
Mont Saint-Michel, merupakan desa abad pertengahan dengan biara bergaya gotik dan berdiri kokoh di atas pulau karang yang menjadi pijakan biara.
Pulau mungil seluas seratus hektar ini berada di tepi selat channel, di wilayah pantai Normandy, Perancis bagian utara. Biara berbentuk kastil kuno ini masuk ke dalam salah satu situs warisan dunia UNESCO. Butuh waktu lebih dari tiga jam untuk sampai ke tempat bersejarah ini dari kota Paris.
"Waahh indah sekali, kastil itu benar-benar terlihat anggun dan kokoh." puji Kei penuh kekaguman.
Jemari Hardhan membelai lembut rambut Kei,
"Karena besok kita sudah harus kembali ke Jakarta, jadi kita tidak bisa bermalam di sini, pemandangan malam hari di sini, tidak kalah indahnya dengan pemandangan siang hari."
"Aku baru tahu ada kastil di pinggir laut, biasanya kastil ada di hutan atau di puncak bukit...." gumam Kei.
"Karena letaknya yang strategis, berada di selat channel di antara daratan dua negara, Perancis dan Inggris, menjadikan Mont Saint Michele ini mempunyai peran penting dalam sejarah, salah satunya sebagai benteng pertahanan pada masa perang 100 tahun melawan Inggris. Kau lihat jalan itu...."
Hardhan menunjuk ke arah jalan berbatu menuju gerbang masuk Mont Saint Michele, yang sekilas mirip dengan laut yang terbelah.
"Jalan yang unik itu dimanfaatkan sebagai mekanisme pertahanan alami untuk menghalau dan menumbangkan musuh-musuh, dan ada pasir hisap di antara hamparan lumpurnya."
Kei meringis ngeri,
"Aku tidak mau jalan ke hamparan lumpur itu."
Tawa Hardhan pecah,
"Maka dari itu, kalau kita ingin walking tour mengelilingi pulau ini, kita harus memakai guide profesional sayangku, sekarang mari kita turun, sebentar lagi matahari terbit."
Mereka turun dari mobil, Hardhan menggandeng lengan Kei saat memasuki jalan berbatu yang menanjak, dan melewati gerbang Bevole yang menjadi pintu gerbang perjalanan menjelajahi Mont Saint Michel.
__ADS_1
"Jalan berbatu ini di sebut Cour de l'avance" jelas Hardhan.
"Sepertinya kamu tahu banyak mengenai hal apapun tentang Perancis."
Hardhan terkekeh pelan, "Itu sudah menjadi kebiasaanku ketika aku ingin membuka jaringan bisnis di negara lain, aku lebih baik mengenali juga sejarah, kelebihan dan kekurangan dari negara itu, percayalah... Terkadang pengetahuan itu bermanfaat juga."
"Kamu selalu totalitas jika menyangkut pekerjaanmu."
"Oh itu harus manis." kata Hardhan sambil mencubit hidung Kei, membuat Kei memberengut.
Kei melihat jejeran toko cinderamata di sepanjang jalan Grand Rue menuju puncak pulau karang. Toko-toko ini menjual berbagai jenis souvenir khas Mont Saint Michel seperti pakaian, keramik, pernak-pernik, aneka tas dan sebagainya.
"Wah ada yang bisa bahasa kita...." gumam Kei ketika mendengar salah satu karyawan toko menawarkan barang dagangannya.
"Warga kita terkenal dengan hobby belanjanya, selalu membawa oleh-oleh kemanapun mereka pergi. Jadi di beberapa tempat wisata, ada yang meminta karyawannya mempelajari bahasa kita, bukan hanya di sini di beberapa negara lainpun seperti itu."
Kei menyeringai lebar
"Itu sudah seperti tradisi, akan ada yang mencibir jika kau pulang dari suatu tempat tanpa buah tangan yang kau bawa."
"Yaa kau benar, dan ingatkan aku untuk membeli oleh-oleh nanti sebelum kita kembali ke Jakarta, untuk Mama, Papa dan Sonya...." Kei terdiam lalu tertawa pelan, "Yaa terutama untuk Sonya, dia bisa menceramahiku tujuh hari tujuh malam jika aku tidak membawakan souvenir untuknya."
