Terpaksa Menikah Lagi

Terpaksa Menikah Lagi
Titik Balik


__ADS_3

"Ya... Dan jangan sampai kau kehilangan Inge juga. Aku sudah mengubur masa laluku, aku harap kau juga melakukan hal yang sama, demi kebaikanmu, keluargamu, dan terlebih lagi untuk kebaikan anakmu."


Dalam setiap kehidupan ada titik balik. Kei menemukan titik balik dalam hidupnya ketika ia bersama Hardhan. Kei sudah memutuskan dengan jelas dan tegas, bahwa Kei tidak ingin terus menjalani hidup yang sama lagi dengan Galang.


Kei menemukan kekuatan yang besar dalam dirinya, justru ketika ia bersama Hardhan, dan ia sudah memilih akan terus bersama Hardhan, untuk merajut masa depan mereka menjadi lebih baik.


"Lebih baik aku kehilangan Inge Kei... Daripada kehilangan kamu...." kata Galang muram.


"Galang... Berhentilah bersikap konyol. Untuk apa kamu terus meratapi masa lalu?" kata Kei dengan kesabaran yang mendekati kekesalan.


"Seandainya dulu aku bisa menahan diri untuk tidak mengucapkan kata keramat itu padamu, hidupku tidak akan semalang ini. Seandainya aku tidak menghamili Inge, tentu hidup kita akan lebih baik Kei...."


"Demi Tuhan Galang! Berhentilah berandai-andai!!" pekik Kei kesal.


"Mudah bagimu mengatakan itu, semudah kau berpindah hati kepada pria lain... Cobalah kau jadi aku sebentar saja, sudah pasti kau tidak akan kuat menanggungnya."


"Pernikahan yang aku jalani dengan Hardhan sekarang, adalah konsekuensi dari ucapan dan perbuatanmu di masa lalu. Dan sekarang... Kamu menyalahkan diriku yang tidak bisa mencegah diriku sendiri, karena sudah jatuh cinta pada suamiku ..." kata Kei, air mata mulai berlinang di pipinya.


"Kamu harusnya sudah siap kehilanganku, ketika kamu memaksaku menikah lagi. Kamu sendiri yang memilihkan Hardhan untukku. Kamu yang mendorongku memasuki kehidupan baru dengannya. Yang justru menjadi titik balik positif dalam hidupku. Aku berterima kasih padamu untuk itu."


"Tapi Kei...."


"Jangan membunuh masa depanmu dengan Inge dan anakmu, kalau kamu terus tenggelam di dalam masa lalumu Lang. Apa kamu sebegitu egoisnya mau anakmu, tapi tidak mau mamanya? Tega kamu memisahkan ibu dan anak?"


Galang maju selangkah mendekati Kei, Kei berusaha keras untuk tidak merasa terintimidasi, jadi Kei tetap pada tempatnya berdiri. Kalau Galang masih punya akal sehat, ia tidak akan berani menyentuh Kei, mengingat ancaman yang dilontarkan Hardhan tadi.


"Untuk saat ini aku mengalah... Tapi bukan berarti aku menyerah. Aku tidak akan pernah menyerah untuk mendapatkanmu kembali. Camkan kata-kataku itu!" Desis Galang pelan, nyaris tidak terdengar, lalu Galang beranjak keluar dari ruang kerja Hardhan, membanting pintu di belakangnya.


Sementara itu, di belakang meja kerja Alex, Hardhan sedang fokus memantau percakapan mereka. Rasa bahagia di dalam dadanya membuncah, hatinya seperti berbunga-bunga, dan bibirnya tersenyum bahagia. Tidak ada yang bisa melukiskan betapa bahagianya Hardhan saat ini.


"Kau dengar Lex... Kei mencintaiku... Dia memilihku Lex!" seru Hardhan dengan wajah ceria.


Melihat wajah Alex yang tetap datar dan dingin, membuat Hardhan menghela nafas kesal.


"Kau perlu jatuh cinta Lex, supaya wajahmu tidak sekaku itu. Sepertinya yang di katakan Kei ada benarnya juga. Mungkin aku terlalu banyak menyita waktumu hingga kau tidak sempat memikirkan dirimu sendiri. Mulai hari ini aku tidak akan mengganggu waktu liburmu." ujar Hardhan.

__ADS_1


"Saya tidak akan membuang waktu untuk cinta boss, dan saya tidak butuh waktu libur, anda bisa menghubungi saya kapanpun anda mau."


Hardhan berdecak, "Kamu hanya belum merasakannya saja... Yasudah kita kembali ke ruangan saya sekarang."


