
"Bolehkah aku mengirim Papamu ke kutub selatan?" tanya Hardhan kesal.
Kei tidak bisa menahan tawanya, ia tahu Hardhan tidak serius dengan pertanyaannya, tapi Kei tetap tergoda untuk menjawabnya,
"Sayang dia Papaku... Mertuamu."
"Ah.., sayangnya kau benar."
Mereka saling tatap lagi, sebelum tawa mereka kembali pecah.
"Oh astaga, aku tidak bisa membayangkan jika Papa masuk di saat kita sedang, yah untunglah aku sedang berhalangan."
"Kenapa tidak ada kunci di kamarmu?" tanya Hardhan.
"Aku merasa itu tidak perlu, tapi sepertinya kita harus memasangnya sekarang."
"Harus, aku tidak ingin kegiatan pagiku terganggu lagi." gerutu Hardhan.
"Itu berarti kita akan menginap di sini lagi?" tanya Kei penuh harap.
"Lain kali sayang, hari ini kita harus pulang, karena nanti malam ada pesta. Kamu lupa?"
Kei menggeleng, "Aku ingat."
"Bagus, sekarang kemarilah, biarkan aku memelukmu sebentar."
Kei merapat ke Hardhan, menyandarkan kepalanya di dada bidang Hardhan, jari-jari tangannya memainkan bulu dadanya.
"Sepertinya kamu harus bercukur sayang, bulu di pipi bawahmu itu juga sudah mulai terlihat."
"Kau tidak suka? Aku justru terlihat lebih gagah seperti ini, asal kau tahu manisku... Tidak semua pria bisa menumbuhkan janggut dan bulu dada secara alami."
Kei tertawa lebar, "Dihh narsis...."
"Atau kau lebih suka oppa-oppa cantik, yang bahkan wajahnya lebih cantik dan lebih mulus dari wanita?" ledek Hardhan.
Tawa Kei pecah, "Baiklah, selama janggutmu tidak selebat Hagrid dan Dumbledore di serial Harry Potter itu, aku masih bisa menerimanya."
Hardhan semakin erat memeluk Kei, "Semalam aku seperti kehilangan arah, rumah terasa sepi tanpamu, dan aku tidak menyukainya. Mulai sekarang kau tidak boleh bermalam dimanapun tanpaku... Aku tidak mau merasakan lagi perasaan hampa seperti semalam."
"Bagaimana kalau kau ada perjalanan dinas keluar?"
"Oh tentu saja kau akan ikut sayang, kau bersedia ikut kan?"
Kei mengangguk.
"Diingatkan tentang perjalanan dinas, aku lupa memberitahumu minggu depan kita akan ke Paris lagi, Sonya juga akan ikut, dia lumayan bisa membantu Alex, dan juga bisa menemanimu."
Kei langsung menatap Hardhan, melihat keseriusan dalam matanya "Benarkah?"
Hardhan mengangguk
__ADS_1
"Kalau begitu aku bisa shopping berdua Sonya di sana....."
"Sonya di sana untuk kerja, bukan untuk jalan-jalan." ralat Hardhan.
"Katamu tadi dia bisa menemaniku."
"Kalau pekerjaannya sudah selesai, dia boleh menemanimu."
"Itu sih sama saja, selama kalian bekerja aku tetap sendiri di penthouse. Paling hanya di temani suara mendengkur madame Agathe lagi."
Hardhan terkekeh pelan, "Madame sangat menyayangimu, kau tahu itu."
"Iya aku tahu... Aku akan belajar masakan Perancis lagi dengan madame."
"Non Kei... Den Hardhan... Tuan menunggu di meja makan." teriak bi Inah dari luar kamar.
"Iya Bi... Sebentar." balas Kei.
"Bagaimana ini, aku malu bertemu papa..." rengek Kei.
"Kenapa harus malu? Itu hal yang wajar di lakukan sepasang suami istri."
"Tetap saja... Rasanya aneh di lihat orang tua."
"Aneh tidak aneh kita tetap harus turun, tidak baik membuat Papamu menunggu terlalu lama." kata Hardhan sambil turun dari tempat tidur, lalu memakai celana panjang dan kemejanya, menggulung lengan kemejanya sampai batas siku.
"Kau tidak bawa baju salin?" tanya Kei.
"Kasihan Alex, ini hari sabtu... Tidak adakah libur untuknya?"
"Sayang, biasanya sabtu dan minggu aku juga tidak pernah mengganggu Alex, tapi hari ini kantor mengadakan pesta kalau kamu lupa?"
