
Hari sudah pagi ketika Kei bersandar di kepala tempat tidur, infusnya sudah dicabut sedari tadi oleh dokter Sam, tapi ia enggan turun dari tempat tidur. Dan lebih enggan lagi bertemu suaminya.
Bayang-bayangan Hardhan dengan Karina masih menari-nari di dalam ingatannya, membuat dada Kei terasa sesak. ia belum pernah merasakan yang seperti ini sebelumnya.
Galang sudah berkali-kali selingkuh darinya, tapi Kei tidak pernah merasakan sesakit ini. Sakit yang membuatnya sesak hingga terasa ingin mati.
Tuhan... Aku pasti sudah mencintai Hardhan, aku tidak mungkin sampai seperti ini jika tidak mencintainya kan? Tidak akan ada kekecewaan yang mendalam, tanpa adanya cinta yang mendalam.
Aku terlalu nyaman saat bersamanya hingga membuatku terbuai... Membuatku lengah pada pesonanya... Dan akhirnya aku tidak bisa mencegah diriku sendiri untuk jatuh cinta padanya...
Dan sekarang, aku terluka karenanya...
Aku menghancurkan hatiku sendiri, pada hari aku mulai mencintainya.
Pintu kamar terbuka, Hardhan masuk dengan nampan berisi makanan di tangannya, dan Kei langsung buang muka, tidak ingin melihatnya.
"Kau tidak mau turun untuk sarapan, jadi aku membawakannya untukmu." kata Hardhan sambil menghampirinya, dan meletakkan nampan makanan di meja nakas sebelah Kei.
"Kei... Makanlah... Sonya sudah memasaknya untukmu..."
Kenapa Sonya bisa bersikap baik dengan Hardhan?
Kei mengernyit saat tangan Hardhan mengelus rambutnya, dan tangan Kei langsung menepisnya.
"Kei, sampai kapan kau akan terus seperti ini?"
Merasa kesal karena Kei tidak mau melihatnya dan tidak mau berbicara dengannya, kedua tangan Hardhan menangkup pipi Kei, mengarahkan wajahnya ke Hardhan, sampai mata Kei menatap matanya.
"Aku tahu kamu marah melihat kedekatanku dengan Karina, tapi hubunganku dengannya saat ini hanya sebatas pekerjaan Kei... Tidak lebih!! Kau harus percaya padaku..."
Hardhan mengumpat kesal ketika Kei masih tetap mengabaikannya, lebih baik ia menerima kemarahan Kei daripada sikap diamnya seperti saat ini.
"Kau tidak percaya padaku kan? Kau masih berpikiran buruk tentangku kan? Hubungan apa yang akan kita bina, kalau tidak dilandasi dengan kepercayaan?!"
__ADS_1
Kei masih membisu, Hardhan menghela nafas panjang, berusaha sesabar mungkin menghadapi sikap Kei. Hardhan berdiri dan berkata "Makanlah... Dan setelah itu bersiaplah... Kita akan kembali ke rumah. Mama bersikeras memintamu memasak iga bakar untuknya."
**********
Setelah makan malam hanya berdua saja dengan mama, Kei mengobrol santai di kamar mama, mereka duduk di kursi kecil di samping jendela kamar, sambil melihat-lihat album foto pernikahan mama dan papanya Hardhan, serta album foto Hardhan.
"Bahkan sejak kecil dia sudah mirip sekali dengan papanya..." kata Kei merujuk ke foto Hardhan saat berusia tiga tahun.
Mama terkekeh pelan, "Yaa kau benar, saat itu Hardhan seperti replika kecil dari papanya."
Kei menatap wajah dan tubuh mungil Hardhan, siapa yang bisa menyangka sosok mungil dan imut ini, bisa setinggi dan segagah sekarang.
Kei terus membalik halaman album itu, tapi pikirannya melayang ke pesta tadi malam. Dan mama merasakan perang batin di dalam diri Kei, "Ada yang ingin kamu ceritakan ke mama?" tanyanya.
Kei kaget dengan pertanyaan mertuanya
"Apa? Oh tidak... Aku hanya membandingkan Hardhan kecil dengan Hardhan sekarang." elak Kei.
"Apa Hardhan sudah cerita ke mama?" tanya Kei.
Mama menggeleng, "Anak nakal itu, tidak pernah cerita masalah hidupnya ke mama, dia selalu menampilkan wajah bahagianya di depan mama, menyembunyikan dan menelan sendiri semua masalahnya. Tapi hari ini... Untuk pertama kalinya mama melihatnya seperti itu, seperti memiliki masalah yang tidak bisa ia pikul sendiri."
