kei kemudian mencium bibir Hardhan, lalu tersenyum lebar, "Bibirmu juga panas..."


Hardhan berbaring terlentang sambil menghela nafas panjang, "Saat ini badanku benar-benar remuk, aku sendiri heran aku bisa sampai di sini tanpa membuat diriku jatuh tersungkur. Bahkan jika jatuh pun aku akan tetap ke sini, sekalipun dengan mengesot. Kau membuatku sangat khawatir sayang... Tadi aku nyaris menodongkan pistol ke supir supaya dia bisa lebih cepat lagi membawaku ke rumah sakit ini."


"Supir yang malang, kau selalu berlebihan sayang..."


"Tidak ada yang berlebihan jika menyangkut kau..." tegas Hardhan lalu menguap lebar.


Kei berbaring miring, jemari tangannya mengelus lembut kepala Hardhan, "Kamu tidurlah dulu... Aku akan menjagamu..."


"Ah... Rasanya nyaman sekali..." gumam Hardhan sambil memejamkan matanya.


Dan ketika Sam membawa satu pitcher lemon juice, Hardhan sudah terlelap tidur. "Letakkan saja di dalam lemari es... Dan tolong bekukan sebagian lemon juice itu di ice twist ya." pinta Kei.


"Cinta sudah membuat pria berkuasa itu menjadi selemah bayi jika di dekat istrinya... Aku tidak akan membiarkan satupun wanita yang akan membuatku seperti itu. Cih... Cinta dan kekonyolan yang menyertainya." gumam Sam lebih ke dirinya sendiri.


Setelah melakukan apa yang diminta Kei, Sam langsung menghampiri Hardhan, lalu mengeluarkan jarum suntik dan obat dari saku snellinya. "Saya akan menyuntiknya dengan paracetamol..."

__ADS_1


Hardhan pasti sudah jauh masuk ke alam mimpinya, hingga tidak bangun atau mengernyit sedikitpun ketika Sam menyuntiknya. "Terima kasih... Apa kita perlu menginfusnya? Dia kelihatan lelah sekali" desah Kei khawatir.


Sam memegang nadi Hardhan, memeriksa denyut jantungnya, "Yah aku akan menginfusnya... Dia juga dehidrasi. Si bodoh ini, entah kapan dia terakhir minum." gumam Sam sambil mendecakkan lidahnya.


__ADS_2