
"Ada apa Lex?" tanya Hardhan dengan nada khawatir. Hardhan sudah paham betul reaksi wajah Alex kalau ada sesuatu yang tidak beres.
"Karina sudah di bebaskan..." jawab Alex pelan.
"Bagaimana dia bisa bebas?" tanya Hardhan lagi.
"Menurut monsieur Gerrard, ada yang menjaminnya sehingga ia bisa bebas, dengan alasan Karina tidak terlibat langsung di dalam kasus kematian Rara..." jelas Alex.
"Sial!! Kenapa kita bisa kecolongan? Dimana orang-orang bayaran kita? Kenapa tidak ada yang melaporkan kalau ada yang akan memberikan jaminan agar Karina bebas?!" cecar Hardhan.
Alex menghela nafas panjang, yang ia khawatirkan saat ini adalah istri dan anak-anaknya, bagaimana kalau Karina berniat balas dendam? Bagaimanapun juga Alex ikut andil dalam mengungkap kasus kematian Anindira.
"Orang bayaran kita tidak dapat di hubungi lagi Dhan..." desah Alex pelan.
Seketika wajah Hardhan terlihat murka, mungkin juga ia memiliki pikiran yang sama dengan Alex, Karina pasti akan balas dendam, dan Hardhan juga mengkhawatirkan Kei beserta anak-anaknya.
"Ada yang tidak beres ini Lex... Pasti ada andil sugar daddynya Karina itu sebagai penyandang dananya... Dia masih bisa mengatur strategi even di dalam penjara sekalipun!"
"Ya... Aku juga berpikiran seperti itu Dhan... Sebaiknya kita perbanyak jumlah pengawal untuk Kei dan Sonya, juga anak-anak pada saat sekolah..." usul Alex.
Hardhan bersedekap, lalu tangan kanannya mengusap-ngusap dagunya, "Aku akan minta Dino untuk mengurusnya nanti, lalu bagaimana dengan perusahaan kita di sana?"
Alex memutar laptopnya ke arah Hardhan, "Itu yang baru mau akan bicarakan denganmu Dhan... Nilai sahamnya terus anjlok... Sepertinya kita harus segera ke Paris..."
"Tidak jangan... Salah satu dari kita harus stand by di sini... Biar aku dan Dino saja yang ke Paris... Aku akan bawa beberapa orang lainnya..."
"Terlalu berbahaya Dhan... Mereka lebih punya kuasa di Paris, atau kita pancing saja Karina ke sini?" usul Alex.
"Wanita itu tidak akan terpancing Lex... Seharusnya ketika Karina masih di dalam tahanan, kita minta dia di extradisi ke sini... Tapi sekarang sudah terlambat. Kita minta dia di deportasi dari Paris pun sepertinya sudah mustahil..." jawab Hardhan, nada skeptis di dalam suaranya membuat pikiran Alex semakin kalut.
__ADS_1
Alex jalan mondar-mandir sambil mengacak rambutnya, "Sial!! Sial!! Sial!! Seharusnya langsung ku bunuh saja wanita itu saat ada kesempatan!!" teriak Alex.
"Tahan dirimu Lex, kau mau membuat istri dan anak kita mendengar teriakanmu itu? Dimana pengendalian dirimu yang kuat itu?" desis Hardhan.
"Aku tidak bisa mengendalikan diri lagi Dhan... Tidak kalau keluargaku masuk ke dalam bahaya!!!"
"Kau harus bisa mengendalikan diri Lex... Tidak ada gunanya amarah dalam situasi seperti ini... Kita harus menghadapinya dengan kepala dingin... Pihak musuh memang mengharapkan kita dipenuhi amarah dan emosi... Hanya supaya kita mengambil keputusan tergesa-gesa, yang kemungkinan terdapat kesalahan di dalam keputusan kita itu!"
Alex masih terus mondar-mandir, bagaimana ia bisa mengambil keputusan yang tepat, kalau saat ini pikiran rasionalnya tidak berjalan lancar, Alex hanya ingin segera menyingkirkan wanita itu beserta dalang-dalangnya, sebelum mereka sempat menyentuh anak dan istri Alex.
Melihat Alex yang kehilangan kendali diri, Hardhan kembali menasehatinya, "Ingat Lex, keputusan gegabah tidak akan mudah di perbaiki seperti membalikkan telapak tangan... Ujung-ujungnya akan banyak tindakan gegabah lainnya yang berdatangan. Layaknya susunan domino... Satu saja yang terjatuh... Maka semuanya akan runtuh... Ingat itu Lex!"
