
"Kita mau kemana Nyaa?" tanya Kei.
Tadi ia sedang menyiapkan makan siang ketika Sonya datang ke rumah dan langsung meminta Kei mengganti baju.
"Pakai ini... Cocok banget nih untukmu...." katanya sambil menyerahkan Off shoulder dress seatas lutut warna navy ke Kei.
"Kita mau kemana dulu?" tanya Kei untuk kesekian kalinya.
"Sudah... Ikut ajaa..." jawab Sonya sekenanya.
"Kamu di suruh Hardhan yaa?" desak Kei.
"Hmmmm... Kasih tau gak yaa?"
"Iiihh Sonya... Kita mau kemana?" rajuk Kei.
"Kalau di kasih tahu gak surprise lagi dong, Sudah buruan ganti..." seru Sonya sambil mendorong Kei ke ruang ganti.
Dengan enggan Kei mengganti bajunya dengan off shoulder dress pilihan Sonya tadi. Lalu merias tipis wajahnya, rambut panjangnya di biarkan tergerai. Kei mengganti tali kulit jam tangannya dengan warna yang sama dengan bajunya.
"Sudah... Apa lagi?" tanya Kei .
"Cakeeppp... Juy jalan."
"Nyaa sumpah kamu bikin aku penasaran deh..." suntuk Kei ketika sudah duduk manis di dalam mobil Sonya.
Sonya hanya tertawa, tidak memberi bocoran sedikitpun pada Kei kemana tujuan mereka. Sonya membawa mobilnya menembus kemacetan ibu kota, dan memasuki mall tempat mereka biasa berkumpul, mall di sebelah kantor Hardhan.
"Ya ampun Nya... Mau makan siang bareng saja pakai acara nyulik aku segala. Kan tinggal telepon nanti juga aku datang." gerutu Kei.
Dan sekali lagi, Sonya tidak menjawab hanya tertawa, membuat Kei semakin suntuk. Setelah meninggalkan kunci mobil ke petugas valet parking, Sonya kembali menarik tangan Kei dan membawanya memasuki mall.
Mereka memasuki sebuah kafe dua lantai dengan desain interior yang unik dan dekorasi yang tepat, secara keseluruhan kafe ini terlihat menarik dan instagrammable.
Tapi ada yang salah dengan kafe ini, karena etalase kafe ini terlihat kosong, tidak terisi sama sekali. Hanya etalasenya saja yang kosong, selebihnya rak-rak pajangan dan kitchen set di belakang etalase sudah terisi dengan peralatan yang pasti di perlukan untuk kegiatan sehari-hari di cafe ini. Dan kafe ini terlihat kosong, tidak ada satu pun pelayan atau tamu yang terlihat.
__ADS_1
Kei menatap Sonya bingung, dan Sonya hanya menyeringai lebar, lalu menarik Kei ke lantai atas kafe ini. Ternyata di lantai dua sudah berbaris chef, barista, waiter, waitress sampai security, mereka langsung membungkuk hormat ketika Kei sampai di ujung tangga.
"Selamat datang nona Kei..." sapa mereka bersamaan.
Kei semakin bingung, dan lebih bingung lagi ketika melihat suaminya yang sedang jalan menghampirinya. Bibir keras Hardhan membentuk senyum samar.
"Nah... General Manager kita sudah datang, silahkan kalian perkenalkan diri." seru Hardhan sambil merangkul Kei.
Dan mereka langsung memperkenalkan diri mereka ke Kei, dari mulai chef sampai ke security.
"Hardhan... Ini maksudnya apa?" tanya Kei bingung.
"Kafe ini milikmu sayang..." Hardhan menggandeng lengan Kei, mengajaknya mengeksplorasi kafe ini.
"Benarkah?!"
"Aku tahu kau sangat ingin memiliki kafe sendiri, tempat kau menyalurkan hobi dan bakatmu." jawab Hardhan lalu mencubit hidung Kei "Dan kau berniat membuka toko kue kecil-kecilan saat kau berniat kabur meninggalkanku..." lanjutnya.
Kei memicingkan kedua matanya ke Hardhan "Apa Sonya yang memberitahumu?"
"Itu dulu... Sekarang keinginan terbesarku sudah berubah..." balas Kei.
Hardhan menghentikan langkahnya, lalu memegang pundak Kei dan menunduk menatap Kei. "Apa keinginan terbesarmu saat ini?" desak Hardhan.