Kei diam, ia berusaha tersenyum sementara hidungnya terasa mampat dan matanya pedih menahan air mata.
"Mungkin dia lelah mempersiapkan proyek barunya di Paris nanti, Ma...." kata Kei dengan suara parau.
Mama meremas tangan Kei di atas meja, di atas album foto Hardhan.
"Hardhan memang anak kandung mama, tapi mama tidak akan menoleransi jika ia berbuat kesalahan, terlebih lagi menyakitimu. Mama tidak pernah menganggapmu sebagai menantu di rumah ini... Mama menganggapmu sebagai anak kandung mama sendiri... Jadi sekarang katakan... Apa yang anak nakal itu lakukan padamu?"
Air mata Kei sudah tidak bisa di bendung lagi. Ia kembali nangis terisak di depan mama,
"Hiks.. Hiks.. Dia bersama wanita lain di pesta semalam, Ma.. Dia mengabaikanku... Dia... Hiks."
__ADS_1
Kei mengambil tissue di ujung meja, dan membersit hidungnya, "Dia berdansa dengannya... Dia tidak mempedulikan perasaanku yang sakit ketika dia membiarkan wanita itu mencium dan menggodanya... Di depanku, Ma... Di depanku... Hiks... Hiks..."
Mama meremas tangan Kei semakin erat, berusaha menenangkan Kei, "Kamu kenal siapa perempuan itu?"
"Karina... Teman SMAku..."
Mama tercekat ketika mendengar nama itu,
"Sayang... Apa dia bekerja dengan Hardhan?"
"Dia model, brand ambassador produk terbarunya Hardhan" jelas Kei.
Mama terlihat merenung sebentar, sebelum memulai ceritanya,
"Mama dulu juga pernah merasakan hal semacam itu... Wanita-wanita penggoda di sekitar papanya Hardhan. Yah... Itulah resiko yang kita ambil ketika memilih menikahi pria tampan dan berkuasa sayang... Tapi kita juga harus bijak menghadapinya, jangan terlalu mengikuti emosi kita, sehingga akhirnya membuat keributan di dalam rumah tangga kita, yang justru akan memberikan keuntungan untuk para penggoda itu. Cari tahu faktanya terlebih dahulu, dan hindari menduga-duga."
"Mama mengerti emosi yang saat ini sedang kamu hadapi, tapi kamu tetap harus mendengarkan penjelasan dari Hardhan. Kalau kamu mengambil keputusan hanya berdasarkan dengan apa yang kamu lihat, para penggoda itu akan mengambil keuntungan dari kelemahanmu itu, mereka akan terus membuatmu marah dan cemburu, hingga akhirnya meninggalkan suamimu. Percayalah sayang... Mereka memiliki seribu satu cara untuk menggoda... Untuk mendapatkan pria incarannya, tidak peduli pria itu sudah memiliki anak dan istri atau belum."
"Kunci utama dalam berumah tangga adalah kepercayaan. Karena cinta saja tidak akan cukup, suami istri harus saling percaya antara satu dengan yang lainnya. Kalau kalian saling percaya, kalian bisa menciptakan kesempatan untuk cinta kalian terus tumbuh. Dan kalau kalian tidak saling percaya, maka pelan tapi pasti kalian akan menjauh dari cinta, hingga hubungan kalian tidak bisa dilanjutkan kembali. Setelah kepercayaan itu hilang, hubungan kalian benar-benar akan kandas."
"Tapi Ma... Dalam kasus Hardhan semalam, dia juga menanggapi wanita itu bahkan mengabaikanku."
"Apa wanita itu terus bergelayut ke Hardhan?" tanya mama.
Kei mengangguk, lalu berkata dengan kesal,
"Bergelayut seperti monyet, dan menggoda Hardhan, padahal aku tepat di depan matanya."
"Jelas sekali wanita itu ingin menghancurkan hubungan kalian sayangku... Jangan bilang kau langsung merajuk dan meninggalkan mereka berdua?"
Kei menunduk, wajahnya memerah karena ia melakukan persis seperti itu, "Tidak masalah, ini pertama kalinya kau menghadapi wanita penggoda. Lain kali jangan pergi dan jangan membiarkan mereka puas karena sudah membuatmu marah."
"Kei... Memang anak nakal itu persis seperti papanya, berjiwa liar dan bebas sebelum menikah, tapi setelah menikah... Dia akan setia dan menjaga sumpah pernikahannya. Apalagi kau yang menjadi istrinya... Kau tahu... Bertahun-tahun Hardhan mencarimu dan papamu. Dan setelah ia mendapatimu... Mama yakin, ia tidak akan pernah mengkhianatimu."
__ADS_1