Hardhan tiba-tiba menghentikan langkahnya, ketika teringat sesuatu, "Lex, kira-kira apa yang dikatakan Galang ke Kei sebelum dia meninggalkan kantor. Suaranya terlalu pelan hingga tidak terdengar."


"Nanti saya coba perjelas lagi ke bagian forensik audio boss."


"Lakukan secepatnya."


"Baik boss."


**********


"Sayang... Kamu lama sekali... Galang sudah keluar dari tadi." rajuk Kei ketika Hardhan memasuki ruangan.


"Wah... Wah... Wah... Kamu sudah merindukanku yaa?" goda Hardhan lalu memeluk istrinya.


"Kau sendiri, dimana Alex?"


"Kau kok tidak ikut?" tanya Kei lagi.


Hardhan mengangkat bahunya, "Mereka tidak membutuhkan kehadiranku."


"Bohong... Bilang saja kamu malas...." ledek Kei.


Tawa Hardhan pecah, "Aku lebih memilih menghabiskan waktuku dengan istriku, daripada berdebat dengan bandot-bandot tua di ruang rapat itu ..."


"Apakah mereka tua semua? Tidak ada yang muda dan ganteng sepertimu?"


"Ada... Alex."


"Kalau Alex sih aku sudah kenal."


"Memangnya kau mau kenal pria ganteng yang mana lagi? Awas yaa kalau berani melirik pria lain lagi."

__ADS_1


"Kamu juga... Awas kalau berani melirik wanita lain."


Hardhan melepas pelukannya, menatap lembut istrinya, "Kau tidak apa-apa sayang? Apa Pembicaraan kalian tadi berjalan lancar? Galang tidak menakutimu kan?"


"Sudah selesai. Aku sudah menegaskan padanya kalau aku tidak ingin kembali lagi padanya."


"Itu berarti kau akan bersamaku selamanya?"


"Iya, kalau jiwa playboymu tidak kumat lagi."


"Aku playboy yang sudah bertobat sayang... Kau lah yang membuatku meninggalkan jalan yang sesat itu. Dan percayalah... Playboy yang bertobat akan menjadi suami yang paling setia...."


"Aku tidak akan sekhawatir ini kalau aku tidak mencintaimu... Tapi aku mencintaimu Hardhan. Dan aku selalu bertanya-tanya akankah suatu saat nanti kau menjadi bosan padaku? Kamu ganteng, kaya dan berkuasa, banyak wanita yang dengan senang hati melemparkan diri ke dalam pelukanmu...."


Hardhan menangkup pipi Kei dengan kedua tangannya, matanya menatap mata Kei dengan penuh cinta, "Kau mencintaiku?"


Kei mengangguk, air matanya berlinang membasahi pipi dan jari tangan Hardhan,


"Aku mencintaimu sampai terasa sesak, aku mencintaimu sampai aku mampu memaafkan kesalahanmu. Aku mencintaimu bukan karena siapa dirimu, tapi karena apa yang terjadi pada diriku saat aku bersamamu."


Hardhan menghapus air mata Kei, lalu mengecup bibirnya, "Kalau begitu... Percayalah padaku."


"Aku percaya padamu... Tapi tetap saja wanita lain masih mencuri-curi pandang ke arahmu...." suntuk Kei sambil merengut.


"Kalau itu karena fisikku, kau bisa menyalahkan mama dan papaku untuk itu, karena mereka sudah membuatku seganteng ini...."


Kei tertawa pelan "Cih... Narsis."


"Tatap mataku Kei, agar kau tahu aku tulus mengatakannya...." pinta Hardhan dan Kei menurut, menatap penuh mata suaminya.


"Aku mencintaimu lebih dari apapun, aku sudah bertekad melindungimu dan menyayangimu sejak kau berumur lima tahun, sampai aku menutup mata nanti. Selama ini aku memang bersenang-senang dengan wanita lain, tapi itu sebelum aku memilikimu... Memiliki cinta sejatiku. Kau lah satu-satunya wanita yang ku cintai dengan segenap hatiku."


"Jadi buang semua keraguan dalam dirimu, dan percayalah padaku... Hanya itu yang aku minta darimu. Asal kau tahu... Aku memegang teguh prinsip kesetiaan dalam pernikahan."


"Iya aku percaya padamu... Jadi tolong Hardhan, jangan pernah mengecewakan aku... Aku akan benar-benar hancur kalau kamu mengkhianatiku...."

__ADS_1


Hardhan kembali memeluk Kei, "Tidak sayang, aku tidak akan pernah mengkhianatimu."


__ADS_2