"Haruskah aku memberitahumu?" goda Kei.
"Oh harus... Kau harus memberitahuku sekarang juga... Atau aku juga akan memojokkanmu dengan cara yang berbeda..."
"Keinginan terbesarku saat ini adalah, menghabiskan waktu bersamamu seumur hidupku." ujar Kei sambil tersenyum manis, senyum yang selalu berhasil memikat Hardhan.
Hardhan membawa Kei ke pelukannya, "Ah sayangku... Itu juga merupakan keinginan terbesarku..."
"Terima kasih untuk kafenya... Aku sangat menyukainya. Aku pasti betah kerja di sini..."
"Kau tidak boleh bekerja keras, dan kau hanya boleh mengawasi dan mengarahkan karyawanmu saja. Aku sudah mempekerjakan chef terlatih untukmu, kau tinggal menuangkan idemu padanya, dan biarkan dia yang mengerjakannya."
__ADS_1
"Iya sayang..."
Hardhan kembali membawa Kei berkeliling lagi.
"Ini ruang kerjamu..." katanya lalu mendorong Kei masuk, sampai ke rak buku lalu mengungkung Kei.
"Hardhan... Nanti ada yang masuk..." seru Kei panik.
Hardhan menyeringai jahil, lalu tangannya mendorong salah satu buku hingga terdengar bunyi klik, dan tiba-tiba saja rak buku yang Kei senderin bergerak ke belakang, Kei mungkin saja akan jatuh terlentang kalau tangan Hardhan tidak sedang merangkul pinggangnya.
"I... Ini apa?" tanya Kei panik.
"Ruang rahasia..." bisik Hardhan di telinga Kei, lalu kembali mendorong Kei masuk. Dan pintu kembali tertutup ketika mereka sudah di dalam.
Kei ternganga melihat dalamnya, ada tempat tidur, sofa, televisi dan juga kamar mandi.
"Kamu tidak perlu membuang-buang tempat hanya untuk ini sayang..., lebih baik perbanyak ruang untuk pengunjung nanti."
Hardhan mengangkat bahunya, "Standar keamananku akan tetap ku terapkan dimanapun kau berada. Hanya untuk berjaga-jaga, dan memastikan istriku memiliki tempat berlindung ketika ada keadaan yang di luar kendali. Kau lihat tombol berwarna merah itu..." Hardhan menunjuk ke tombol bulat berwarna merah yang berada di samping pintu, dan Kei mengangguk.
"Ketika kau menekannya, pintu itu akan terkunci otomatis dengan kunci ganda, yang tidak akan bisa di buka dari luar dengan granat sekalipun, dan langsung mengirim sinyal darurat ke handphoneku dan Alex. Ruangan ini anti api dan juga anti peluru."
Kei terharu dengan perhatian yang begitu besar dari suaminya, lalu ia maju dan memeluk Hardhan. "Terima kasih sayang... Kamu memang suami yang penuh pengertian... Apa karyawan lain tahu tentang ruangan rahasia ini?"
"Tidak ada yang tahu... Tidak satupun sayang."
"Tapi kalau ada sesuatu yang buruk, aku tidak ingin menyelamatkan diriku sendiri, aku ingin semua karyawanku juga selamat."
Tawa Hardhan pecah, "khas dirimu sekali Kei, selalu memikirkan orang lain. Kau boleh membawa masuk semua karyawanmu untuk menyelamatkan diri. Tapi sampai saat itu terjadi, kau tetap harus merahasiakan ruangan ini... Ok."
Kei mengangguk di dada Hardhan, "Jadi kapan aku sudah mulai bisa kerja boss?" goda Kei.
Hardhan melepas pelukannya dari Kei, lalu memegang dagu Kei dan mengarahkan wajahnya ke Hardhan, "Kau sudah boleh mulai kerja sekarang sayang... Aku juga ingin mencoba tempat tidur baru itu... Apakah kenyamanannya sesuai dengan harganya..." balas Hardhan sambil tersenyum jahil.
Jemari tangannya meluncur dari leher Kei ke bahunya yang terbuka, "Aku senang kau memakai dress ini... Aku hanya tinggal menurunkannya seperti ini..." dengan sekali tarik, dress Kei sudah turun ke mata kakinya, membuat Kei memekik kesal, "Hardhaann...."
__ADS_1