
Dokter Elsya, salah satu dokter spesialis Obgyn yang di pilih Sam untuk Kei, mengoleskan gel bening di atas perut Kei, lalu tangan kanannya meletakkan transducer di atas permukaan kulit Kei yang di oles gel tadi dengan sedikit tekanan, agar transducer itu benar-benar menyentuh kulit Kei, kemudian menggerakkannya di sepanjang perut bawah Kei.
Penampakan isi rahim Kei langsung terlihat di layar monitor di samping dan di depan Kei, seperti siaran langsung. Sementara tangan kiri Elsya dengan ahli memainkan tombol keyboard dan pulse controls untuk menginput data, menambahkan catatan dan mengambil pengukuran dari data serta merekam proses USGnya.
Hardhan duduk di sebelah Kei, tangannya menggenggam erat tangan Kei selama proses USG, matanya tidak pernah lepas dari layar monitor, melihat gerakan bayinya di dalam rahim Kei.
"Selamat tuan Hardhan dan nona Kei, kedua janin berkembang dengan normal dan sempurna." seru dokter Elsya sambil tersenyum.
"Kedua janin?" ulang Kei, lalu menatap Hardhan yang sedang menyeringai lebar, ke team dokter yang berdiri di depannya dan kembali lagi ke dokter Elsya, "Maksud dokter anak saya kembar?" tanyanya tidak percaya.
"Iya benar nona Kei anak anda kembar..." jawab dokter Elsya dengan penuh keyakinan.
Kei menangkup mulutnya dengan tangan kanannya, dadanya membuncah dengan kebahagiaan, hingga tanpa ia sadari air mata mengalir turun ke pipinya.
"Ya Tuhan..." gumamnya penuh haru.
"Waahh Kei... Kau begitu mencitaiku yaa? sampai-sampai anak kita kembar..." goda Hardhan, sambil meremas lembut tangan kiri Kei.
"Mungkin iya..." balas Kei sumringah.
"Ah salah, yang benar aku lah yang begitu mencintaimu sayang... Sampai berhasil membuatmu mengandung anakku, bukan hanya satu tapi dua..." kata Hardhan dengan nada bangga.
Kei baru saja akan menanggapi komentar itu ketika dokter Elsya menginterupsi mereka, "Maaf bisa saya lanjutkan?" selanya sambil tersenyum dan menggelengkan kepala.
"Oh iya dokter silahkan..."
"Ritme dan detak jantung bayi normal 140 bpm, posisi plasenta juga dalam keadaan baik, volume air ketuban normal, kepala bayi normal tidak ada masalah pada otak. Tulang belakang dan perut bayi lurus dan berkembang dengan baik. Ukuran dan bentuk jantung, ginjal, kandung kemih, serta perkembangan tangan dan kaki bayi juga tumbuh dengan baik."
"Syukurlah.... Terima kasih Tuhan..." ujar Kei dengan kelegaan.
"Mau tahu jenis kelaminnya?" tanya dokter Elsya.
"Tidak..." jawab Hardhan dan Kei bersamaan.
"Biarkan itu jadi kejutan untuk kami saat lahiran nanti..." lanjut Kei.
Dokter Elsya tersenyum, "Baiklah..." lalu mencetak hasil USG dan menyerahkannya ke Kei.
"Dok, apa ukuran perut saya normal untuk usia kandungan enam belas minggu?" tanya Kei.
"Ukuran perutnya normal kok untuk bayi kembar, apa ada keluhan selama hamil nona?"
__ADS_1
"Mual muntah sudah hilang, hanya saja terkadang punggung suka sakit kalau mau tidur, selain itu tidak ada keluhan lain dok..."
"Nyeri punggung disebabkan karena tulang belakang harus menopang beban tubuh nona Kei dan janin, hal ini wajar seiring bertambahnya usia kehamilan. Untuk mengurangi ketidaknyamanan, nona bisa senam hamil atau latihan fisik khusus untuk menguatkan tulang belakang dan perut. Apa perut nona sering kram?"
"Tidak... Syukurlah tidak pernah kram dok."
"Kondisi rahimnya sudah kuat, nona bisa beraktifitas lagi seperti biasanya, dan saya sarankan jangan menggunakan sepatu hak tinggi, dan jangan terlalu capai. Tetap makan makanan bergizi dan kaya akan serat, susu harus tetap di minum." saran dokter Elsya.
"Apa kami sudah boleh melakukan hubungan suami istri?" tanya Hardhan.
Sudut bibir dokter Elsya membentuk senyum samar, "Ya sudah aman sekarang, hanya saja harus tetap berhati-hati, dan saran saya seminggu dua kali saja yaa..."