"Iya aku tahu Dhan.... Aku tahu itu!" sahut Alex masih dengan nada kesal.
"Kalau begitu mulai tenangkan pikiranmu! Kita cari solusinya bersama-sama..."
Alex menghela nafas kesal, "Aku tidak dapat berpikir jernih saat ini Dhan... Lebih baik aku pulang sekarang... Besok baru kita bahas lagi masalah ini!" seru Alex dan bergegas pergi meninggalkan ruang kerja Hardhan.
Alex langsung menaiki dua anak tangga sekaligus, ia sudah tidak sabar menemui Sonya dan ingin segera memeluknya, Alex ingin mendapatkan kekuatan dari pelukan istrinya itu.
Sesampainya di depan ruang anak, Alex mengetuk pintu, dan tidak lama kemudian pintu ruang anakpun terbuka, dan Aliana yang membukanya.
"Appa..." teriaknya sambil menghambur dan memeluk kaki Alex, sambil tersenyum penuh kasih sayang, Alex langsung menggendong Aliana.
"Main apa Princess? Dimana Eomma?" tanya Alex dengan suara lembut, lalu menciumi wajah putrinya itu.
"Masak-masakan... Eomma di dalam sama Onty Kei..." jawa Aliana.
"Ada apa sayang?" tanya Sonya sambil menghampiri Alex.
__ADS_1
"Saatnya pulang my queen... Dan dimana Al?" tanya Alex.
"Al ada di kamar Zou atau Zie, biar aku yang panggil dia..." Sonya langsung bergegas ke kamar Zou, dan Alex mengekor di belakangnya.
"Al... Keluar nak kita pulang sekarang!" seru Sonya sambil mengetuk pintu kamar Zou.
Pintu terbuka, dan Zaa menjulurkan kepalanya, "Kak Al belum boleh pulang Onty... Kak Al masih main sama Kak Zou..."
"Sudah malam sayang... Mana kak Al nya? tolong panggilin yaa..." bujuk Sonya tapi Zaa menggeleng.
"Al... Kita pulang sekarang..." seru Alex, dan ajaibnya tidak lama kemudian Al langsung keluar kamar, membuat Sonya mencibir ke arah putranya itu.
"Giliran Appamu yang manggil langsung nurut kamu yaaa..." rutuk Sonya dan langsung menuntun Al.
Mereka jalan beriringan ke halaman belakang rumah Hardhan, dimana pintu penghubung ke rumah mereka berada.
Alex memeriksa setiap jendela dan pintu balkon serta sudut kamar anak-anaknya, memastikan semuanya sudah terkunci, dan setelah di rasa aman dan anak-anaknya sudah tertidur, Alex baru kembali ke kamarnya.
Alex melihat Sonya yang sedang menyisiri rambutnya, dan tanpa di minta Alex langsung menghampiri dan mengambil sisir dari tangan Sonya, kemudian Alex menyisiri rambut Sonya.
"Ada sesuatu yang mengganggu pikiranmu Lex?" tanya Sonya ketika melihat kerutan di kening Alex dari pantulan wajah Alex di cermin meja riasnya.
"Eh apa?" Alex balik nanya, mata mereka saling terkunci di cermin.
"Ternyata benar... Apa yang mengganggu pikiranmu? Sepertinya serius..."
Alex bimbang antara cerita atau tidak ke Sonya tentang masalah Karina ini, tapi kalau Alex cerita Sonya pasti tidak akan tenang, dan Alex tidak ingin membuat Sonya khawatir.
"Oh... Hanya sedikit masalah kantor cabang di Paris, yang sedang aku bahas dengan Hardhan tadi di ruang kerjanya... Dan sepertinya dalam waktu dekat ini Hardhan akan bertolak ke Paris..." jawab Alex.
__ADS_1
Ia tidak berbohong, hanya saja ia tidak menjelaskan apa penyebab Hardhan tiba-tiba ke Paris, dan Alex berdoa dalam hati semoga saja Sonya tidak bertanya penyebabnya.
Sonya berdiri dan kedua tangannya langsung merangkul leher Alex, "Kamu mau minta hak mu malam ini?" goda Sonya dan Alex langsung mengerang pelan, sudah tentu ia tidak akan menolak godaan itu.