
Terlihat di sana Sonya dan Kei sama-sama terbaring tidak sadarkan diri di hospital bed. Untuk saat ini sama-sama terlihat sedang tenang, tapi apa jadinya ketika kedua wanita itu sudah siuman, Alex tidak dapat membayangkan kesedihan mereka.
Dan ketika mereka sudah dipindahkan ke ruang presidential suite, Alex kembali menatap nanar kedua wanita itu.
"Tolong tinggalkan kami...." pinta Alex pada dokter umum dan para perawat yang sudah selesai menangani Sonya dan Kei, sambil menatap sendu ke arah Kei yang kehilangan suaminya, lalu beralih ke Sonya yang kehilangan janinnya, anak mereka.
Setelah dokter dan perawat itu keluar, dengan tenggorokan yang terasa sakit karena menahan tangisnya, Alex bergegas menghampiri Kei, "Maafkan aku Kei... Mungkin aku sudah mengecewakanmu..." desah Alex lirih sambil mengelus kepala Kei.
"Tapi aku berjanji... Aku akan menghabiskan semua yang sudah membuat kita kehilangan sosok yang kita sayangi..., kita kagumi... Hardhan kita..." Alex menghapus air mata yang keluar di sudut matanya,
"Kuatlah Kei... Kuatkan hatimu... Kau harus kuat demi anak-anakmu... Demi Zou, Zie, Zaa dan sikecil Ken... Mereka masih sangat membutuhkanmu saat ini... Kau harus kuat demi mereka..." tegas Alex lalu menghela nafas panjang, dan menguatkan dirinya sebelum menghampiri Sonya.
Alex menarik kursi ke samping hospital bed Sonya, kemudian duduk dan meremas lembut tangan Sonya. Air mata yang sejak tadi berusaha ia tahan, kini kembali lagi mengalir deras ke pipinya.
"Sonya... Maaf my queen... Semua salahku... Aku benar-benar pembawa sial..." isak Alex sambil menciumi punggung tangan Sonya, lalu menempelkan telapak tangan Sonya ke pipi Alex, matanya menatap nanar wajah Sonya yang terlelap tidur seperti bayi.
"Maaf my queen... Aku terlambat datang... Aku tidak sempat mencegah pria sialan itu menarikmu sampai terjatuh... Aku bukan suami yang baik... Aku bukan ayah yang baik Son... Aku gagal menjadi keduanya... Bahkan aku juga gagal jadi adik yang berguna untuk Hardhan..." isak Alex dengan suara pilu.
__ADS_1
Air matanya terus mengalir membasahi telapak tangan Sonya, Alex menghela nafas panjang untuk menenangkan dirinya, tapi alih-alih tenang Alex malah kembali terisak lagi, "Sonya... Aku tidak sanggup lagi menanggung kesedihan ini seorang diri... Bantu aku melewati semua ini... Bantu aku lagi Sonya... Tolong sayang my queen..."
Alex menyandarkan kepalanya di dada Sonya, "My queen... Aku kehilangan lagi... Aku terpisah lagi oleh orang yang aku kasihi... Hatiku kembali merasakan kepedihan itu lagi... Rasanya aku benar-benar sudah hancur Son... Aku benar-benar rapuh saat ini..." isak Alex dengan suara tercekat dan punggung bergetar karena tangisannya.
"Seandai aku tidak kembali mengasihi lagi... Mungkin saat ini Hardhan masih disini... Dan kamu sudah berbahagia dengan yang lain Son... Maafkan aku... Maafkan aku yang membawa kesialan ini untuk kalian..."
Lalu tiba-tiba pintu terbuka, dan mama dengan di papah Upin masuk sambil menangis histeris, Alex langsung bergegas menghampiri dan memeluk mama.
"Apa itu benar Lex? Pesawat Hardhan hilang Lex? Apa masih ada kemungkinan pesawat itu ditemukan dalam keadaan utuh dan Hardhan serta anak buahnya selamat Lex?" tanya mama di sela-sela tangisannya sambil balas memeluk Alex, mama menumpahkan semua kesedihannya di dalam pelukan Alex.
"Aku tidak tahu Mom... Kita masih harus menunggu kabar selanjutnya..." jawab Alex sambil menepuk-nepuk punggung mama.
