
"Maaf sayang... Aku tidak bisa menepati janjiku padamu... Untuk tidak akan pernah meninggalkanmu... Untuk selalu ada disisimu... Maaf kan aku Kei... Aku sudah mengecewakanmu..." desah Hardhan lirih.
"Tidak Hardhan... Jangan pergi... Bagaimana dengan anak-anak kita? Bagaimana dengan aku dan Mama? Kamu harus memikirkan kami Hardhan, sebelum kamu pergi meninggalkan kami untuk selamanya..." isak Kei.
"Ini sudah waktuku Kei... Kita tidak bisa melawan apapun takdir yang sudah digariskan Tuhan pada kita, garis hidup yang telah terukir sejak awal kehidupan kita... Kita hanya pasrah pada kehendak-Nya... Pada suratan nasib kita... Kamu harus ikhlas sayang... Kamu harus merelakan aku pergi yaa..." bujuk Hardhan dan Kei menggeleng keras sambil sesengukan karena tagisannya.
"Aku tidak mau... Aku tidak rela... huhuhu... Bagaimana bisa aku melanjutkan hidupku tanpa kamu sayang... Aku tidak bisa, dan tidak akan pernah bisa... Kamu jantung hatiku... Kamu nafasku... Bagaimana aku bisa hidup tanpa itu semua Hardhan... Tidak akan bisa!!" pekik sedih Kei.
Hardhan melepaskan pelukannya, sambil perlahan-lahan melangkah mudur, dan Kei langsung menarik tangan Hardhan dan mengaitkan jemarinya ke jemari Hardhan,
"Jangan pergi Hardhan... Please... Jangan tinggalkan aku... Tetaplah disini bersamaku... Bersama anak-anak kita..." pinta Kei di sela tangisannya.
"Kita tidak bisa melawan takdir sayang... Aku harus pergi... Jaga dirimu baik-baik... Jaga dan rawat lah anak kita sebaik-baiknya... Kuatkan mereka menghadapi kenyataan ini... Sampaikan maafku pada mereka dan juga Mama... Tolong rawat juga Mamaku Kei... Tolong bahagiakan Mama di masa tuanya ini..."
Setelah mengatakan itu, Hardhan langsung melepaskan tangannya dari tangan Kei, dan langsung balik badan meninggalkan Kei.
Kei ingin mengejar Hardhan, tapi kakinya terasa seperti terpaku ke bumi. Kei tidak bisa menggerakkan kakinya sama sekali, jadi ia hanya bisa melihat Hardhan yang semakin menjauhinya, membuat Kei menjerit dan berteriak-teriak histeris memanggil Hardhan.
"Hardhaann.... Jangan pergi Hardhaaaann!!" teriak Kei dan ia langsung terduduk, terbangun dari mimpi buruknya.
Nafas Kei tersengal-sengal, air mata mengalir deras di pipinya, ia menatap bingung ke sekelilingnya, ke arah Sam yang tertidur di sofa, dan ke Sonya yang juga terlelap tidur disebelahnya.
Dan Kei baru teringat, ia sekarang berada di rumah sakit karena syok dengan berita hilangnya pesawat Hardhan, dan mimpi tadi menegaskan kalau Hardhan memang sudah benar-benar meninggalkannya untuk selama-lamanya. Itu adalah kata-kata dan pesan terakhir dari Hardhan.
Sambil sesengukan Kei menekuk kedua kakinya dan memeluk lututnya, lalu membenamkan wajahnya ke lututnya.
Tega kamu Hardhan.... Tega kamu meninggalkanku dengan cara seperti ini...
__ADS_1
rintihnya dalam hati.
Entah berapa lama Kei nangis seperti itu, sampai akhirnya terdengar suara Sam di sampingnya,
"Masih sedih karena Hardhan?" tanya Sam.
Merasa butuh seseorang untuk meluapkan kesedihannya, Kei langsung memeluk pinggang Sam sambil menangis sesengukan
Untuk sesaat badan Sam terlihat kaku, sabelum akhirnya mulai santai, kemudian dengan kikuk Sam menepuk-nepuk punggung Kei untuk menenangkannya,
"Sabar yaa Kei... Sabar..." ujar Sam membesarkan hati Kei.
Kei masih terus terisak dengan tangisannya, ia ingin meluapkan semua kesedihannya, bayangan-bayangan Hardhan semasa hidupnya terus berkelibat di dalam pikirannya, kata-kata mesranya, hingga kata-kata Hardhan ketika ia sedang marah.
"Kau mau mati yaaa!!!"