"Oh iyaa..." kata Kei sambil nyengir.
**********
Mereka bertiga duduk di meja makan dalam diam, muka Kei masih terlihat merah, Hardhan dan pak Hendrawan terlihat canggung.
Bagaimana tidak jadi canggung, ketika mertuamu melihat rutinitas pagimu, menggagahi anak gadisnya.
"Maaf Pa... Saya datang kemalaman jadi tidak bisa menemui papa terlebih dahulu." kata Hardhan memecah kesunyian.
"Oh tidak apa-apa. Mengenai tadi, Papa... Ahh papa minta maaf."
"Tidak masalah Pa... Saya tahu papa tidak menduga akan menemukan saya di kamar Kei."
"Ya kamu benar. Ayo kenapa diam saja, silahkan di makan."
Hardhan mengangguk, dan mulai menikmati sarapan pagi buatan bi Inah, Hardhan melirik Kei yang masih terlihat canggung.
Hardhan mengambil sepotong daging dan meletakkan ke piring nasi Kei, "Makan sayang."
__ADS_1
"Eh iya..." Kei langsung memakannya.
"Bagaimana perkembangan bisnismu di Paris?" tanya papa.
"Sejauh ini lancar... Ada satu atau dua kendala tapi itu bukan masalah besar, dan saya bisa mengatasinya."
"Papa percaya kamu pasti bisa...."
"Terima kasih Pa... Saya akan mengajak Kei ke sana lagi, minggu depan kami berangkat."
"Itu bagus, Kei jaga kesehatanmu."
"Iya pa."
"Jadi.... Sudah ada kabar baik kah dari kalian?" tanya papa.
"Kabar baik?" Kei balik nanya, matanya bertemu dengan mata Hardhan.
"Cucu Kei... Cucu Papa"
Kei mengernyit, "Papa...."
"Kamu terlalu polos Kei... Kamu menelan mentah-mentah perkataan mantan suamimu dan keluarganya. Kamu tidak mandul... Papa yakin kalau kamu merasa nyaman dan bahagia, dan kamu tidak merasa tertekan atau stress, kamu pasti bisa hamil."
Astaga orang tua ini..., bicaranya tidak di ayak dulu... batin Hardhan
Hardhan mengalihkan perhatiannya dari Kei ke papanya, mereka saling tatap, mata mereka seperti saling bicara dan Hardhan mengerti.
"Papamu benar Kei, Aku akan menemanimu periksa ke dokter kandungan."
"Itu tidak perlu...." desis Kei sambil berdiri dari kursinya dan langsung lari ke kamarnya.
"Kei..." Hardhan ingin mengejarnya tapi tangan pak Hendrawan menahannya.
"Biarkan dia, mari kita bicara di luar."
Hardhan mengikuti langkah kaki pak Hendrawan, keluar dari dapur dan menuju area taman belakang, dengan kolam renang yang mendominasi area ini.
"Papa semalam bicara banyak dengan Kei. Papa rasa dia sudah mulai menyukaimu, hanya saja dia belum menyadarinya."
"Iya saya tahu itu."
"Papa tidak pernah melihat dia sekeras kepala itu. Begitu inginnya dia hidup kembali bersama mantan suaminya itu, papa berusaha mencari tahu apa penyebabnya, apa Galang mengancamnya atau apapun, dan Papa tidak menemukan jawabannya."
"Itu karena kesalahan kami, atau kesalahan saya, entahlah mana kata yang lebih tepat. Saya pernah bilang ke papa dipulau X adalah pertemuan kedua kami... Ternyata saya salah lagi. pertemuan kami di pulau X lima bulan yang lalu adalah pertemuan ketiga kami. Sebelumnya tujuh tahun yang lalu, kami juga pernah bertemu di pulau X."
Pak Hendrawan menatap Hardhan bingung, Hardhan menceritakan semua kejadian dipulau X tujuh tahun yang lalu, dari Hardhan yang sedikit mabuk karena menemani koleganya minum-minum, Kei yang juga mabuk dan salah masuk ke kamarnya, hingga Hardhan yang mengambil keperawanannya.
"Semua terjadi begitu saja, saya tertidur ketika Kei meninggalkan saya."
Pak Hendrawan diam, wajahnya memerah, dan kedua tangannya mengepal di sisi badannya,
__ADS_1
"Kalau saya tidak memandang sahabat saya dalam dirimu, saya pasti sudah menembakmu sekarang!!"