Terpaksa Menikah Lagi

Terpaksa Menikah Lagi
Bonjour Paris


__ADS_3

Akhirnya setelah kurang lebih enam belas jam, Kei, Hardhan, Alex dan beberapa anak buahnya sampai juga di kota Paris. Mobil mewah yang tadi menjemput meraka di bandara CDG, kini melaju mulus di jalanan ibukota dengan julukan kota cinta ini.


Kei melihat pemandangan di luar jendela mobil, melihat matahari bulan April yang cerah, dan langit biru yang jernih


"Kau sudah pernah ke Paris sebelumnya?" tanya Hardhan memecah kesunyian.


Kei menggeleng.


"Ada ungkapan yang mengatakan Paris adalah Paris, maksudnya ada begitu banyak hal menarik dan orisinal di Paris, yang menjadikan kota ini mempunyai keajaiban yang istimewa dan tak terlupakan. Memesona semua orang yang berkunjung ke sini. Kota ini penuh dengan gairah, Paris hidup dan bernafas."


Kei mengalihkan pandangannya ke Hardhan, tidak yakin pria itu serius atau tidak,


"Sepertinya kamu sering ke sini?"


"Yaa... Cukup sering."


"Aku ingat, dulu semasa SMA ada 1 geng wanita, mereka tidak menerima anggota yang belum pernah ke Paris...." Kei tertawa pelan, "Terdengar konyol kan?"


"Mereka tidak menerimamu?" tanya Hardhan


"Oh bukan... Aku tidak pernah tertarik masuk geng itu." Kei begidik.


"Karena mereka kumpulan wanita-wanita picik?"


Kei mengangguk.


"Lihat di luar sana."


Kei menoleh ke arah yang Hardhan tunjuk, terlihat Menara Eifel yang menjulang tinggi. Menara yang biasa Kei lihat di foto atau di film-film, kini ia lihat langsung dengan mata kepalanya sendiri. Kei mengeluarkan handphone dari dalam tasnya, dan mengabadikannya dengan foto dan video.


"Nanti kita akan makan malam di sana."


"Tidak bisa kah kita tidur saja hari ini? Aku lelah... Sepertinya kakiku juga bengkak, terlalu lama duduk di pesawat."


"Ahh sayang sekali, aku sudah memesan tempat di sana, apa kau yakin tidak ingin mencoba masakan chef terkenal?"


Kei menguap lebar, menutup mulutnya dengan tangan, "Lihat nanti saja."


Mobil berhenti di gedung apartment mewah, dengan air mancur yang menari-nari indah di tengah taman kecil di seberang pintu masuk lobby.

__ADS_1


"Bonjour, Monsieur."


"Bonjour, Mademoiselle."


sapa petugas di pintu masuk apartment.


Hardhan menghampiri salah satu petugas itu, berbicara dengan bahasa Prancis yang fasih. Sebelum akhirnya menuntun Kei menuju lift pribadi, membawa mereka ke lantai teratas apartment ini.


"Sepertinya mereka mengenalimu...."


"Seperti yang tadi ku bilang, aku cukup sering ke sini, dan aku pemilik salah satu penthouse di sini."


Mulut Kei membentuk huruf O tanpa suara.


Pintu lift terbuka, mereka melangkah keluar ke koridor dengan karpet tebal, Hardhan menempelkan acces cardnya ke pintu, hingga pintu terbuka lebar.


Kei melangkah masuk ke dalam, melewati lorong kecil yang mengarah ke bagian dalam apartment, ke ruang duduk yang terlihat megah dan elegant, dengan pilar-pilar kokoh dan jendela besar yang menjulang tinggi sampai ke langit-langit, dan memanjang dari sudut kanan sampai sudut kiri.


Tirai-tirai berwarna sama dengan warna sofa menjuntai sampai ke lantai, tidak ada sekat yang memisahkan ruang duduk, dapur dan ruang makan, membuat penthouse ini terlihat semakin luas. Terdapat satu pintu yang menuju kamar mandi lantai bawah, dan pintu ke arah balkon.


Kei mendapati dirinya melangkah ke luar balkon, terdapat kolam renang pribadi dengan taman kecil dan beberapa kursi sun lounger. Di sudut kanan terdapat ruang kecil untuk barbequean. Balkon ini menghadap langsung ke menara eifel, membuat Kei sekali lagi merasa takjub.