"Aku pasti sudah gila Sam huhuhu... Aku bahkan bisa mendengar suaranya saat ini..." isak Kei sambil mengeratkan pelukannya ke pinggang Sam.
Dan tangisannya kembali pecah, ia begitu merindukan Hardhan, tapi Kei tahu... Ia tidak akan pernah bisa bertemu dan melihat Hardhan lagi untuk selamanya, dan itu membuat hatinya terasa hancur berkeping-keping, dunianya terasa hampa.
Kei merasa Sam menjauhkan tangannya dari Kei sambil berkata, "Kei... Itu memang Hardhan Kei... Suamimu sudah kembali..." ujar Sam lembut dan Kei langsung menggeleng.
Kesedihannya yang mendalam membuat Kei menolak bujukan apapun dari Sam untuk meredakan kesedihannya. Kei tahu Sam melakukan itu supaya Kei bisa lebih tenang.
Tapi bagaimana Kei bisa tenang, kalau ia tidak akan bisa bertemu lagi dengan kekasih hatinya, suami tercintanya.
Sam terlihat tidak sabar ketika melepas tangan Kei yang melingkar di pinggangnya, sebelum menggeser menjauh.
__ADS_1
Kei hanya menunduk, merasa kecewa karena Sam tidak bersedia meminjamkan pinggangnya untuk tempat Kei meluapkan air matanya.
Tapi tidak berselang lama Sam kembali berdiri di sebelahnya, dan Kei langsung mendongakkan kepalanya, tapi alih-alih melihat wajah Sam, Kei justru melihat wajah suaminya yang sedang tersenyum lembut padanya, dan tangisan Kei seketika kembali pecah,
"Ya Tuhan Hardhan.... Kau bahkan menghantuiku sekarang..." isaknya, "Teruslah menghantuiku seperti ini yaa... Aku rela... Aku sungguh-sungguh rela..." lanjutnya sambil memeluk pinggang Hardhan.
"Kau lebih rela melihat hantuku daripada melihatku hidup sayang?!" desis Hardhan dari sela-sela giginya.
"Tuhan... Ini nyata sekali... Pelukan ini... Suara berat Hardhan... Benar-benar seperti nyata... Aku sungguh-sungguh merindukannya..." gumam Kei sambil terisak.
Hardhan melepas lengan Kei dari pinggangnya, kemudian langsung menunduk dan menghapus air mata Kei di pipinya. Mata sendu Kei menatapnya dengan kesedihan yang terlihat jelas di sana, dan sesekali dadanya bergetar karena isakannya.
"Ah sayangku... Betapa rapuhnya kau saat ini... Aku akan membuatmu semangat lagi... Dan percaya kalau aku ini nyata adanya..." ujar Hardhan sebelum menangkup wajah Kei dan mencium bibirnya, memaksa bibir Kei membuka untuknya.
Dan ketika bibir Kei mulai terbuka, Hardhan langsung mel*matnya, meng*lum bibirnya dengan lembut, lidahnya menjelajah ke dalam mulut Kei, membuat Kei mengerang pelan lalu mengaitkan jemarinya di belakang leher Hardhan, dan menariknya mendekat.
Kei mulai bergerak gelisah karena gairahnya, Hardhan sudah hafal betul dengan bahasa tubuh Kei ini, ia meminta Hardhan melakukan lebih dari hanya sekedar ciuman bibir saja, ia ingin mencapai kepuasan bersama dengan Hardhan di dalamnya.
Tanpa pikir panjang lagi, dan tidak ingin segera melepas cumbuannya, dan sambil terus mencium Kei, Hardhan langsung membopong Kei lalu membawanya ke kamar mandi.
"Apa kau sudah gila Dhan?!" protes Sam tapi Hardhan mengabaikannya, ia sudah tidak peduli lagi dengan sekitarnya. Kalau saja disana tidak ada Sonya yang masih terlelap tidur, dan Sam yang akan segera Hardhan bereskan nanti, karena sudah berani membiarkan Kei memeluknya, Hardhan pasti sudah memuaskan Kei di ruangan ini, di tempat tidur Kei.
Hardhan mendorong pintu kamar mandi dengan kakinya hingga menutup. Lalu mendudukkan Kei diatas wastafel, kemudian membuka baju pasien Kei dengan model kimono itu, dan menurunkan celana dalamnya.
Hardhan menurunkan celana panjang dan celana dalamnya sekaligus sebelum menyatukan tubuh mereka.
"Ah... Ini baru namanya pulang ke rumah..." desah Hardhan lalu kembali mel*mat bibir Kei.
__ADS_1