"Terima kasih Tuhan..." gumam Hardhan.
Setelah sepuluh minggu puasa.
"Astaga... Kau tidak sabar sekali Dhan..." celetuk Sam sambil tergelak, yang di balas dengan tatapan tajam Hardhan.
"Alex, cari direktur baru secepatnya!" seru Hardhan ke Alex.
"Baik boss."
Sam terlihat panik, "Demi Tuhan... Aku hanya becanda Dhan..." lalu mengalihkan perhatiannya ke Alex, "Lex..."
**********
"Yeeyy akhirnya aku sudah bisa beraktifitas lagi di kafe..." seru Kei girang sesampainya di rumah.
"Tapi aku melarangmu naik ke lantai dua..." tegas Hardhan.
"Ruang VIP kan di lantai dua sayang... Masa aku tidak menemanimu saat jadwal makan di kafe..."
Hardhan menyentil kening Kei, "Aku kan bisa makan di ruang kerjamu..."
Kei menyeringai lebar, "Oh iyaa..."
"Kalian sudah kembali? Bagaimana hasil USGnya? cucu mama laki-laki atau perempuan?" tanya mama sambil jalan menghampiri mereka.
Kei langsung menggenggam tangan mama, "Kami punya kejutan untuk mama..." seru Kei sumringah.
"Dan apa kejutannya itu?" tanya mama lagi sambil menatap bergantian ke Kei dan Hardhan.
__ADS_1
"Mama akan mendapatkan dua cucu sekaligus..." jawab Kei antusias.
"Hah... Yang benar? Kamu mengandung anak kembar Kei?" mama menangkup pipi Kei, dan Kei mengangguk yang langsung di sambut dengan pelukan hangat mama.
"Oh Tuhan... Mimpi apa aku semalam... Terima kasih Tuhan... Terima kasih..." gumam mama, lalu melepaskan pelukannya dari Kei dan bergegas ke arah Hardhan.
"Anak nakal... Akhirnya kau memberikan cucu juga untuk Mama... Cucu kembar pula..." desah mamanya lirih sambil memeluk Hardhan.
Hardhan menepuk-nepuk punggung mamanya, "Sudah siap mendengar keributan dan celotehan anak-anak di rumah ini nanti? Rumah mama tidak akan terlihat serapi dan sedamai ini lagi... Mungkin kebun bunga mamapun tidak akan berbentuk lagi karena keusilan cucu-cucu mama nanti..." goda Hardhan.
"Tidak apa-apa... Oh mama malah senang membayangkannya, jadi kembar laki-laki atau perempuan?"
Hardhan mengecup kening mamanya, "Kami tidak ingin mengetahuinya sekarang mama, laki-laki ataupun perempuan sama saja. Yang penting mereka berkembang dengan baik dan sehat."
"Ya kalian benar, mama juga tidak akan mempermasalahkan jenis kelamin cucu mama. Mama bertanya karena ingin mempersiapkan perlengkapan cucu mama nanti. Kalau begitu..., kita cari warna yang netral Kei."
Kei mengangguk lalu menyeringai lebar, "Aku ikut mama saja..."
"Ya sudah, sekarang kau bawa Kei ke kamar, biar dia bisa istirahat..." seru mama ke Hardhan.
"Kandunganku sudah lebih kuat sekarang ma, jadi mama tidak perlu khawatir lagi. Aku sudah boleh beraktifitas normal lagi seperti biasanya."
"Oh syukurlah sayang... Mama senang mendengarnya. Tapi kau tetap tidak boleh bergerak berlebihan, harus banyak istirahat juga."
"Iya ma..."
"Aku antar Kei ke kamar dulu ma..."
"Ya... Ya... Antar mantu dan calon cucu mama istirahat..."
Hardhan merangkul Kei, lalu membimbingnya ke arah lift yang akan membawa mereka ke lantai dua.
"Ada yang ingin kubicarakan padamu..." kata Kei sesampainya mereka di kamar.
"Apa sayang?"
Kei berjinjit, "Aku sangat ingin ke pulau X..." bisik Kei di telinga Hardhan, yang sebenarnya bukan sesuatu yang mudah dilakukan, mengingat Hardhan jauh lebih tinggi darinya. Ditambah lagi perutnya seperti tertarik ketika ia jinjit.
Hardhan menyeringai lebar, "Kau ngidam ke pulau X?"
Kei mengangguk, "Iya..."
__ADS_1
"Kalau begitu aku akan meminta Alex untuk mengaturnya..."
"Terima kasih sayang..." seru Kei sumringah.