Belum puas bereksplorasi, Kei menaiki tangga ke lantai 2, terdapat ruang duduk dengan TV besar dan dua pintu kamar tidur. Dari lantai ini bisa terlihat langsung sebagian ruang duduk dan dapur di lantai bawah.


Kei membuka pintu kamar, tidak terlalu berbeda dengan kamar Hardhan, tempat tidurnya, sofa, dua kursi santai di sebelah jendela, dan pintu kaca yang mengarah ke balkon, dan ruang pakaian dengan beberapa gaun dan jas yang sudah terjajar rapi.


Membuka pintu balkon Kei langsung bisa melihat Menara Eifel, dengan beraneka ragam orang dari berbagai negara yang lalu lalang di sekitar Menara itu. dari balkon kamar ini Kei bisa melihat kolam renang, dan balkon lain kamar yang satunya lagi.


Ada dua kursi dengan meja bulat di tengahnya, dan beberapa pot bunga yang sebagian sudah mulai melayu.


"Kau suka?" tanya Hardhan.


"Pemandangannya jauh lebih indah dari kamar ini"


Kei menghampiri salah satu pot bunga yang sudah layu.


"Kenapa kamu meletakkan pot bunga di sini? Sedang kamu jarang datang untuk menyiramnya, kasihan mereka."


Hardhan terkekeh pelan,

__ADS_1


"Oh Madame Agathe mungkin lupa menyiramnya."


Dengan cepat Kei berbalik menatap Hardhan.


"Madame Agathe?" tanyanya sinis.


"Yah dia yang membantuku membersihkan penthouse ini, dia wanita yang baik, sedikit eksentrik, wanita yang sangat menyenangkan dan mudah di ajak bicara, kau pasti akan menyukainya." jelas Hardhan.


Jadi begini rasanya mendengar suami memuji wanita lain di depannya? suntuk Kei dalam hati.


Sambil menyeringai lebar Hardhan menyentil kening Kei "Jangan memberengut seperti itu, dia wanita tua berumur lima puluh tahun, jadi jangan cemburu."


Cih siapa juga yang cemburu?


Gerutu Kei dalam hati sambil mengelus keningnya.


"Yang kamu tidak tahu adalah... Aku tidak bisa bahasa Prancis, jadi percuma saja walaupun wanita itu mudah di ajak bicara."


"Madame Agathe, dia janda dari warga negara kita, jadi dia bisa bahasa kita sayangku, dan bahasa inggrisnya juga lancar... Sebelumnya madame Agathe juga sudah akrab dengan...." Hardhan terdiam sebentar, lalu mengibaskan tangannya, "Yang pasti kau juga akan segera akrab dengannya "


"Sebelumnya dia akrab dengan siapa?" pancing Kei.


Untuk beberapa saat Hardhan terdiam sebelum akhirnya menjawab,


"Mama dan adikku."


Rasa bersalah kembali menghujam Kei, untuk kedua kalinya ia mengingatkan Hardhan kepada mendiang adiknya. Kei menghampiri Hardhan dan meraih tangannya.


"Hardhan, Aku...."


"Sayang... Sebaiknya kamu segera mandi dan berganti pakaian, dan ingat kapan terakhir kalinya kamu mandi?"


"Kamu tidak perlu mengingatkan, kalau udaranya tidak dingin, aku pasti langsung nyebur ke kolam renang itu, mengingat badanku yang sudah lengket."


Kei melepas tangannya dari Hardhan lalu kembali masuk ke dalam kamar, dan membuka pintu kamar mandi. Isinya sama dengan kamar mereka di rumah, hanya saja di sini Shower sherle wagnernya tidak berlapis emas 24 karat.


Dan yang membuat Kei kesal, didalamya sudah tersedia perlengkapan mandi yang super lengkap dengan beberapa botol parfum dari brand ternama. Mata Kei langsung menyipit, memandang pantulan dirinya sendiri di kaca.


Raksasa itu pasti sedang menggodaku sewaktu menyuruhku membawa perlengkapan mandiku!!

__ADS_1


Aaarrggghhh!!!


__ADS_2