"Sudah Mama bilang berkali-kali pada kalian!! Hentikan balas dendam ini!! Hentikan mencari bukti kematian Anindira yang sebenarnya!! Balas dendam kalian tidak akan membuat Anindira ku kembali hidup lagi!! Tapi kalian terlalu keras kepala untuk mendengarkan nasihat Mama... Permintaan Mama... Dan sekarang, sekarang..." mama tidak dapat melanjutkan lagi perkataannya, karena tangisnya yang kembali pecah.
Alex membawa mama ke sofa panjang, dan mendudukkannya di sana, kemudian Alex berlutut di depan mama, dan meletakkan kedua tangannya di pangkuan mama, mama masih terisak dengan tangisannya.
"Maaf mom... Maafkan aku... Tidak pernah terpikirkan oleh ku dan juga mungkin Hardhan kalau akan seperti ini jadinya... Semua diluar kuasa kami Mom... Maafkan aku yang sudah mengecewakanmu lagi Mom... Aku kembali membuatmu kehilangan lagi anakmu... Aku tidak bisa menjaga Hardhan..." desah Alex lalu merebahkan kepalanya kepangkuan mama.
__ADS_1
Aku membawa kesialanku pada keluargamu...
Mama mengusap-ngusap punggung Alex, "Kau tidak perlu minta maaf pada Mama Lex, kau juga anakku... Bukan penjaga anak-anakku... Semuanya sudah takdir dari Tuhan yang maha kuasa Lex... Maaf Mama tadi menyalahi kalian... Tapi kau harus ingat Lex..., dan jadikan kejadian ini sebagai pelajaran berharga dalam hidupmu... Lebih banyak keburukan daripada kebaikan dalam hal balas dendam..." ujar mama sambil sesekali terisak sedih, tangan kanannya mengelus kepala Alex dan tangan kirinya menepuk punggung Alex yang berguncang karena tangisannya.
"Jika kamu lebih banyak menghabiskan waktumu untuk mengharapkan seseorang yang menyakitimu..., harus merasakan konsekuensi dari apa yang telah mereka lakukan padamu... Kamu hanya membiarkan mereka menyakitimu untuk ke dua kalinya di dalam pikiranmu Lex... Pikiranmu yang dipenuhi dendam... Sementara orang itu mungkin tidak sedang memikirkanmu..."
"Bad things are always going to happen in life. People will hurt you, but you can’t use that as an excuse to hurt someone back... Hal-hal yang buruk selalu akan terjadi dalam hidup. Orang akan menyakitimu, namun kamu tidak boleh menggunakan itu sebagai alasan menyakiti seseorang kembali..." lanjut mama.
Alex mengangkat kepalanya, dan menatap penuh mata mama, "Aku tahu Mom... Tapi aku harus tetap mencari siapa siapa dalang dibalik hilangnya pesawat Hardhan... Mereka semua harus membayar atas kematian Hardhan dan anak buahnya... Aku..." kata-kata Alex menggantung ketika mendengar suara tercekat Sonya.
Dengan sigap Alex langsung berdiri dan menghampiri Sonya lalu meremas tangannya, "Kau sadar juga my queen..."
Sonya menarik lepas tangannya dari Alex, air mata masih mengalir ke pipinya. Sonya tadi terbangun ketika beban berat kepala Alex di atas dadanya terangkat ketika Alex menghampiri mama, dan Sonya mendengar semua keluhan mama tentang balas dendam Alex dan Hardhan.
Mama benar, semua gara-gara balas dendam mereka atas kematian Anindira. Mereka terlalu memaksakan diri untuk mencari kebenaran itu.
Alex terlalu mencintai Anindira hingga tidak akan melepaskan siapapun yang sudah membuatnya kehilangan cinta pertamanya itu, kekasih hatinya itu yang membuat Alex terus berlarut dalam kesedihannya, dan mungkin satu-satunya cinta sejati untuk Alex sampai saat ini. Bagaimana tidak sedalam itu perasaan Alex pada Anindira, kalau benar Alex juga pertama kali melepaskan keperjakaannya pada Anindira.
__ADS_1
Sekarang inilah hasil balas dendammu itu Lex... Aku kehilangan janinku yang bahkan aku sendiri belum mengetahui kalau aku sedang mengandungnya... Mengandung anak ketigaku.... Yang sekarang sudah tiada...