"Sepertinya kalian berdua memiliki ikatan yang jauh lebih dekat dari yang ku bayangkan."
"Sonya... Dia sudah seperti kakak kandungku sendiri, sejak SD aku selalu main ke rumahnya, hanya karena aku ingin makan masakan mamanya, dan ingin menikmati kasih sayang seorang ibu. Aku terus berkunjung dan sering menginap di rumahnya, sampai ketika kami duduk di kelas sebelas mamanya Sonya meninggal... Dan aku menangis lebih kencang dari Sonya saat itu."
Kei menarik nafas panjang, berusaha menahan air matanya yang sudah ingin keluar. Hardhan menarik Kei ke dalam pelukannya, pipi Kei yang bersandar di dada bidang Hardhan terasa hangat di udara yang dingin ini.
__ADS_1
"Sewaktu mamaku meninggal aku masih berusia lima tahun, aku tidak ingat apa yang ku lakukan saat itu, apakah menangis histeris juga seperti ketika mamanya Sonya meninggal, atau mengurung diri di kamar tanpa menyentuh sesuap nasi pun."
"Yah aku bisa merasakannya, dan Kei... Aku sudah menempatkan Sonya di kantor pusat, dibawah Alex langsung. Semoga dia betah bekerjasama dengan Alex." bisik Hardhan.
Kei mendongakkan kepalanya, menatap Hardhan penuh haru, "Oh Hardhan.... Terima kasih."
Hardhan mengecup kening Kei dan mereka lanjut jalan menelusuri benteng kota, melihat pemandangan ke arah selat dan hamparan lumpur di sekeliling pulau. Menunggu matahari terbit dari benteng ini.
Sekarang sudah masuk musim semi, jadi matahari terbit pukul tujuh pagi dengan sinar matahari yang mulai rutin dan lebih lama menyapa, sampai waktunya terbenam sekitar jam delapan atau setengah sembilan malam.
"Wahh indah sekali...." gumam Kei.
Melihat matahari mulai terbit, melukis langit dengan warnah merah jambu dan orange, yang sedikit demi sedikit menggeser gelapnya langit malam, burung-burung yang berterbangan menambah indah pemandangan alam ini.
"We need to be reminded sometimes that a sunrise last but a few minutes. But its beauty can burn in our hearth eternally. Sepertinya kutipan dari R.A. Salvatore itu benar-benar tepat untuk menjabarkan kejadian indah ini. Terkadang kita perlu diingatkan bahwa matahari terbit memang hanya beberapa menit. Tapi keindahannya dapat membakar dalam hati kita selamanya." kata Kei, masih terus mengagumi keindahan di depan matanya.
"Jadilah matahari yang tidak luput dari terbenam, namun selalu ingat untuk terbit." ujar Hardhan dari arah belakang Kei sambil memakaikan sebuah kalung ke lehernya.
Jemari Kei menelusuri kalung itu sampai ke liontin bulat seperti matahari, dengan taburan berlian di tengahnya. Setelah kalung terpasang sempurna, Hardhan membalik badan Kei ke arahnya, melihat kalung yang menempel di kulit Kei yang putih dan mulus.
"Sesuai dugaanku, kalung ini cocok sekali untukmu."
"Terima kasih...."
Kei menarik jas Hardhan, berjinjit dan melingkarkan lengannya ke leher Hardhan lalu mencium bibirnya yang di sambut dengan baik oleh bibir Hardhan. Kei menarik lidahnya ke belakang ketika lidah Hardhan menyentuh, menyerbu, membujuk dan memuaskannya, hingga lutut Kei terasa lemah, dan tubuhnya gemetar dengan kenikmatan.
Hardhan melepas ciumannya, mendekap Kei ke dalam pelukannya, nafas mereka sama-sama tidak beraturan, Hardhan harus melakukan itu, atau ia akan seperti orang bar-bar, bercinta dengan Kei di tempat umum.
__ADS_1
Hardhan menekan tombol di jam tangannya, lalu mengarahkan jam tangannya itu ke bawah mulutnya.
"Cari penginapan sekarang!!" perintahnya.